Tampilkan postingan dengan label Jetliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jetliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2018

Jalan-Jalan ke Sabang Naik Putra Pelangi Non Stop Hanya Bayar Setengah Harga

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Ini adalah postingan cerita lanjutan dari postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya berisi mengenai perjalanan ke Toba – Samosir yang dimulai dari Pekanbaru – Medan – Parapat – Samosir – Parapat – Medan. Jika belum membaca postingan sebelumnya, silakan klik Pekanbaru - Medan - Toba Samosir ini biar gak setengah-setengah bacanya. Jadi, saya akan lanjutkan kembali ceritanya.

MEDAN - BANDA ACEH 

Jum’at, 7 September 2018
Setelah turun bus Sejahtera di Simpang Amplas, saya naik angkot bernomer 64 menuju Simpang Ring Road, dekat Mall Manhattan dan loket / pool Sempati Star. Tujuan asli saya ya ke pool Putra Pelangi di jalan Sunggal. Karena saya gak tau angkotnya yang lewat situ, jadi yaaa naik angkot nomer 64 aja. Dari tempat turun nanti tinggal jalan kaki aja ke pool Putra Pelangi.
Setelah bayar ongkos 10.000 untuk turun di Simpang Ring Road, saya ke Masjid di seberang SPBU samping pool Sempati Star untuk sholat Ashar dan Maghrib dan diselingi makan siang yang dirangkap makan pagi dan makan malam. Selesai sholat Maghrib, saya jalan kaki ke pool Putra Pelangi yang juga sekaligus melewati loket-loket bus Aceh, seperti Kurnia, PMTOH, Sanura, New Aceh Tengah, Harapan Indah, ATLAS, dan New Pelangi.
±19:30 tiba di pool Putra Pelangi. Saya kira mah sebentar jalannya, 10-15 menitan gitu. Gak taunya lumayan juga, lebih dari perkiraan.
Sampai di pool, langsung ke loket untuk tukar tiket dengan menunjukkan bukti booking dari Traveloka berupa SMS, agak malas aja kalo kasih yang berupa e-ticket di e-mail. Proses cepat dan tidak ada masalah. Mantap josss, gua demen nih yang beginiii. Beli tiket secara online dan gak ada masalah sedikitpun. Oh iya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya sempat e-mail ke Putra Pelangi untuk mengkonfirmasi tiket pesanan saya yang saya beli melalui Traveloka. Tiket saya sudah dikonfirmasi. Tidak ada masalah. Rekomen lahhh.

Berhubung masih 1 jam-an lagi berangkat, nge-charge HP dulu lah. Oh iya, saya dapat armada dengan plat nomer BL 7548 AA “King of the Road”. Malam itu gak ada penampakan Jetliner Scania K410 yang kelas Executive dan Legacy SR-2 XHD Prime. Entah ke mana 2 bodi ini, mungkin jalan pariwisata.
20:46 King of the Road mulai menaikkan jarum speedometernya. Lepas loket jalannya gak langsung di gas pol, cenderung santai nyaman. BTW, driver pertama ini penampakannya beda dari driver Non Stop lain yang pernah saya liat. Udah agak berumur, terlihat dari udah banyak uban. Tapi ada nilai lebih dari driver pertama ini, yaitu soal lagu. Saya bahas ini di bawah.
Masalah interior sih gak ada masalah. Leg room lega, apalagi saya yang di tengah gini, pandangan ke jalan paling luas. Kursi masih oke lah, kayanya sih ini kursi bekas Non Stop sebelumnya yang pake MB 1626 atau MB 1836. USB charger berfungsi penuh. Cuma wifi aja yang gak nyala. Yahhh, penyakit bus kebanyakan lah.
21:16 Binjai. Hujan melanda Binjai malam itu. Cukup syahdu juga.
21:30 salip Putra Pelangi 7545 (MB 2542) dan Pusaka 7723 (F1 / Jablay) O500R 1836 yang lagi menepi. Lahh, itu dua bus keberangkatan jam 8 (20:00) masih aja di sini.
Di jalan, kru sempat berdiskusi mengenai insiden yang belum lama ini terjadi. Insiden tunggal di mana tronton 2542 berwarna merah terbalik belum lama ini. Dari yang saya dengar, si tronton ini terbalik entah pas atau setelah tikungan dan ditambah kondisi jalan yang licin/basah karena hujan. Kru 7548 bilang, biarpun punya anti-slip atau traction control, kalo jalan licin tetap aja gak boleh kencang, berbahaya, apalagi pas tikungan. Wah ngeri juga ya kalo dibayangin, pas tikungan jalannya di atas kecepatan rata-rata pas nikung ditambah jalan licin. Safety Riding, Guys.
22:00 mulai terjebak kemacetan di beberapa meter sebelum bundaran Stabat. Parah macetnya untuk ukuran jalanan Sumatera. Dengar dari driver pertama sih ini macet karena ada pohon tumbang. Gile yah, sampe begini. Ini macet sekitar 1 jam loh, entah lebih apa engga, soalnya saya tidur.
Pas beberapa menit setelah terjebak macet sih agak bosan juga, udah TV gak ada, AVOD gak ada, musik juga gak nyala. Pas ngerasa begitu, gak lama kemudian diputar lagu. Bisa pas yah. Untuk urusan playlist lagu di 7548, bukan maen dah, berkelas. Lagu yang diputar lagu Barat, ada yang instrumen, instrumen remix santai, dan lagu yang enak didengar lah walaupun lawas. Playlist yang sesuai dengan saya ini gak berganti sampai besok pagi. Mantap lah.
23:23 disalip Pusaka F1 dan selanjutnya disalip juga oleh Putra Pelangi 7545 di Tanjung Pura pas naikin paket.
Sepanjang jalan, driver pertama ini rasanya agak geram saya dibuatnya. Terlalu segan untuk menyalip, gak seperti Pusaka F1 yang saya naiki waktu itu yang cenderung arogan dan galak di jalan. Driver pertama 7548 ini, bagi saya, agak banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk salip kendaraan di depan, padahan ada ruang di arah berlawanan untuk menyalip. Yaaa biarpun kelas SE yang harus nyaman, gak gitu juga sih kayanya.
23:49 mlewati proyek pengerjaan jembatan. 7548 sempat lawan saat arah saat sepi dan masuk di belakang 7545.

