Tampilkan postingan dengan label Scania K410. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scania K410. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2020

Ternyaman dan Termurah di Jalurnya | Jakarta - Surabaya


Assalamualaikum, selamat datang kembali di blog saya setelah sekian lama tidak posting cerita perjalanan. Pada postingan ini dan beberapa postingan berikutnya, saya akan membagi cerita perjalanan yang saya lakukan sebelum masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tepatnya pada tanggal 1 Maret 2020. Yaaaa memang pada saat itu Covid-19 sudah tiba di NKRI tetapi masih belum ada pembatasan apapun meskipun saya ada sedikit khawatir terkena pandemi tersebut mengingat perjalanan saya ini akan singgah dan melalui salah satu daerah pertama yang diberitakan terdampak Covid-19.

Pandemi Covid-19 ini juga membuat cerita perjalanan ini harus molor 2 bulan lebih karena peralatan untuk nge-blog saya tertinggal dan saya gak bisa ambil karena Covid-19 ini. Jadi, saya harus pakai aplikasi Word di Android agar cerita ini tetap bisa di posting entah bagaimana. Kemungkinan cerita di keseluruhan perjalanan ini bisa berbeda dari cerita-cerita sebelumnya ditambah ada sedikit lupa karena umur perjalanan saya yang sudah lebih dari 5 bulan.

Pada awal Maret lalu saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan menuju kota yang pernah saya datangi 3 tahun yang lalu dan ini merupakan yang kedua. Kota tersebut menjadi destinasi saya karena yaaaa........ceritanya sama seperti perjalanan pertama pada 3 tahun yang lalu. Pada perjalanan ini terdapat perbedaan dibanding 3 tahun lalu.

Perjalanan saya kali ini dimulai dari calon pensiunan ibukota negara menuju kota Pahlawan dengan armada yang sudah saya incar, termasuk jadwal keberangkatannya dari Barat menuju Timur. Armada yang menjadi target utama dari keseluruhan perjalanan ini adalah Harapan Jaya Avante D2. Armada ini spesial karena tarif perjalanan yang murah dibanding kompetitor dan kursi yang menggoda untuk diduduki. Pemesanan tiket saya lakukan via RedBus karena perjalanan ini bertajuk touring online. Tarifnya 250.000 + 20.000 (biaya admin) – 90.000 (kode promo) – 25.000 (RB Wallet). Jadi, saya hanya membayar 155.000 untuk perjalanan ini. Sungguh harga yang membuat senyum. Tarif normal 250.000 pun sudah worth it buat saya.

 

Minggu, 1 Maret 2020

 

Perjalanan dimulai dari rumah menuju halte CBD Ciledug dengan transportasi daring.

13:26 Perjalanan menuju Indonesia bagian Tengah dengan bus dimulai bersama TJ 424 (Hino RK BBG balutan New Armada) dari halte CBD Ciledug. Alhamdulillah sekarang koridor 13 sudah upgrade besar-besaran dari segi armada. Sekarang rute 13, 13A, 13C, 13E diisi Scania K310iB 6x2 milik MYS. Yap, RK CNG pergi bersama MB 1526 NG dan 1626 NG serta armada terbaik, si MB 2542.

14:05 Mulai naik jalan layang Koridor 13. Untungnya sih penumpang engga penuh kaya di jam berangkat kantor, jadi gak ngeden dan keong pas nanjak.

14:18 Transit halte Seskoal untuk pindah ke koridor 13B dan dapet TJ 339. Sembari nunggu 13B yang masih agak jauh, saya isi kebutuhan perut dulu, lumayan buat mengusir bosan.

Sayang teramat sayang, beberapa hari sebelum saya melakukan perjalanan, TransJakarta meliburkan koridor 13F (Ciledug – Kp Melayu) saat hari libur. Alhasil, jadi agak muter naik TJ ke Pulo Gebang.

14:43 Transit di halte Pancoran Barat untuk pindah ke koridor 9. Saya pilih naik bus yang selanjutnya, karena bus terdekat langsung diserbu dan bus yang belakangnya pakai Volvo. SAF 050 menjadi pilihan saya menuju Cawang.

Harus diakui, suspensi udara Volvo memang paling nyaman daripada merk lain. Bagi commuter yang langganan pakai TransJakarta paling bisa merasakan ini karena TransJakarta punya beragam sasis. Hanya saja raungan mesin dari Volvo B11R ini paling gak enak dibanding dengan Scania K310 dan MB 2542.

14:59 Di halte Cawang UKI, saya pindah naik L7. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu MYS 18116 (Scania K310) merapat. Sebenarnya bisa sih transitnya di Cawang BNN, males naik-turun tangga aja hahaha.

15:17 Setelah ga ada penampakan sasis premium di jadwal, koridor 11 harus saya jalani bersama PPD 255 Hino RK8 dari Kampung Melayu menuju Pulo Gebang.

15:47 Tiba di Terminal Terpadu Sentra Timur Pulo Gebang.

Karena ini kedua kalinya saya ke PG dan pertama tanpa shuttle dan atau bimbingan dari pihak PO, jadi saya dibuat bingung oleh bangunan besar ini. Saya pun harus memainkan mata untuk mencari letak agen Harapan Jaya agar tidak budeg ditanya terus sama agen-agen PO lain. Setelah ketemu lokasi agennya, saya lapor dan kita harus memberi tahu kode atau kasih aja e-ticket nya. Tiket ala HarJay sudah dicetak agen dan saya dipersilakan menuju ruang tunggu keberangkatan. Untungnya sih jam 4-an sore udah boleh naik sama petugas. Jangan lupa bayar retribusi ya. Eh masih bayar yah, terminal BRPS Pekanbaru aja udah lama gratis hahahaha.

Tiba di atas ternyata armada belum parkir. Pakiran sudah dihuni SinJay, Haryanto, Shantika, dll. Eh bentar, itu HR tujuan Kudus udah parkir. Apa gak sayang mesin dan solar yah? Soalnya kayanya mesinnya nyala, sementara jam keberangkatan masih lama, habis Maghrib.

17:10 Sinar Jaya Double Decker (1 DD) tujuan Surabaya berangkat. Ini armada masih cukup fresh di lini Surabayaan pada saat itu.

Masuk ke dalam Avante D2, ternyata ada coffee maker di tempat pada umumnya, dekat tangga dan toilet. Di dek atas, memang tidak terlalu tinggi sehingga kalau anda yang punya postur tubuh tinggi harus nunduk kalo gak mau mentok atap.

Kursi HAI dari Rimba Kencana yang dipakai Harapan Jaya pada unit ini boleh dibilang mewah dan nyaman. Busa tebal dan kursi yang lebar serta auto mendelesep bikin perjalanan jadi nyaman.