Sabtu, 8 September 2018
00:00 Pangkalan Brandan. Gak lama, kress dengan 3 unit Sepakat Grup. Bukan bus, tapi truck. Ketiganya berbeda pabrikan, tapi gak ada satupun yang Scania. Ketiganya, yaitu UD Quester, Mitsubushi Fuso, dan Hino.
00:16 salip Kurnia kotak sabun alias Kurnia Cargo. Hmmm gak asik yah, salipnya bus Cargo, walau pake OH 1521 yang bisa gahar di jalan, yaa namanya juga bus Cargo. Gak kasih perlawanan berarti lah.
00:59 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
03:53 Lhokseumawe. Di sini ketemu Putra Pelangi 1626. Saya kira bakal kasih perlawanan, eh si 1626 malah menepi kaya ATLAS EvoGT ex Pandawa 87 dan PMTOH HDD.
03:58 aplusan alias pergantian driver. Selagi menepi ini, di salip ATLAS dan PMTOH yang tadi.
05:39 saya terbangun di Pidie, tepatnya (kayanya) di Jangka Buya, saat ketemu New Pelangi Jetbus 2, entah RK atau RN. Si NP ini kecepatannya udah di atas 100 kpj, akan tetapi berhasil disalip 7548 di kecepatan 120+ kpj. Nahh keluar juga speedo mentoknya. Mayan asik juga, mana abis salip NP, gak lama abis itu ada belokan.
04:39 Bireuen.
05:45 – 06:11 Masjid Besar At Taqarrub, Trienggadeng, Pidie Jaya. Melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim dan kewajiban bus Aceh. Ada New Pelangi yang tadi juga di sini.
06:25 melewati aktivitas yang cukup ramai di Pasar Lueng Putu, Pidie.
07:31 melewati Masjid Baitul Muttaqin, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Kress juga sama Anugerah O500R 1836 JB2 yang jadi angkatan pagi B.Aceh – Medan (kayanya).
Di Seulawah ini pun gak spesial kecepatannya. Masih lebih cepat 1836-nya Harapan Indah 7390 dan Puska 7723 yang pernah saya naiki sebelumnya. Agak greget juga sih. Jadi driver pertama dan kedua ini sama aja. Sama-sama santai. Tapi okelah, saya gak ngejar waktu. Lagipula naik SE kok. Shantai aeee.
07:44 SPN Seulawah.
08:38 menurunkan penumpang di bundaran Lambaro.
08:48 tiba di Terminal Batoh, Banda Aceh. Setelah turun bus, saya ke toilet dulu, abis itu beli tiket balik. Karena saya balik hari Minggu, jadi beli sekarang saja biar gak kehabisan tiket. PJKA time brooo.
Loket tujuan pertama saya adalah loket KAP Group. Saya masih berkeras untuk naik AW Series, dibanding naik Sanura dengan diskon 30% dari Easybook dan Putra Pelangi dengan diskon 10%, cashback 25%, dan potong saldo dari redBus. Di loket KAP, saya pesan Kurnia yang tronton Scania. Saya pilih nomer kursi 24 (5B), karena nomer ini berada setelah pintu tengah yang sekaligus di pintu tengah tersebut ada toilet dan sekat. Nomer kursi tersebut, dari yang saya lihat di FB atau IG dan tontondi Youtube, menurut saya punya leg room paling lega dibanding seat baris kanan maupun baris kiri sebelum toilet/pintu tengah.
Mengenai harga, yang saya tau dari grup FB Kurnia Group (KAP), kalo AW dari Banda itu 220rb, kalo dari Medan 240rb, dan juga kalo di Banda ini bisa nego. Makanya saya coba nego 200rb, tapi gak bisa, katanya ini mobil baru, gak berani kasih harga segitu. Mungkin emang saya aja yang gak jago dalam negosiasi. Deal harga tiket di angka 210.000. Yaaa oke lah, 210rb dapat Scania K410 bodi anyar Jetbus 3 SHD walau gak bisa 180rb kaya Sanura K410 sebelumnya hehehehe.
Selepas beli tiket, saya langsung ke halte Trans Koetaradja di depan terminal. Cukup lama juga nunggu BRT Aceh ini, masih mending Trans Metro Pekanbaru juga.
09:21 – 09:34 menuju Masjid Raya naik Trans Koetaradja koridor 2A (Blang Bintang – Pusat Kota). Okupansi BRT Aceh ini bagus loh, harusnya ada penambahan armada dan jadwal serta halte, karena armada, jadwal, dan halte saya rasa masih kurang banyak.
09:43 – 09:57 setelah transit di halte Masjid Raya, saya naik koridor 2B (Pusat Kota – Ulee Lheue). Rute yang dilewati cukup enak, lewat beberapa obyek wisata, salah satunya Museum Tsunami. Oh iya, awalnya saya kira naik Trans Koetaradja udah bayar, eh ternyata masih GRATISSS..... Mantap.
Turun bus, saya menuju loket yang sayangnya cuma buka 1 saja. Ternyata saya ketemu sama penumpang PPP 7548 tadi (kayanya), yang saya nguping sih rombongan ini ketinggalan kapal cepat karena telat sampai Banda Aceh, jadi beli lagi tiket kapal tapi yang kapal lambat atau Ferry. Saya sih emang maunya naik yang Ferry aja, biar murah. Eh tapiii gak murah juga sih, lah saya pilih yang kelas VIP (bukan ekonomi) yang harganya 58.000 + 2.000, jadi 60.000, sementara yang ekonomi cuma 27.000. Lah saya kan sesekali aja dan pengen istirahat juga di jalan, gak ada salahnya lah pilih yang harganya 2x lipat dari Ekonomi.
Kapal yang jalan saat itu KMP BRR, yang ukuran kapalnya lebih kecil dari kebanyakan kapal di Selat Sunda, tapi masih lebih besar dari kapal ferry di Toba-Samosir dan Ketapang – Gilimanuk. Kelas VIP ini pakai AC dan sofa. AC dingin, sofa empuk, tv ada tapi gak nyala, toilet ada 2, pelampung keselamatan lengkap, ada colokan listrik juga tapi di bagian depan. Waktu tempuh Ulee Lheue – Balohan (Sabang) saat itu 1 jam dan 50 menit. Berangkat jam 10:30 dari Ulee Lheue. Di tengah jalan, ombak terasa kencang, cukup bikin agak sakit kepala juga. Mungkin goyangannya lebih terasa karena kapal yang lebih kecil dari yang biasa saya naikin di Selat Sunda dan juga di sebelah Barat langsung menhadap Samudera Hindia sementara di sebelah Timur ada Selat Malaka.

Merapat di Balohan ternyata kapal harus putar dulu 180 derajat biar kendaraan keluar kapal engga jalan mundur, tetap jalan maju dan yang masuk duluan, keluar duluan. Keluar kapal saya langsung komunikasi sama pak Abdullah, yang punya rental motor yang saya akan pakai motor rentalannya di Sabang. Komunikasi via WA lancar, dan cepat tanggap, orangnya sering stay di pelabuhan untuk cari turis/wisatawan yang butuh rental motor. Biayanya 100.000 per hari, saya dapat Mio 125 (Matic, rental jaman now susah yang ada oper gigi hehehe), ada helm bawaan honda juga yang sudah tidak bisa di-klik hahahaha. Jaminannya, Cuma KTP kita yang di foto. Katanya kalo bailikin motor ke tempat di bawah pohon dekat pelabuhan. Sip lah.
Keluar pelabuhan, saya beli Premium dulu 1 liter seharga 10.000. Di sini gak ada Pertalite untuk eceran, kalo di SPBU ada kali yah. Di simpang setelah gerbang pelabuhan, saya pilih yang menuju Danau Aneuk Laot, sesuai papan petunjuk arah. Dannn seperti yang saya duga, karena saya orangnya gak terlalu tertarik dengan obyek wisata dan lebih suka menikmati perjalanan. Jadi, Danau Aneuk Laot ini cuma lewat aja, lagi pula saya pikir jalannya lewatin pinggir danau, gak taunya agak jauh lagi ke Danau-nya. Di jalan, cuma keliatan sedikit doang danau-nya. Dari sini saya langsung tembak ke Iboih.
Jalan di Sabang ini cukup asyik, seru, dan menantang buat saya yang biasanya cuma berkendara di jalanan kota. Jalannya mayoritas bagus dan banyak yang mulus. Banyak turunan dan tanjakkan, mulai tanjakkan letter S beruntun sebanyak 2 kali yang abis itu langsung tanjakkan panjang. Wah mantap juga nih jalan. Karena saya kalo naik motor itu santai dan menikmati perjalanan, indikator ECO di motor jarang mati, mati pun kalo di gaspol/geber pas tanjakkan. Di tengah perjalanan, saya khawatir sama bensinnya, jarumnya udah di dekat merah. Jadi, saya tambah lagi 2 liter. Pas udah nambah 2 liter, eh malah penuh. Eh dasar kampret, amperenya dablek ternyata. Tau gitu nambah 1 liter aja. Lagi pula motor matic jaman now mah irit.
Setibanya di kawasan wisata Iboih, bayar dulu retribusi 5.000, padahal di karcis cuma 2.000, pffttt. Karena belum jam 2 (14:00) siang, saya tembak lagi ke tugu KM 0. Jalanan kali ini tidak selebar tadi, tapi kalo udah dekat KM 0 udah lebar. Jalanan mulus, ada banyak turunan, tanjakkan, tikungan, dan turunan/tanjakkan panjang. Mantap kali lahhh.
Tiba di KM 0 ya gitu. Foto-foto sikit aja. Di depan tugu ini, langsung terhampar luasnya Samudera Hindia. Gak lama di sini, abis itu saya ke Musholla buat sholat Zuhur, tapi keran wudhunya gak keluar air, aihhhh. Sholat di penginapan aja lah. Parkir di sini bayar seiklasnya. Lalu, kalo mau beli baju dan pernak-pernik juga ada di sini.
±14:00 check in penginapan. Saya menginap di Iboih Bungalow. Pesan kamar di Traveloka dengan harga kamas 142.249 sudah dipotong diskon. Lokasinya di lokasi wisata Iboih. Depan penginapan atau seberang jalan sudah pantai dan nampak pulau Rubiah, lokasi tujuan untuk snorkeling. Saya dapat kamar di lantai paling atas, viewnya mantap, langsung pantai, laut, dan pulau. Indah sekali. Air lautnya berwarna biru, bahkan sampai biru muda terang. Fasilitas kamar ada kasur, bantal, handuk, kipas, dan colokan listrik, serta jendela. Ada balkon juga kalo mau menikmati pemandangan yang cukup indah. Kamar mandi di luar yes, di lantai dua, kamar mandi bersama. Karena saya lelah, saya tidurrr. Soal makan, saya beli nasi bungkus isi ikan seharga 18.000. Lebih mahal seribu dari makan dengan menu yang sama saat di Toba Parapat.