17:41 Avante D2 mulai diberangkatkan. Keberangkatan D2 ini sedikit terganjal dengan insiden pintu depan sebelah kiri yang bermasalah karena saat mundur dari peron pemberangkatan, pintu D2 ini tidak ditutup dahulu. Alhasil, crash dengan beton dan pintu sulit tertutup. Aduhhh, emang gak proper sih jarak atau ketinggian beton di mana ban bus berada dan beton peron.

Keluar terminal dan menyusuri tol JORR. Situasi tol pada saat itu sepi. Begitu pula dengan Simpang Cikunir yang lengang padahal ini merupakan titik jenuh lalu lintas kendaraan. Semoga tol JORR W2 (Cilincing – Cibitung – Cimanggis) bisa mengurangi kepadatan di Cikunir.

18:03 - 18:37 Agen Bekasi Timur. Setengah jam lebih berhenti di sini, cukup buang waktu. Oh iya, ini tempat keberangkatam terakhir bagi SB 04. Situasi di Bekasi Timur saat itu juga boleh dibilang cukup lengang.

Okupansi pada saat itu tidak mencapai separuh dari jumlah kursi yang tersedia, terutama di dek atas. Kalau di dek bawah sih rame karena ada satu keluarga dan satu penumpang (bukan anggota keluarga tersebut). Karena di dek atas sepi, jadi penumpang di sebelah saya pindah ke kursi yang kosong dan saya mau kuasai 2 kursi pun agak sulit karena bentuknya yang tidak mendukung untuk menguasai dua kursi. Kalau kursi HAI yang dipakai NPM bodi SR-2 HD Prime sih masih bisa dan kursi dari pabrikan ternama lain pun masih cukup bisa.

18:54 ex GT Cikarang Utama, yang sekarang menjadi Candi dan pernah menjadi saksi kepadatan kendaraan terutama saat Mudik Lebaran.

Saat melintas di tol Japek, terasa memang perubahannya. Terakhir saya lewat sini belom ada tol layang. Marka jalan pun jadi berantakan karea tiang-tiang lebar yang menyangga tol layang ini. Kondisi jalan atau aspal pum boleh dibilang cukup buruk karena banyak lubang (walaupun tidak dalam) dan bergelombang.

19:33 GT Cikampek Utama, yang menjadi pengganti Cikarang Utama.

19:58 Melewati Rest Area KM 102. Terlihat RM Taman Sari yang sepi karena sudah ditinggal beberapa armada dan PO.

Setelah beberapa jam di dalam bus, saya mulai bisa menilai. Salah satunya adalah suara-suara yang muncul dari komponen-komponen bodi bus yang renggang. Dashboard depan juga terdapat celah dengan kaca atas sehingga membuat earphone saya terjatuh dan kesulitan untuk mengambilnya. Sikat gigi jadi senjata saya untuk mengambil earphone saya yang terjatuh hahaha. Satu lagi, lampu LED yang ada di celah antara atap dan kaca tidak dimatikan oleh kru, jadi mengganggu mata. Yaaa positifnya sih saya bisa melihat posisi kaki, tas, leg rest, serta situasi di sekitar saya.

20:10 Overtake 3 Gumarang Jaya Pariwisata & 1 Sinar Jaya.

20:16 Di overtake rombongan Gumarang Jaya tadi hahaha. Sepanjang perjalanan menuju Kota Pahlawan, hanya GT itu lah yang menjadi lawan main karena SB 04 ini berangkat pas jam nanggunh dan bukan hari ramai.

20:24 GT Cikedung. Pertanda perut akan dipenuhi kebutuhannya.

20:25 Bersilangan dengan Sinar Jaya DD Surabayaan yang selesai servis makan.

20:28 - 21:04 RM Singgalang Jaya, Cikamurang. Ada Medali Mas 1836, Prayogo, dan Agra Mas tujuan entah ke mana yang melakukan servis makan.

Situasi RM SingJay saat itu sepi. Langsung menuju lapak servis makannya HarJay yang ada di pojok. Menu saat itu boleh dibilang biasa aja, gak spesial alias standar sekali. Nasi hangat, bihun gorengnya lumayan, kentang balado yang gak fresh, ayam cukup keras, sayur sop yang membantu gairah makan, dan sambal ijo yang enak. Anjay, masa yang enak cuma dan malah sambal ijo hahaha. Pelengkap makan ada kerupuk yang udah gak terlalu renyah, semangka gak fresh karena gak dingin hehehe, dan teh gurih. Teh gurih? Iya, tau lah kalo teh manis di RM manapun di sepanjang pantura pasti ada gurihnya karena ada rasa asinnya sedikit hahaha.

Saat keluar RM menuju GT Cikedung, dibagikan kotak snack berisi roti dan air mineral kecil. Lumayan lah ada snack. Ini menjadi pengganti servis makan pagi di RM Duta, Ngawi. Ya, sebelumnya SB 04 ada makan pagi dan akhirnya diganti snack karena menghemat waktu perjalanan sehingga bisa sampai Surabaya gak kesiangan. Maklumlah, saingannya, terutama Damri, non-stop Tol Trans Jawa sampai Surabaya. Apalagi HarJay ini masih belum bisa menyamai okupansi SinJay dan Damri di lini Surabayaan meskipun HarJay sudah terkenal di Jawa, terutama Jawa Timur akan kenyamanannya.

21:09 GT Cikedung.

21:45 GT Palimanan.

Setelah kenyang makan, ini waktu yang cocok untuk memejamkan mata. Hanya saja ada yang sedikit mengganggu, yaitu AC yang kurang dingin. Pas dinginnya, tapi gak sedingin standarnya bus-bus malam. Di atas kepala juga ada USB port charger walaupun belum bisa fast charging untuk smartphone, jadi butuh waktu lebih lama. Sayangnya lagi kelemahan dari USB port charger di atas kepala ini saya bingung taruh hp saya di mana. Jadi, saya selipin hp saya di temat pengunci gorden di tiang rangka bus. Untungnya ada aja ide atau celah untuk taruh hp biar gak dipegang terus.

23:58 Jembatan Kalikuto.

 

Senin, 2 Maret 2020

 

00:00 GT Weleri.

Yahhhh ternyata mampir Sari Rasa. Buat saya sih ini buang-buang waktu. Kalau mau bersaing dengan Sinar Jaya dan Damri unggul dalam waktu tempuh harusnya sih gak pakai mampir di sini. Tapi untuk perjalanan saya kali ini, okelah. Setidaknya sampai Surabaya gak kepagian.

00:11 - 00:18 RM Sari Rasa. Di sini untuk kontrol saja. Hhhhh buang-buang waktu.

00:27 GT Weleri. Tuh kan, sekitar 30 menit terbuang untuk kontrol di Sari Rasa. Kalo kontrol ini dihapus, jadwal keberangkatan bisa mundur dan para PJKA jadi lebih berminat naik SB 04 yang worth it ini.