Minggu, 9 September 2018
09:45 setelah packing dan mandi, saya pamit check out. Saya juga diberikan kartu nama jika lain kalii mau snorkeling. Harga paket snorkelingnya 550.000 dengan minimal 4 orang kalo gak salah, masih bisa nego loh. Petugas sekaligus yang punyanya ramah loh. Sebelum gas motor, saya dikasih Aqua 600ml yang lupa dikasih pas baru masuk. Mayan lah, irit sikit hehehe.
Rute menuju Balohan yang saya ambil sekarang ini melewati kota Sabang, tidak motong lewat Danau Aneuk Laot yang jalannya relatif sepii kaliiii. Di kota Sabang, saya sempat muter-muter karena bingung jalannya. Overall jalanannya bagus. Mau mampir sana-sini malas. Oh iya, sebelumnya, saya makan dulu entah di mana, sebelum kota Sabang lah pokoknya. Kali ini dahsyat harganya, 32.000 makan pakai telur balado, tempe goreng, peyek udang, dan es teh manis.
Balik lagi, di kota Sabang ini ada 2 SPBU yang jarakmya tidak terlalu berjauhan. Lahh ilah, begitu yak. Ada juga bandara, sempat tengok Garuda Indonesia Xplore dengan armada ATR yang sepertinya menuju Banda Aceh. Bagi saya yang gak biasa pakai motor matic ini memang repot yah. Ada waktu pas di jalan lebar di mana satu arah ada dua lajur dan di antara dua arah ini ada trotoar. Kalo menuju Balohan jalannya menurun, pas turunan yang klimaks, agak ketar-ketir juga dibuatnya, udah rem (dengan cara dicicil, bukan ditekan terus remnya, nanti mengunci takutnya) masih tembus 60 kpj, mana abis turunan ada belokan yang lumayan pula. Hmmmm gila yah, udah di rem aja masih tembus 60. Kalo manual mah enah, bisa pake engine brake dengan cara turunin gigi. Kalo ada retader lebih mantap ini hahahaha. Dan kayanya bisa tembus 60 itu kena idling stop deh, jadi mesin mati, pas di gas nyala lagi.
Sebelum ke pelabuhan, saya istirahat dulu di Masjid Balohan sembari nunggu Zuhur. Lepas Zuhur berjamaah, langsung ke pohon tempat janjian dengan pak Abdullah untuk kembalikan motor. Overall motor gak ada masalah, aman dan lanjar jaya. Bensin pun jarumnya masih setengah kurang.
Pas balikin motor, saya tanya di mana loket kapal lambat (Ferry), ternyata ada di dalam dan saya di antar pak Abdullah sampai dekat loket, karena gerbang utama sudah tutup, hanya gerbang kecil yang muat untuk motor lewat. Syukurlah masih ada kapalnya walau sudah cukup penuh. Terima kasih kepada pak Abdullah. Rekomen lah sama dia.
13:05 saya beli tiket di loket. Beli tiket dengan kelas yang sama, VIP seharga 60rb.
Masuk ke dalam kabin VIP ternyata okupansinya lebih sepi. Naik kapalnya tetap sama, KMP BRR. Waktu tempuh sama, 2 jam kurang 15 menitan, mulai gas jam 13:30 lewat. Dan saya sadar kalo di Ulee Lheue – Balohan ini, waktu bongkar muatnya 1 jam, sementara di Ajibata – Tomok (di Danau Toba) waktu bongkar muatnya hanya 30 menit. Pas keluar kapal, sudah banyak orang yang menunggu masuk. Wahh iya ya, ini hari Minggu, saatnya pulang.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7548 AA "King of the Road"
Kelas: Non Stop (Super Executive seat 2-1)
Jurusan: Medan – Banda Aceh
Tarif: 140.601 setelah diskon (aslinya 280.000 / 260.000)
Nomer kursi: 1B
Jumlah kursi: 26
Merk kursi: Karya Logam
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetliner HD (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, WiFi, sekat belakang.
Waktu tempuh: 12 jam dan 2 menit.


PENILAIAN

+ Pemesanan tiket mudah. Gak ada masalah

- Waktu tempuh agak kurang mantap buat kelas Non Stop.



Rabu, 25 Oktober 2017

Pekanbaru - Medan PP: Raja Medan-Riau vs Raja dari Medan

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


PEKABARU – MEDAN


Cerita perjalanan / touring kali ini rutenya sama seperti 2 dan atau 3 touring sebelum-sebelumnya, you know lah ke mana. Rute Pekanbaru – Medan – Banda Aceh PP menjadi rute touring kali ini. Agak bosen juga sih rutenya itu-itu lagi, pengen juga ke Takengon, Meulaboh, atau Toba. Tapiii yaaaa….. namanya juga penggemar bus bagus hahahahah. Dan touring ini kayanya akan jadi yang terakhir di rute ini, kecuali kalo ada niatan ke Takengon, Meulaboh, atau Toba.

Mengenai armadanya, sudah pasti saya sangat bingung buat tentuin. Untuk etape 1 (PKU-MDN) rencananya naik Medan Jaya Scania karena masih penasaran sama yang satu itu atau Putra Pelangi 1626 dari Padang karena keberangkatan paling malam (jadwal jam 20:00). Akan tetapi, beberapa hari sebelum berangkat, si MJ Scania gak keliatan, bahkan yang Jetbus pun gak ada. Kepikiran juga buat naik RAPI, eh tapi kan buat etape terakhir. Rencana fix  saya untuk etape 1 adalah Medan Jaya Scania, kalau gak jalan ganti ke Halmahera SE 2-1 Scania yang plat 7078, kalau bukan 7078 yang jalan yaaa naik Makmur 2542 aja yang jam 20:00. Intinya gak pesan tiket dulu, go show aja.

Jumat, 20 Oktober 2017

Menuju terminal BRPS naik Trans Metro Pekanbaru koridor 06 dari halte Tabek Gadang seharga Rp 4000. Tadinya mau naik dari halte Suka Karya, eh koridor 03 gak lewat-lewat, jadinya jalan aja 5 menit ke Tabek Gadang daripada ketinggalan MJ Scania.

Sampai di terminal BRPS ternyata tetap gak ada si MJ Scania, gagal deh. Tunggu Halma Scania aja deh, walau saya tau jadwal malam ini bukan di 7078, tapi ya kali aja di perpal dulu. Benar aja, bukan Halmahera 7078 yang dateng. Fix, langsung ke loket MH Group beli tiket jam 20:00. Alhamdulillah rezeki anak soleh masih ada hot seat di seat CC atau kursi terdepan sebelah kiri. Lumayan, 230.000 dapat tronton, selonjor, dan dapat snack walau snacknya cuma roti seribuan dan air mineral gelas. Kenapa saya pilih yang jam 8? Karena jadwalnya paling malam dan firasat saya bakal ngejar bus yang ada di depan / jalan duluan.

19:31 Makmur Jetliner 2542 berplat BK 7064 UD masuk peron.
19:39 Halmahera SE 2-1 Scania K360 jalan. Kira-kira bakal dikejar gak yah?
20:09 Makmur 2542 memulai perjalanan menuju Medan. Tidak lupa snack dibagikan dan sepanjang jalan tetap menyisir penumpang untuk menambah penghasilan kru.
Selonjorr
21:15 Minas. Di Minas sempat ketemu RAPI 1526 SR-1 napin Zurich (kayanya), dan terus jalan bareng dan salip-menyalip sampai Ujung Tanjung (kalo gak salah). Lincah banget tuh 1526. Menggila.
22:03 Melewati RM Setia Abadi, Kandis. Kirain mampir.
23:20 Tersendat kemacetan di tugu 2.000.000 barel Chevron yang entah karena apa. Di sini ketemu Medan Jaya warna biru, sayangnya bukan Scania SHD.
23:46 Loket Duri.
00:09 Overtake Halmahera SE 2-1 bareng RAPI Zurich, 10 menit sebelum Simpang Bukit Timah. Nah kan, kecentang. Untung kaga jadi naik tuh Halmahera.
00:33 Tanpa perlawanan, Sempati Star 7757 Patas VIP K360 Comfortshift disalip Makmur 7064 dan RAPI Zurich di Ujung Tanjung. Sempati Star yang jalan jam 7 aja di salip, mantap juga nih Makmur tronton yang jam 8. Tinggal Makmur tronton yang jalan jam 7 dan Putra Pelangi ‘Baho Do Au’ aja yang belum nampak.
01:15 Overtake PHM ‘Inang Nabasa’. Anehnya ini bus asal Sumut, tapi platnya BL (Aceh). Eks Putra Pelangi / Pelangi kali yah. Bodinya pun Travego.
01:48 Berhenti 4 menitan di RM Sherli, Bagan Batu bareng Makmur tronton 7067 dan Makmur New Skyliner. Bus saya jalan duluan, tapi gak lama abis itu disalip Makmur tronton 7067 karena bus saya menepi buat jajan hehehe.
02:26 Cikampak. Sekaligus salip Makmur 7067.
02:47 Berhenti di SPBU samping Royal Permata Hotal, Kota Pinang untuk pergantian pengemudi. Sembari berhenti, disalip sama RAPI Zurich dan kres dengan Makmur 2542 dan Putra Pelangi 2542. Perpal si PPP 7611?
04:48 Aek Kanopan.
05:24 – 05:57 RM Gunung Sari, Asahan. Istirahat bareng Makmur ekonomi toilet bodi Discovery dan Celcius, Halmahera 1526 AC toilet, Makmur 1836 SR-1, Halmahera SE dan Makmur 2542. Eh si Halma SE udah sampe toh, dan dua bus terakhir itu jalan duluan.
06:13 Kisaran.
08:09 Simpang Medan, Tebing Tinggi.
08:59 GT Perbaungan. Yesss akhirnya menikmati juga tol di Sumatera. Tol ini masih cukup kinyis-kinyis alias masih cukup baru diresmikan.
09:14 Exit GT Kuala Namu. Jelang simpang di Tanjung Morawa malah kejebak macet karena lampu lalu lintas yang mati, hadeeeehhh.
09:49 Polda Sumatera Utara.
10:02 Finish di seberang loket RAPI, jalan Sisingamangaraja. Busnya gak masuk loket di SM Raja, lah loketnya aja gak buka. Keberangkatan MH Group pindah tempat.
Eh jam 11 lewat ketemu sama Sempati Star. Kesiangan nih yeee. Tapi masih gak ketemu juga sama Baho Do Au, entah disalip atau emang gak disalip. Sementara itu, si Makmur tronton 7067 sudah sampai duluan, kres sama dia ke arah Morawa. Mau ngapain kali?
Overall. Rekomen lah naik Makmur 2542 yang jam 20:00