00:47 GT Kalikangkung.

01:12 - 01:26 Rest Area KM 429. Terbangun saat SB 04 isi solar di sini. Kenapa gak kontrolnya di sini aja ya? Kan sekalian isi solar atau isi solanya bisa di sebelah Sari Rasa aja. Hhmmm......

02:23 Terminal Tirtonadi. Ya, masuk Tirtonadi karena ada penumpang yang turun. Mungkin karena bukan hari ramai, jadi bisa angkut penumpang Solo.

02:32 GT Gondangrejo. GT ini kalo gak salah letaknya lebih dekat ke pusat kota Solo dibandingkan dengan GT lainnya di sekitaran Solo.

Saat di Solo badan agak lelah dan tidur walaupun sesekali terbangun sampai ke Surabaya. Lagipula, perjalanan lewat Tol Trans Jawa ini memang membosankan dibanding jalur biasa. Jalan tol ini lebih sepi dan gelap, jadi percuma juga melek. Terlebih lagi kaca atas Avante D2 ini kaca filmnya gelap. Memang bus yang cocok untuk istirahat.

05:00 GT Warugunung. Artinya mulai persiapan untuk turun karena sebentar lagi akan sampai di tujuan akhir.

05:10 - 05:17 Pool Medaeng bersama SB 03 dari Ciputat berbodi Avante HDD dengan Hino RN kelas VIP. Harjay Surabayaan lainnya ialah SB 05 dari Bitung kelas Executive. Kondisi pool ini lebih cocok dibilang parkiram bus atau gudang bus karena kondisinya. Mungkin tempat ini dulunya bekas tempat atau bangunan entah apa tau. Kayanya sih gitu dari yang saya liat, soalnya gelap juga mau liat keluar.

05:13 Melintas Rosalia Indah Exe Plus Scania. Ini bus sepertinya berangkat lebih awal dibanding SB 04. Karena setau saya Rosin dari Barat ke Surabaya berangkat jam 13:30.

05:19 SPBU Medaeng. Eh isi solar dulu. Kayanya Harjay gak menganut isi solar penuh ya alias secukupnya saja.

05:25 Akhirnya tiba dan turun di Terminal Purabaya, Bungurasih.

Selesai sudah perjalanan saya bersama SB 04. Ke mana lagi saya selanjutnya? Tunggu saja ceritanya di postingan-postingan selanjutnya.

 

FYI ajah. Sinar Jaya Suites Class melintas di Medaeng jam 05:49. Udah gitu ajah, gak ada komen.

 

DETAIL BUS

 

Bus: Harapan Jaya (PT Harapan Jaya Prima)

Nomer plat bus: AG 7514 US (New Bintang Pentas)

Jurusan: Jakarta – Surabaya (SB 04)

Tarif: 155.000 via RedBus (tarif normal 250.000)

Nomer kursi: 1A

Jumlah kursi: 34 + 6 (Super Luxury) + 2 (Sleeper)

Merk kursi: Rimba Kencana

Sasis: Scania K410IB

Bodi: Avante D2 (karoseri Tentrem)

Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, reclining seat, leg rest, bantal, selimut, USB port chsrger, coffee maker, servis makan, snack, smoking room.

Waktu tempuh: 11 jam dan 44 menit

 

 

PENILAIAN

 

+ Pembelian online mudah dan dilayani dengan baik dan ramah

+ Tarif termurah dan ternyaman

 

- AC tidak terlalu dingin

- USB port charger belum support fast charging di hp saya. Tapi okelah, setidaknya ada.

 

Senin, 17 September 2018

Perdana naik Scania K410 Jetbus 3 SHD dan Panoramic

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


PERHATIAN!!! Sebelum membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring sebelumnya, Pekanbaru - Medan - Toba Samosir  dan  Etape Medan - Aceh - Sabang  . Terima Kasih


BANDA ACEH - MEDAN

Setelah kembali menjajaki pulau Sumatera, saya langsung ke halte Trans Koetaradja. Saat bus datang, langsung diserbu dan bus tidak langsung jalan, mungkin menunggu waktu jalan sesuai jadwal. Saya turun di Masjid Raya dan istirahat, sholat, dan mandi di sana. Urusan makan, saya makan mie (mie Aceh) di ruko depan Masjid. Harganya 8000 saja plus 7000 untuk teh tarik dingin.
Selesai sholat Maghrib berjamaah, saya langsung ke halte nunggu Trans Koetaradja. Sayangnya gak ada yang lewat, haihhh payah lah, masa belom jam 19:30 udah gak ada. Akhirnya saya naik Go-Jek aja.
19:55 saya tiba di seberang terminal Batoh. Langsung ke loket buat laporan dan ke Musholla untuk sholat Isya.
Abis sholat Isya langsung ke area keberangkatan. Pas udah di depan bus, saya di telpon petugas kontrol mengenai posisi saya. Lahhh, yang tadi di loket berarti siapa yak. Langsung naik aja. Dapat nopolnya 7801, yang sepertinya ini batangan pak Isa, mantan driver Pusaka Sniper 7717 yang terkenal entuuu, wah mantap lah. Eh sebelumnya, pas sampe di terminal, nampak si Sniper 7717 keluar, tumben udah gerak beberapa menit sebelum jadwalnya jam 20:00.
Di sini terjadi masalah, saya booking nomer kursi 24 yang posisinya di sebelah kiri, seperti yang saya liat di denah kursi. Kenapa pas naik ke dalam malah posisinya di sebelah kanan yang leg roomnya sempit. Wahhh mas alahh. Pas petugas kontrolnya di dalam, saya izin untuk pindah ke kursi nomer 25 (6A), atau kursi baris kedua setelah pintu tengah dan toilet. Soalnya masih banyak kursi kosong, agak aneh yaa. Hari Minggu kok masih banyak kursi kosong. Leg room di sini legaa abisss. Ada USB charger juga loh di besi bawah bagian belakang bawah di antara dua kursi. Mantap, baterai always full lah.
leg room seat 21-22


Leg room sebelah kanan. Seat 23-24
20:23 keluar terminal Batoh. Gak seperti bus lainnya yang ngetem di depan, AW 7801 langsung gas pol. Tapii sayangnya, malah ngetem juga setelah simpang 3 Batoh. Haihhh. Musik di dalam bus sudah diputar, playlist awal lagunya Nissa Sabyan.
20:43 jalan lagi setelah ngetem 15 menitan. Pas ngetem dibagiin snack juga, isinya bakpao isi kacang ijo dan air mineral Cleo 250ml. Hmmm anti-mainstream. Air mineral gelas paling mevvah hahaha.
21:14 salip Sanura Scania K360 di Kuta Cot Glie, Aceh Besar setelah ngekor cukup lama semenjak selesai ngetem tadi.
21:22 Seulimeum.
21:39 salip PMTOH 7314 HDD di Seulawah setelah ngekor dan tempel cukup lama. Memang gesit-gesit 1626 HDD-nya PMTOH. Oh iya, AW 7801 di Seulawah ini memang benar-benar digeber. Batangannya yang dulu bawa 360HP dan sekarang dikasih mesin yang 50 HP lebih besar dan tanpa speed limit memang gak sungkan untung gas pol. Sayangnya, cara bawanya agak kurang nyaman, apalagi suara mesin cukup terdengar jelas. Cara bawanya suka gas dan suka rem sambil mainin retader, kurang nyaman lah. Tapi buat yang suka “aksi yang bikin melek” sih kayanya enak-enak aja.
22:44 melewati terminal Sigli.
22:58 Beureuneun.
23:16 overtake Harapan Indah Jetbus HD 1626 di Bandar Baru, Pidie Jaya.
23:20 isi solar dulu, masih di daerah yang sama. Ini lah gak enaknya KAP dan PMTOH, isi solar di pertengahan perjalanan. Gak kaya Sempati Star atau Putra Pelangi dan PO lainnya yang gak perlu isi solar di tengah perjalanan karena sudah diisi cukup sebelum berangkat.

Senin, 10 September 2018
00:12 akhirnya kursi di sebelah saya ditempati setelah naik penumpang di depan terminal Junieb, lepas Pidie Jaya.
01:43 Lhokseumawe.
04:30 melewati terminal Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Nah kan, tidur lumayan lama juga. Maklum lah, seat cukup nyaman, leg room lega, AC dingin, dan selimut hangat memang cocok buat bobomania. Kalo nyaman sih biasa aja, soalnya posisi duduk saya ada di atas ban dan suara mesin cukup terdengar.
05:57 – 06:15 menunaikan kewajiban untuk sholat Shubuh di Masjid Darus Ar Rugayah, Tanjung Pura bareng Anugerah JB 1836, Harapan Indah Jetbus HD 1626, dan Sempati Star Non Stop Panoramic Scania K410. Haee Non Stop. Haee  juga HI 1626 yang ada stiker 19:30, yang mungkin jadwal keberangkatannya. Selepas Shubuh saya cukup banyak tidur ayam.
07:51 terminal Pinang Baris, Medan. Cukup lama di sini, entah ngapain, ribed dah Dishub. Pusaka Skyliner, Harapan Indah O500R-ne 1626, dan New Aceh Tengah aja sampe ninggalin AW 7801.
08:09 akhirnya finish di loket Kurnia jalan Gagak Hitam. Lumayan juga jalan di kota Medan ini, agak agak macet.
 
Overall, cukup puas karena naik armada yang masih cukup fresh dengan kursi Aldilla terbaru yang cukup nyaman, walau masih lebih nyaman Rimba Kencana-nya Sanura. Cuma agak kecewa aja soal waktu tempuh yang di atas 11 jam 30 menit. Gak seperti ekspektasi dengan driver yang terkenal itu. Tapi mantap lah. Rekomen.



DETAIL BUS

Bus: Kurnia (PT Kurnia Anugerah Pusaka)
Nomer plat bus: BL 7801 PB
Kelas: Patas SCANIA "AW Series"
Jurusan: Banda Aceh – Medan
Tarif: 210.000
Nomer kursi: 25 (6A)
Jumlah kursi: 32 + 2 di smoking room belakang
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetbus 3 SHD (karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, snack, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, colokan listrik, WiFi, smoking room.
Waktu tempuh: 11 jam dan 46 menit.


PENILAIAN
+ leg room lega
+ USB charger nyala terus tanpa henti

- Waktu tempuh kurang memuaskan


MEDAN - BANDA ACEH

Selepas saya tiba di Medan, saya beranjak menuju loket Sempati Star untuk beli tiket Double Decker ke Pekanbaru. Kalo yang jalan bukan DD, beralih ke Medan Jaya lagi dengan beli via redBus, biar ada potongan harga hehehe. Tiba di loket/pool Sempati Star, langsung ke bagian ticketing. Beli tiket ke Pekanbaru, tapi saya juga tanya apa hari ini / nanti yang jalan ke Pekanbaru itu Double Decker dan apa pasti? Mbak-mbak ticketing mengiyakan Double Deckernya jalan ke Pekanbaru. Fix lah. Bayar tiket 240.000, lah saya kira 230.000. Seatnya saya dapat di bagian depan, nomer 4. Mantap. Hebatnya langsung ditulis nomer plat busnya, BL 7998 AA. Saya langsung searching, ternyata Scania K410 tanpa stiker Super VIP.
Aktivitas saya sembari menunggu jam keberangkatan saya isi dengan leyeh-leyeh sambil nge-charge dan WiFi-an di ruang tunggu VIP nya Sempati Star, serta diselingi dengan sholat dan makan. Mau jalan atau beli oleh-oleh pun malas karena keuangan sudah cekak. Ini pun kalo mau irit lagi naik Medan Jaya, tapi karena pengen menikmati Lintas Timur Medan – Pekanbaru naik Double Decker, yo wis lah.
Di tiket tertulis keberangkatan jam 18:00, pas jam 5 saya coba laporan masih disuruh tunggu. Jam 6 kurang saya laporan malah ditulis nomer plat bus yang baru, yaitu 7877 dan nomer 7998 dicoret. Wait, saya searching dulu, setau saya gak ada Double Deck dengan nomer plat 7877. Ternyata benar, 7877 adalah SHD Panoramic “Erdogan”, lah ini mah yang dari tadi siang tidur di SPBU samping loket. Saya tanya ke mbak-mbaknya, katanya si DD lagi ada kendala, lah tadi saya liat dengan mata saya sendiri kalo si DD 7998 lewat dan katanya “sama aja kok, tapi ini yang Super High Deck”. Kampret nih orang, pake ngajarin pula SHD itu apa, dikira gua bego kali. Udah lah kesal, dibikin makin kesal pula. Mau cancel dan coba booking Medan Jaya gak bisa. Pasrah aja lah. Salah satu orang di loket bilang kalo berangkatnya abis Maghrib. Hmmmm pertanda buruk.
18:15 BL 7877 AA “Erdogan”, Scania K410, Jetbus2+ SHD Panoramic parkir di loket.
Saya tinggal sholat dulu. Selesai sholat pun gak ada tanda-tanda bus akan diberangkatkan segera. Mesin bus masih mati.
19:11 keluar loket.
Gila, jam segini baru jalan. Putra Pelangi tronton aja yang jalan jam 6 dari Sunggal bisa sampe Pekanbaru jam 10, lah ini jam segini baru lepas landas. Gak bener. Udah gitu masih pula berhenti di depan loket. Aduhhh. Yaaa saya sih gak ngejar waktu, tapiii ya setidaknya lah.
Berjalan menuju jalan Sisingamangaraja melewati Ring Road. Pada saat itu kondisi jalan cukup ramai, mana banyak kena lampu merah. Oh iya, yang bawa bus ini petugas yang di loket tadi, yang kasih tau bus jalan abis Maghrib. Orangnya berbadan besar, kulit putih, dan berbahasa Aceh. Apa iya ini anak yang punya Sempati Star atau anak dari petinggi Sempati Star. Hhmmmm.... entah lah.
20:11 loket Sempati Star jalan Sisingamangaraja. Untuk cuma sekilas aja di sini.
20:21 melewati Polda Sumatera Utara.
Gak lama lewat Poldasu. Bus berhenti untuk naikin paketan. Paketan dari pick up full yang sepertinya berisi buah. Cukup lama masukkinnya karena banyak.
20:44 jalan setelah naikin paket. Lama cuy, 15 menit lebih kayanya.
21:26 GT Lubuk Pakam. Masuk tol, si Erdogan langsung speedo mentok. Tapi agak ngeri juga, terasa getarannya, gak kaya pas naik Medan Jaya, Makmur, atau Putra Pelangi. Entah ini efek jaring anti-atlet atau angin yang kencang dari arah berlawanan.
21:37 GT Perbaungan. Buset, bentar amat. Gegara paketan buah tadi nih.
21:56 jalan setelah turunin paket.
Gila, turunin paket lama juga. Benar-benar gak bisa diandalkan soal waktu. Oh iya, petugas yang bawa bus gak ikut lagi lanjut ke Pekanbaru. Setelah itu saya berusaha untuk tidur walau kaki sakit karena menggantung dan leg room yang suempittt.
Oh iya, di Kisaran atau Tebing Tinggi, lupa, Kisaran kayanya. Kursi di sebelah saya mulai ditempati yang punya.