DETAIL BUS

Bus: Makmur (PT Pratama Makmur Jaya)
Nomer Plat Bus: BK 7064 UD
Kelas: Royal Class seat 2-2 / Tronton 2542 / Executive
Jurusan: Pekanbaru - Medan
Tarif: 230.000
Nomer Kursi: CC / CC 2 (1B)
Jumlah Kursi: 34 + 2 (di smoking area)
Merk Kursi: Aldilla
Sasis: Mercedes Benz OC 500 RF 2542
Bodi: Jetliner (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, selimut, bantal, snack, sekat depan dan belakang
Waktu Tempuh: 13 jam dan 53 menit


PENILAIAN

+ Cepat a.k.a banter. Bus yang jalan duluan aja disalip. Walau disalip balik juga sam RAPI hahahahaha.
+ Leg room sebelah kiri dan sebelum pintu tengah selonjoooorrr.
+ Masuk tol Tebing Tinggi – Kuala Namu untuk pertama kalinya buat saya. Keren.

- Kursi Aldilla sudah tidak cocok buat saya. Badan dan kepala saya pegal dan sakit.
- Ada stiker pekat (tidak transparan) di atas topi. Jadi terasa seperti SHD nya Adi Putro.
- Tercium bau asap rokok di kabin penumpang. Entah asapnya dari bagian depan atau bagian belakang.

Silakan tonton versi video trip report di Youtube. 

Baca juga catatan perjalan etape 2 dan 3 (Medan - Banda Aceh PP).
Klik Battle of Scania K410: Sempati Star SDD vs Sanura SHD



MEDAN – PEKANBARU


Setelah tiba dari Pekanbaru, saya langsung ke loket RAPI di jalan Sisingamangaraja. Di etape terakhir ini awalnya saya pengen naik RAPI yang kelas Royal Exe atau Super Exe dengan tujuan akhir Jambi jam 15:30 berdasarkan info di bosbis. Eh kata petugas loketnya yang Royal Exe ke Pekanbaru cuma jalan jam 18:30, lah gak keburu masuk kuliah. Setelah pikir panjang akhirnya pergi aja dari loket RAPI dan beli tiket go show. Alamat gagal naik RAPI dan Legacy series untuk pertama kalinya nih. Saya berharap sih bisa ngejar Putra Pelangi ke Padang yang jalan jam 9 pagi.

Senin, 23 Oktober 2017

Setelah tiba dari Aceh jam 9 lewat, yang artinya Putra Pelangi ke Padang udah jalan. Akhirnya saya putuskan untuk istirahat sebentar sambil berpikir di Masjid seberang loket Sempati Star. Karena gak memungkinkan untuk naik bus yang bagus yang jalan malam, akhirnya naik yang siang aja. Pilihannya ya RAPI jam 13:00 atau Medan Jaya ke Jakarta yang jamnya kurang lebih sama.

Setelah tiba di jalan Sisingamangaraja, belum ada bus di loket Medan Jaya. Mau masuk dan nanya armada apa yang jalan pun malas. Saya sih ngincer yang Golden Dragon, kali aja gitu. Di seberangnya ada NPM Euroliner yang siap jalan. Agak malas sih naik NPM, kalo yang jalan O500R 1836 atau Golden Dragon boleh lah, langsung beli tiket. Akhirnya maju ke loket RAPI. Udah stand by RAPI napin Hanam kelas ekonomi 1526 Discovery ala Maxibus, di belakangnya ada O500R 1836 dan 1526 Ulysses. Tanya ke driver yang lagi di busnya berangkat jam berapa, ternyata jam 1, pas lah. Langsung beli tiket naik Ulysses. Eh kebagian seat agak kebelakang.


11:58 Disco Hanam jalan.
13:06 RAPI Ulysses diberangkatkan menuju Jambi. Cukup ramai juga bus, ada kali 70% kursi terisi.
Mepet alias sempit
13:46 Terminal Lubuk Pakam.
14:17 Pasar Bengkel.
15:15 Tebing Tinggi. Sepanjang jalan banyak berhenti buat naikin penumpang dan paket. Mantapnya 1526 NG ini, gak ada bunyi kriyet-kriyet, eh tapi kriyet-kriyet muncul pad udah masuk Riau.
17:40 Melewati kantor Bupati Asahan.
17:48 – 18:17 RM Mega Sari. Ke toilet dulu udah kebelet abis itu baru makan. Saya makan pake nasi (tambah) dan ayam bakar dengan sambal kecap. Ayamnya gila! Gede banget! Biaya makan 28.000, standar lah. Ayamnya enak, sambal kecap mantap, tapi nasi agak keras.

21:25 Rantau Prapat.
23:20 Bagan Batu. Eh ternyata dia gak masuk RM Sherli. Alamat tahan lapar nih.
01:58 Melewati loket RAPI di Duri.
02:55 Kandis. Eh dia gak masuk rumah makan di Kandis. Makin laper aja nih. Walau Pekanbaru udah deket, tapi mana ada rumah makan buka sebelum Shubuh kaya gini.
04:28 Akhirnya tiba di loket RAPI jalan SM Amin, Pekanbaru. Saya turun dan duduk sejenak di loket sambil cari ojek online di aplikasi, dan pada jauh semua. Akhirnya saya putuskan untuk nebeng Ulysses sampai pertigaan Tabek Gadang.
04:50 Tiba di pertigaan Tabek Gadang. Terima Kasih untuk para kru.
ULYSSES

DETAIL BUS

Bus: RAPI (PT Raja Perdana Inti)
Nomer Plat Bus: BK 7304 UA “Ulysses”
Kelas: AC Toilet
Jurusan: Medan – Pekanbaru – Jambi
Tarif: 195.000
Nomer Kursi: 26 atau 7B
Jumlah Kursi: 36 + 4 (di smoking area)
Merk Kursi: Versa (kalau tidak salah)
Sasis: Mercedes Benz OH 1526 NG
Bodi: All New Legacy SR-1 (karoseri Laksana)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, rec.seat, foot rest, selimut, bantal sekat depan dan belakang, seat belt, colokan listrik di hampir setiap baris di dinding
Waktu Tempuh: 15 jam dan 22 menit


PENILAIAN

+ Cukup mosak-masik banter
+ Masuk Pekanbaru gak kepagian

- AC dingin banget. Padahal penumpang ada 40 lebih.
- Kursinya keras, gak nyaman.
- Leg room sempit.
- Kru menyalakan lagu di kabin pada malam hari dengan suara yang cukup mengganggu tidur.
- Istirahat cuma sekali.

Rabu, 10 Mei 2017

(Part 2/2) Battle of SCANIA: Putra Pelangi K410

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)

Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.

Lanjut cerita dari postingan selanjutnya. Setibanya di Medan langsung nge-G*jek ke Masjid Raya Al-Mashun dan dilanjut menuju Mall Ringroad Citywalk untuk beli tiket Guardian of the Galaxy Vol.2 di XXI-nya. Abis beli tiket XXI, lanjut beli tiket Putra Pelangi untuk balik ke Pekanbaru sore itu juga. Tiketnya udah dipesan dengan seat nomer 1 dan dibayar seharga 230.000, turun 40.000 sejak Negara api menyerang….eh… maksudnya pas ada Makmur 2542 Jetliner dengan jumlah seat yang sama dengan Putra Pelangi, tapi harganya 230.000. Untuk MH Group, tidak ada diskriminasi sasis. Harga tiket sesuai dengan jumlah seat bus, gak peduli itu bus baru kek,, tronton kek. Sepertinya sih gitu.

Duo Lhokseumawe. 2542 jam 13:00 dan K410 jam 14:00

Mau direview juga fil GOTG Vol.2 nya? Gak usah lah ya, saya bukan pe-review film. Pokoknya keren dah. Lebih lucu, bahkan lebih lucu dari Comic 8. Review saya sih di angka 8, mirip kaya IMDB yang 8,2.

Balik ke loket dan si ganteng Jetliner baru dengan disokong Scania K410 udah stay. Arus bolak-balik bus dari gudang ke SPBU pun menggiurkan. 1836 dan K410 Non Stop plus K410 yang terbaru hilir mudik. Yaahhh walaupun begitu tetep aja masih keliatan 1626 dan kuler jahat.