Selasa, 11 September 2018
01:38 – 02:13 istirahat di RM Nana, Asahan bersama 3 unit Putra Melayu, lah baru tau ada PO ini. Ada juga Sempati Star Jakartaan 1526 HDD Super VIP yang tiba dan jalan duluan, serta yang Patas VIP yang datang belakangan. Yailah, jumlah seat sama aja pake beda nama kelas.
05:45 Kota Pinang. Bukan maennn. Udah terang masih di Sumatera Utara.
07:02 menurunkan penumpang di depan Indomaret jalan Sudirman, Bagan Batu, Rokan Hilir, Riau. Berhubung penumpang ini turun, jadi saya pindah ke belakang saya biar agak lebih enak.
07:18 melewati RM Arowana, Bagan Batu. Sebelumnya sempat salip Putra Pelangi 1521 yang menuju Jakarta. Hmmm ternyata keong juga pemain Jakarta ini.
08:56 Simpang Bukit Timah. Simpang yang memisahkan jalan menuju Pekanbaru dan Dumai. Kiri ke Dumai, kanan ke Pekanbaru.
10:09 melewati Hotel Grand Zuri, Duri. Biasanya sihhh, masuk Duri itu jam 6-an, lah ini mah jam 10 yang harusnya udah di Pekanbaru. Wkwkwkwkw
11:39 – 12:13 RM Tuah Sakato bersama Vircansa SR-2 HD Prime yang bawa rombongan SMAN 1 Padang Panjang ke SMAN 1 Medan untuk studi banding dan disusul Sempati Star yang menuju Jakarta. Ini SS Jakarta padahal jalan duluan loh dari loket. Saya di sini gak makan, malas alias ngirit hehehe, beli pop mie aja 8000.
13:08 Masjid Nurul Huda, Minyak Nasional alias Minas.
Kata teman saya, itulah alasan kenapa dinamakan Minas. Daerah ini dulu menjadi lumbung Minyak Nasional, dengan produksi terbesar di Indonesia yang kalo gak salah bisa produksi minyak lebih dari 400.000 barel per hari (kalo gak salah ingat loh ya). Dan kata Dosen saya, minyak di Riau ini terkenal dengan kualitasnya dengan nama Black Oil (kalo gak salah). Tapii ya itu dulu, sekarang minyaknya tinggal dikit. Makanya Chevron gak perpanjang kontrak.
13:40 Simpang Palas
13:53 terkena kemacetan sedikit karena perbaikan jalan atau pembetonan jalan di jalan Riau.
14:04 akhirnya saya turun di depan loket Putra Pelangi dan SAN atau di depan gerbang Stadion Utama Riau, tepat sebelum si Erdogan putar balik menuju loketnya.

Seleai sudah jalan-jalan saya sampai ke ujung Indonesia. Entah kenapa, trip atau etape terakhir ini selalu aja gak nyaman. Overall, kapok naik Sempati Star. Gak lagi-lagi. Ini aja naik karena incar DD. Hikmahnya? Perdana naik Panoramic.


DETAIL BUS

Bus: Sempati Star (PT Bintang Sempati Star)
Nomer plat bus: BL 7877 AA
Kelas:
Jurusan: Medan - Pekanbaru
Tarif: 240.000
Nomer kursi: 4 (1D)
Jumlah kursi: ±36
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetbus 2+ SHD Panoramic (karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC, TV, AVOD, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, colokan listrik, sekat depan.
Waktu tempuh: 18 jam dan 53 menit.

PENILAIAN

+ Perdana naik Panoramic

- Gila. 19 jam setara Tangerang – Malang.
- Leg room sempit
- Leg rest gak bisa full naik
- Kursi terlalu tebal, susah untuk direbahin
- Entah kenapa kursi ini kurang empuk, padahal kursi yang beludru seperti di DD yang pernah saya naikin waktu itu rasanya nyaman
- Gak dapat snack

Jalan-Jalan ke Sabang Naik Putra Pelangi Non Stop Hanya Bayar Setengah Harga

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Ini adalah postingan cerita lanjutan dari postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya berisi mengenai perjalanan ke Toba – Samosir yang dimulai dari Pekanbaru – Medan – Parapat – Samosir – Parapat – Medan. Jika belum membaca postingan sebelumnya, silakan klik Pekanbaru - Medan - Toba Samosir ini biar gak setengah-setengah bacanya. Jadi, saya akan lanjutkan kembali ceritanya.

MEDAN - BANDA ACEH 

Jum’at, 7 September 2018
Setelah turun bus Sejahtera di Simpang Amplas, saya naik angkot bernomer 64 menuju Simpang Ring Road, dekat Mall Manhattan dan loket / pool Sempati Star. Tujuan asli saya ya ke pool Putra Pelangi di jalan Sunggal. Karena saya gak tau angkotnya yang lewat situ, jadi yaaa naik angkot nomer 64 aja. Dari tempat turun nanti tinggal jalan kaki aja ke pool Putra Pelangi.
Setelah bayar ongkos 10.000 untuk turun di Simpang Ring Road, saya ke Masjid di seberang SPBU samping pool Sempati Star untuk sholat Ashar dan Maghrib dan diselingi makan siang yang dirangkap makan pagi dan makan malam. Selesai sholat Maghrib, saya jalan kaki ke pool Putra Pelangi yang juga sekaligus melewati loket-loket bus Aceh, seperti Kurnia, PMTOH, Sanura, New Aceh Tengah, Harapan Indah, ATLAS, dan New Pelangi.
±19:30 tiba di pool Putra Pelangi. Saya kira mah sebentar jalannya, 10-15 menitan gitu. Gak taunya lumayan juga, lebih dari perkiraan.
Sampai di pool, langsung ke loket untuk tukar tiket dengan menunjukkan bukti booking dari Traveloka berupa SMS, agak malas aja kalo kasih yang berupa e-ticket di e-mail. Proses cepat dan tidak ada masalah. Mantap josss, gua demen nih yang beginiii. Beli tiket secara online dan gak ada masalah sedikitpun. Oh iya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya sempat e-mail ke Putra Pelangi untuk mengkonfirmasi tiket pesanan saya yang saya beli melalui Traveloka. Tiket saya sudah dikonfirmasi. Tidak ada masalah. Rekomen lahhh.

Berhubung masih 1 jam-an lagi berangkat, nge-charge HP dulu lah. Oh iya, saya dapat armada dengan plat nomer BL 7548 AA “King of the Road”. Malam itu gak ada penampakan Jetliner Scania K410 yang kelas Executive dan Legacy SR-2 XHD Prime. Entah ke mana 2 bodi ini, mungkin jalan pariwisata.
20:46 King of the Road mulai menaikkan jarum speedometernya. Lepas loket jalannya gak langsung di gas pol, cenderung santai nyaman. BTW, driver pertama ini penampakannya beda dari driver Non Stop lain yang pernah saya liat. Udah agak berumur, terlihat dari udah banyak uban. Tapi ada nilai lebih dari driver pertama ini, yaitu soal lagu. Saya bahas ini di bawah.
Masalah interior sih gak ada masalah. Leg room lega, apalagi saya yang di tengah gini, pandangan ke jalan paling luas. Kursi masih oke lah, kayanya sih ini kursi bekas Non Stop sebelumnya yang pake MB 1626 atau MB 1836. USB charger berfungsi penuh. Cuma wifi aja yang gak nyala. Yahhh, penyakit bus kebanyakan lah.
21:16 Binjai. Hujan melanda Binjai malam itu. Cukup syahdu juga.
21:30 salip Putra Pelangi 7545 (MB 2542) dan Pusaka 7723 (F1 / Jablay) O500R 1836 yang lagi menepi. Lahh, itu dua bus keberangkatan jam 8 (20:00) masih aja di sini.
Di jalan, kru sempat berdiskusi mengenai insiden yang belum lama ini terjadi. Insiden tunggal di mana tronton 2542 berwarna merah terbalik belum lama ini. Dari yang saya dengar, si tronton ini terbalik entah pas atau setelah tikungan dan ditambah kondisi jalan yang licin/basah karena hujan. Kru 7548 bilang, biarpun punya anti-slip atau traction control, kalo jalan licin tetap aja gak boleh kencang, berbahaya, apalagi pas tikungan. Wah ngeri juga ya kalo dibayangin, pas tikungan jalannya di atas kecepatan rata-rata pas nikung ditambah jalan licin. Safety Riding, Guys.
22:00 mulai terjebak kemacetan di beberapa meter sebelum bundaran Stabat. Parah macetnya untuk ukuran jalanan Sumatera. Dengar dari driver pertama sih ini macet karena ada pohon tumbang. Gile yah, sampe begini. Ini macet sekitar 1 jam loh, entah lebih apa engga, soalnya saya tidur.
Pas beberapa menit setelah terjebak macet sih agak bosan juga, udah TV gak ada, AVOD gak ada, musik juga gak nyala. Pas ngerasa begitu, gak lama kemudian diputar lagu. Bisa pas yah. Untuk urusan playlist lagu di 7548, bukan maen dah, berkelas. Lagu yang diputar lagu Barat, ada yang instrumen, instrumen remix santai, dan lagu yang enak didengar lah walaupun lawas. Playlist yang sesuai dengan saya ini gak berganti sampai besok pagi. Mantap lah.
23:23 disalip Pusaka F1 dan selanjutnya disalip juga oleh Putra Pelangi 7545 di Tanjung Pura pas naikin paket.
Sepanjang jalan, driver pertama ini rasanya agak geram saya dibuatnya. Terlalu segan untuk menyalip, gak seperti Pusaka F1 yang saya naiki waktu itu yang cenderung arogan dan galak di jalan. Driver pertama 7548 ini, bagi saya, agak banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk salip kendaraan di depan, padahan ada ruang di arah berlawanan untuk menyalip. Yaaa biarpun kelas SE yang harus nyaman, gak gitu juga sih kayanya.
23:49 mlewati proyek pengerjaan jembatan. 7548 sempat lawan saat arah saat sepi dan masuk di belakang 7545.