Yang jalan ke Pekanbaru sore itu si 7611 pengganti 7544, padahal agak ngarep Baho Do Au 7612 pengganti 7543. Masuk ke kabin agak deg-degan karena pertama kali masuk Jetliner yang baru dan naik pertama kali Scania K410. Daaannn……jeeng…jeeeeng…wat deh hel?!?!?! Leg roomnya mentok abisss, kaya Medan Jaya dan Pusaka yang pernah saya naiki, sh!t. Ini lah yang disebut mohon bersabar, ini ujian. Padahal hot seat Putra Pelangi lega loh. Ini karena tangganya di kiri, bukan di kanan, jadi agak mundur. Sebelah kanan pun sama aja leg roomnya karena ada box ECU (kayanya). Yo wes….nikmati aja lah dan mari ucapkan “Selamat Siang, Pekanbaru”.
Serupa tapi tak sama. 7614 Banda Aceh & 7611 Pekanbaru.
18:08 keluar loket/pool Putra Pelangi, Sunggal. Saat di lampu lalin di Ringroad, si Jetlinet K410 ini cukup banyak menyita perhatian banyak orang.
18:48-19:10 berhenti di seberang loket Putra Pelangi jalan Sisingamangaraja. Gak masuk loket karena jalan depan loket lagi diperbaiki (dibeton). Mana lama banget lagi berhentinya. Sempati Star Super VIP ke Pekanbaru aja udah lewat.
19:25 melewati Polda Sumatera Utara.
20:30 di overtake dengan cukup gila oleh Batang Pane Baru 1626 Skyliner di Serdang Berdagai. Ini nih gak enaknya kalo dari Medan, pasti ngekor aja karena jalan dari dua arah yang cukup ramai.
20:43 melewati Polres Berdagai.
21:15 Tebing Tinggi.
21:45 jalan bareng Halmahera K410 tujuan Dumai. Halmahera mah gas terus, apalagi BPB tadi. Lah Putra Pelangi mah kendor mulu, ketebak banget dah. Sama kasusnya kaya 7544 waktu di Minas. Sempet juga ketemu Bintang Utara K360 SHD dan abis itu dia ngilang.
22:58-23:30 masuk RM Mega Sari, Kisaran bersama RAPI 1836 napin Xanthos. Di sini saya hanya melaksanakan kewajiban saja, gak makan. Jeleknya rumah makan ini, kalo mau keluar atau lanjut jalan, harus nanjak dulu.
23:53 di overtake Halmahera Scania K360 (bukan yang kemaren saya naikin, beda plat). Nah tuh kan, kekejar sama dia yang jalan jam 19:30 dari SM Raja. Emang sih, top speed yang saya tau, si PPP lebih unggul dari Halmahera. Tapi ya gituuu, kadang banyak peluang untuk menyalip yang terbuang. Jangan kasih kendor dong bosqu.
02:25 di overtake Sempati Star Super VIP K360 dan abis itu kress dengan Putra Pelangi 7612 ‘Baho Do Au’. Daaann di SS pun sulit dikejar dan menghilang karenaa….
Top Speed

02:44 masuk SPBU buat minum sebanyak 400.000 Rupiah di Kota Pinang. Ternyata ada Satu Nusa 1526 SR-1 yang lagi diem ngejogrok ngapain tau. Pas keluar SPBU, si 7611 ternyata gasruk tangga untuk naik busnya.
03:42 Bagan Batu.
05:50-06:05 masuk SPBU di Kulim, Duri untuk solat Subuh.
06:30 Duri. Penumpang di seat 3 dan 4 turun di Duri, jadi penumpang di sebelah saya pindah ke sisi kanan. Akhirnya bisa selonjor juga.
08:05-08:28 istirahat di RM Tuah Sakato, Kandis. Sendokiran aja di sini, gak ada PPP tujuan Jakarta dan Sempati Star. Saya cuma ke WC aja sama beli pop mie di warung.
09:39 melewati Polsek Rumbai.
Dikarenakan perbaikan jalan di jalan Riau Ujung, jadinya 7611 lewat simpang jalan Riau Ujung – Soekarno Hatta, perempatan Mall SKA dan langsung ke loket. Sepanjang jalan, si Jetliner Scania K410 ini cukup banyak menyita perhatian orang-orang. Maklumlah, biasanya yang lewat jalan Soekarno Hatta – Mall SKA – Tugu Songket cuma TMP Hino RK hahaha.
10:28 akhirnya tiba di loket Putra Pelangi, Jl.SM. Amin / Arengka II. Benerkan sudah cukup agak siang. Si 7611 pun menuju cucian untuk mandi di dekat terminal, kalo 7612 di cucian/loket MH Group. Sementara saya balik ke kost naik Hino RK.


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer Plat Bus: BL 7611 AA
Kelas: Executive
Jurusan: Medan - Pekanbaru
Tarif: 230.000
Nomer Kursi: 1 atau 1A
Jumlah Kursi: 36+2
Merk Kursi: Aldilla
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: New Jetliner (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, bantal, selimut, rec.seat, leg rest, power plug, sekat belakang.
Waktu Tempuh: 16 jam dan 20 menit



PENILAIAN

+ Tenaga dari Scania K410 memang mantap. Lebih nyaman dari MB 2542.
+ Ada USB Port di dinding bus.
+ Kru bus cukup ramah.

- Leg room sempit.
- Gak ada snack.
- Waktu tempuh cukup lama. Banyak peluang menyalip yang terbuang.
- Scania K410 agak kurang nyaman disbanding K360.
- Getaran dan gemlodak pada bodi lebih terasa dibanding saat naik Halhamera.
- Ada beberapa bagian interior yang sudah rusak/lepas. Padahal baru 2 bulan.
- Wiper kaca atas gak di aktifkan.

Overall saya agak kecewa dengan trip pulang ini. Mungkin saya gak akan naik ini lagi.