Sabtu, 8 September 2018
00:00 Pangkalan Brandan. Gak lama, kress dengan 3 unit Sepakat Grup. Bukan bus, tapi truck. Ketiganya berbeda pabrikan, tapi gak ada satupun yang Scania. Ketiganya, yaitu UD Quester, Mitsubushi Fuso, dan Hino.
00:16 salip Kurnia kotak sabun alias Kurnia Cargo. Hmmm gak asik yah, salipnya bus Cargo, walau pake OH 1521 yang bisa gahar di jalan, yaa namanya juga bus Cargo. Gak kasih perlawanan berarti lah.
00:59 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
03:53 Lhokseumawe. Di sini ketemu Putra Pelangi 1626. Saya kira bakal kasih perlawanan, eh si 1626 malah menepi kaya ATLAS EvoGT ex Pandawa 87 dan PMTOH HDD.
03:58 aplusan alias pergantian driver. Selagi menepi ini, di salip ATLAS dan PMTOH yang tadi.
05:39 saya terbangun di Pidie, tepatnya (kayanya) di Jangka Buya, saat ketemu New Pelangi Jetbus 2, entah RK atau RN. Si NP ini kecepatannya udah di atas 100 kpj, akan tetapi berhasil disalip 7548 di kecepatan 120+ kpj. Nahh keluar juga speedo mentoknya. Mayan asik juga, mana abis salip NP, gak lama abis itu ada belokan.
04:39 Bireuen.
05:45 – 06:11 Masjid Besar At Taqarrub, Trienggadeng, Pidie Jaya. Melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim dan kewajiban bus Aceh. Ada New Pelangi yang tadi juga di sini.
06:25 melewati aktivitas yang cukup ramai di Pasar Lueng Putu, Pidie.
07:31 melewati Masjid Baitul Muttaqin, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Kress juga sama Anugerah O500R 1836 JB2 yang jadi angkatan pagi B.Aceh – Medan (kayanya).
Di Seulawah ini pun gak spesial kecepatannya. Masih lebih cepat 1836-nya Harapan Indah 7390 dan Puska 7723 yang pernah saya naiki sebelumnya. Agak greget juga sih. Jadi driver pertama dan kedua ini sama aja. Sama-sama santai. Tapi okelah, saya gak ngejar waktu. Lagipula naik SE kok. Shantai aeee.
07:44 SPN Seulawah.
08:38 menurunkan penumpang di bundaran Lambaro.
08:48 tiba di Terminal Batoh, Banda Aceh. Setelah turun bus, saya ke toilet dulu, abis itu beli tiket balik. Karena saya balik hari Minggu, jadi beli sekarang saja biar gak kehabisan tiket. PJKA time brooo.
Loket tujuan pertama saya adalah loket KAP Group. Saya masih berkeras untuk naik AW Series, dibanding naik Sanura dengan diskon 30% dari Easybook dan Putra Pelangi dengan diskon 10%, cashback 25%, dan potong saldo dari redBus. Di loket KAP, saya pesan Kurnia yang tronton Scania. Saya pilih nomer kursi 24 (5B), karena nomer ini berada setelah pintu tengah yang sekaligus di pintu tengah tersebut ada toilet dan sekat. Nomer kursi tersebut, dari yang saya lihat di FB atau IG dan tontondi Youtube, menurut saya punya leg room paling lega dibanding seat baris kanan maupun baris kiri sebelum toilet/pintu tengah.
Mengenai harga, yang saya tau dari grup FB Kurnia Group (KAP), kalo AW dari Banda itu 220rb, kalo dari Medan 240rb, dan juga kalo di Banda ini bisa nego. Makanya saya coba nego 200rb, tapi gak bisa, katanya ini mobil baru, gak berani kasih harga segitu. Mungkin emang saya aja yang gak jago dalam negosiasi. Deal harga tiket di angka 210.000. Yaaa oke lah, 210rb dapat Scania K410 bodi anyar Jetbus 3 SHD walau gak bisa 180rb kaya Sanura K410 sebelumnya hehehehe.
Selepas beli tiket, saya langsung ke halte Trans Koetaradja di depan terminal. Cukup lama juga nunggu BRT Aceh ini, masih mending Trans Metro Pekanbaru juga.
09:21 – 09:34 menuju Masjid Raya naik Trans Koetaradja koridor 2A (Blang Bintang – Pusat Kota). Okupansi BRT Aceh ini bagus loh, harusnya ada penambahan armada dan jadwal serta halte, karena armada, jadwal, dan halte saya rasa masih kurang banyak.
09:43 – 09:57 setelah transit di halte Masjid Raya, saya naik koridor 2B (Pusat Kota – Ulee Lheue). Rute yang dilewati cukup enak, lewat beberapa obyek wisata, salah satunya Museum Tsunami. Oh iya, awalnya saya kira naik Trans Koetaradja udah bayar, eh ternyata masih GRATISSS..... Mantap.
Turun bus, saya menuju loket yang sayangnya cuma buka 1 saja. Ternyata saya ketemu sama penumpang PPP 7548 tadi (kayanya), yang saya nguping sih rombongan ini ketinggalan kapal cepat karena telat sampai Banda Aceh, jadi beli lagi tiket kapal tapi yang kapal lambat atau Ferry. Saya sih emang maunya naik yang Ferry aja, biar murah. Eh tapiii gak murah juga sih, lah saya pilih yang kelas VIP (bukan ekonomi) yang harganya 58.000 + 2.000, jadi 60.000, sementara yang ekonomi cuma 27.000. Lah saya kan sesekali aja dan pengen istirahat juga di jalan, gak ada salahnya lah pilih yang harganya 2x lipat dari Ekonomi.
Kapal yang jalan saat itu KMP BRR, yang ukuran kapalnya lebih kecil dari kebanyakan kapal di Selat Sunda, tapi masih lebih besar dari kapal ferry di Toba-Samosir dan Ketapang – Gilimanuk. Kelas VIP ini pakai AC dan sofa. AC dingin, sofa empuk, tv ada tapi gak nyala, toilet ada 2, pelampung keselamatan lengkap, ada colokan listrik juga tapi di bagian depan. Waktu tempuh Ulee Lheue – Balohan (Sabang) saat itu 1 jam dan 50 menit. Berangkat jam 10:30 dari Ulee Lheue. Di tengah jalan, ombak terasa kencang, cukup bikin agak sakit kepala juga. Mungkin goyangannya lebih terasa karena kapal yang lebih kecil dari yang biasa saya naikin di Selat Sunda dan juga di sebelah Barat langsung menhadap Samudera Hindia sementara di sebelah Timur ada Selat Malaka.

Merapat di Balohan ternyata kapal harus putar dulu 180 derajat biar kendaraan keluar kapal engga jalan mundur, tetap jalan maju dan yang masuk duluan, keluar duluan. Keluar kapal saya langsung komunikasi sama pak Abdullah, yang punya rental motor yang saya akan pakai motor rentalannya di Sabang. Komunikasi via WA lancar, dan cepat tanggap, orangnya sering stay di pelabuhan untuk cari turis/wisatawan yang butuh rental motor. Biayanya 100.000 per hari, saya dapat Mio 125 (Matic, rental jaman now susah yang ada oper gigi hehehe), ada helm bawaan honda juga yang sudah tidak bisa di-klik hahahaha. Jaminannya, Cuma KTP kita yang di foto. Katanya kalo bailikin motor ke tempat di bawah pohon dekat pelabuhan. Sip lah.
Keluar pelabuhan, saya beli Premium dulu 1 liter seharga 10.000. Di sini gak ada Pertalite untuk eceran, kalo di SPBU ada kali yah. Di simpang setelah gerbang pelabuhan, saya pilih yang menuju Danau Aneuk Laot, sesuai papan petunjuk arah. Dannn seperti yang saya duga, karena saya orangnya gak terlalu tertarik dengan obyek wisata dan lebih suka menikmati perjalanan. Jadi, Danau Aneuk Laot ini cuma lewat aja, lagi pula saya pikir jalannya lewatin pinggir danau, gak taunya agak jauh lagi ke Danau-nya. Di jalan, cuma keliatan sedikit doang danau-nya. Dari sini saya langsung tembak ke Iboih.
Jalan di Sabang ini cukup asyik, seru, dan menantang buat saya yang biasanya cuma berkendara di jalanan kota. Jalannya mayoritas bagus dan banyak yang mulus. Banyak turunan dan tanjakkan, mulai tanjakkan letter S beruntun sebanyak 2 kali yang abis itu langsung tanjakkan panjang. Wah mantap juga nih jalan. Karena saya kalo naik motor itu santai dan menikmati perjalanan, indikator ECO di motor jarang mati, mati pun kalo di gaspol/geber pas tanjakkan. Di tengah perjalanan, saya khawatir sama bensinnya, jarumnya udah di dekat merah. Jadi, saya tambah lagi 2 liter. Pas udah nambah 2 liter, eh malah penuh. Eh dasar kampret, amperenya dablek ternyata. Tau gitu nambah 1 liter aja. Lagi pula motor matic jaman now mah irit.
Setibanya di kawasan wisata Iboih, bayar dulu retribusi 5.000, padahal di karcis cuma 2.000, pffttt. Karena belum jam 2 (14:00) siang, saya tembak lagi ke tugu KM 0. Jalanan kali ini tidak selebar tadi, tapi kalo udah dekat KM 0 udah lebar. Jalanan mulus, ada banyak turunan, tanjakkan, tikungan, dan turunan/tanjakkan panjang. Mantap kali lahhh.
Tiba di KM 0 ya gitu. Foto-foto sikit aja. Di depan tugu ini, langsung terhampar luasnya Samudera Hindia. Gak lama di sini, abis itu saya ke Musholla buat sholat Zuhur, tapi keran wudhunya gak keluar air, aihhhh. Sholat di penginapan aja lah. Parkir di sini bayar seiklasnya. Lalu, kalo mau beli baju dan pernak-pernik juga ada di sini.
±14:00 check in penginapan. Saya menginap di Iboih Bungalow. Pesan kamar di Traveloka dengan harga kamas 142.249 sudah dipotong diskon. Lokasinya di lokasi wisata Iboih. Depan penginapan atau seberang jalan sudah pantai dan nampak pulau Rubiah, lokasi tujuan untuk snorkeling. Saya dapat kamar di lantai paling atas, viewnya mantap, langsung pantai, laut, dan pulau. Indah sekali. Air lautnya berwarna biru, bahkan sampai biru muda terang. Fasilitas kamar ada kasur, bantal, handuk, kipas, dan colokan listrik, serta jendela. Ada balkon juga kalo mau menikmati pemandangan yang cukup indah. Kamar mandi di luar yes, di lantai dua, kamar mandi bersama. Karena saya lelah, saya tidurrr. Soal makan, saya beli nasi bungkus isi ikan seharga 18.000. Lebih mahal seribu dari makan dengan menu yang sama saat di Toba Parapat.

Minggu, 9 September 2018
09:45 setelah packing dan mandi, saya pamit check out. Saya juga diberikan kartu nama jika lain kalii mau snorkeling. Harga paket snorkelingnya 550.000 dengan minimal 4 orang kalo gak salah, masih bisa nego loh. Petugas sekaligus yang punyanya ramah loh. Sebelum gas motor, saya dikasih Aqua 600ml yang lupa dikasih pas baru masuk. Mayan lah, irit sikit hehehe.
Rute menuju Balohan yang saya ambil sekarang ini melewati kota Sabang, tidak motong lewat Danau Aneuk Laot yang jalannya relatif sepii kaliiii. Di kota Sabang, saya sempat muter-muter karena bingung jalannya. Overall jalanannya bagus. Mau mampir sana-sini malas. Oh iya, sebelumnya, saya makan dulu entah di mana, sebelum kota Sabang lah pokoknya. Kali ini dahsyat harganya, 32.000 makan pakai telur balado, tempe goreng, peyek udang, dan es teh manis.
Balik lagi, di kota Sabang ini ada 2 SPBU yang jarakmya tidak terlalu berjauhan. Lahh ilah, begitu yak. Ada juga bandara, sempat tengok Garuda Indonesia Xplore dengan armada ATR yang sepertinya menuju Banda Aceh. Bagi saya yang gak biasa pakai motor matic ini memang repot yah. Ada waktu pas di jalan lebar di mana satu arah ada dua lajur dan di antara dua arah ini ada trotoar. Kalo menuju Balohan jalannya menurun, pas turunan yang klimaks, agak ketar-ketir juga dibuatnya, udah rem (dengan cara dicicil, bukan ditekan terus remnya, nanti mengunci takutnya) masih tembus 60 kpj, mana abis turunan ada belokan yang lumayan pula. Hmmmm gila yah, udah di rem aja masih tembus 60. Kalo manual mah enah, bisa pake engine brake dengan cara turunin gigi. Kalo ada retader lebih mantap ini hahahaha. Dan kayanya bisa tembus 60 itu kena idling stop deh, jadi mesin mati, pas di gas nyala lagi.
Sebelum ke pelabuhan, saya istirahat dulu di Masjid Balohan sembari nunggu Zuhur. Lepas Zuhur berjamaah, langsung ke pohon tempat janjian dengan pak Abdullah untuk kembalikan motor. Overall motor gak ada masalah, aman dan lanjar jaya. Bensin pun jarumnya masih setengah kurang.
Pas balikin motor, saya tanya di mana loket kapal lambat (Ferry), ternyata ada di dalam dan saya di antar pak Abdullah sampai dekat loket, karena gerbang utama sudah tutup, hanya gerbang kecil yang muat untuk motor lewat. Syukurlah masih ada kapalnya walau sudah cukup penuh. Terima kasih kepada pak Abdullah. Rekomen lah sama dia.
13:05 saya beli tiket di loket. Beli tiket dengan kelas yang sama, VIP seharga 60rb.
Masuk ke dalam kabin VIP ternyata okupansinya lebih sepi. Naik kapalnya tetap sama, KMP BRR. Waktu tempuh sama, 2 jam kurang 15 menitan, mulai gas jam 13:30 lewat. Dan saya sadar kalo di Ulee Lheue – Balohan ini, waktu bongkar muatnya 1 jam, sementara di Ajibata – Tomok (di Danau Toba) waktu bongkar muatnya hanya 30 menit. Pas keluar kapal, sudah banyak orang yang menunggu masuk. Wahh iya ya, ini hari Minggu, saatnya pulang.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7548 AA "King of the Road"
Kelas: Non Stop (Super Executive seat 2-1)
Jurusan: Medan – Banda Aceh
Tarif: 140.601 setelah diskon (aslinya 280.000 / 260.000)
Nomer kursi: 1B
Jumlah kursi: 26
Merk kursi: Karya Logam
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetliner HD (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, WiFi, sekat belakang.
Waktu tempuh: 12 jam dan 2 menit.


PENILAIAN

+ Pemesanan tiket mudah. Gak ada masalah

- Waktu tempuh agak kurang mantap buat kelas Non Stop.