Tampilkan postingan dengan label Rahayu Santosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahayu Santosa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2019

Perjalanan yang Horor di Lintas Timur dan Selat Sunda | Akankah jadi "Lorena Fanboy?"

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)

Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Assalamualaikum, halo semua, selamat datang kembali di blog saya.

Seperti biasa, kali ini saya akan menceritakan mengenai perjalanan saya naik bus yang rutenya sudah pernah saya lalui dan PO-nya sudah pernah saya naiki sampai susah move on. Rute perjalanan saya kali ini adalah rute antar-pulau. Pasti sudah bisa menebak. Seperti biasa, kalo naik bus di rute yang sama dan dengan PO yang sama, pasti ada cerita yang berbeda. Langsung aja simak ceritanya.

Latar belakang perjalanan ini yaaaa karena liburan ya, masa lagi dinas atau tugas kerja. Pilihan armada ada dua, yaitu Sang Jenderal Bintang 5 dan PO yang banyak memakai sasis premium di rute-rutenya yang jauh. Urusan pembelian tiket, awalnya saya mengandalkan redBus, soalnya bisa pakai kode promo dengan potongan 20% dan masih bisa dapet potongan dari redBus Wallet. Sayangnya redBus Wallet sekarang hanya bisa dipakai 20% dari nilai tiket saja, gak bisa unlimited sampai gratis kaya di blog sebelah. Hmmmm....

Pilihan armada saya jatuhkan ke Jenderal Bintang 5 alias Lorena, entah kenapa ujung-ujungnya naik dia lagi padahal udah ada niatan naik SAN dengan harapan bisa dapat Scania K360 Opricruise bodi Legacy SR-2 atau Volvo B7R bodi Scorpion X. Pada akhirnya, keputusan final saya naik Lorena. Saya coba pesan lewat redBus, tapi selalu gagal di pembayaran. Sudah saya telepon pihak redBus tetap tidak bisa. Padahal kalau naik Lorena dengan beli di redBus bisa dapet harga 310an ribu, irit 100 ribu dari Traveloka (plus promo). Karena kesal selalu gagal, akhirnya saya beli di Traveloka aja. Rute Pekanbaru – Jakarta tanggal 13 Desember 2018. Tapi, jeleknya, gak bisa pilih seat di Traveloka, kalo di website Lorena atau redBus bisa pilih seat. Tiket saya bayar dengan harga 413.231 sudah dipotong kode promo sebesar 56.430 (12%) dari harga Traveloka 470.250 atau 490.000/520.000 harga normal.

Rabu, 12 Desember 2018

Malam hari, setelah Isya, saya pergi ke Kantor Cabang Lorena Pekanbaru di jalan Tuanku Tambusai atau jalan Nangka untuk laporan. Pas laporan, ada papan tulis (dekat meja ticketing) yang bertuliskan informasi kedatangan dan keberangkatan armada H-2 sampai H+1 (kalau tidak salah). Dari sepengamatan dan perhitungan saya, nanti saya dapat P 321 karena dia jalan LE 232 di tanggal 10 (bersama P 330 yang jalan LE 150). Saya tanya ke petugas apakah saya akan dapat 321, katanya belom pasti, karena hari ini jalan 1 bus (seperti saya naik LE 151 setahun lalu) dan 1 armada (MB 1525, P 268 kalo gak salah) perpal. Dan perhitungan saya sih emang bakal dapet P 321, karena P 268 bakal jalan LE 233 yang jalan 2 jam sebelum LE 151.
Selain itu, saya juga coba minta pindah seat dari seat saya, 1A ke 2B. Ternyata gak bisa karena sudah terinput di komputer. Katanya kalo mau pindah, minta langsung ke penumpangnya langsung aja. Haduhhh, ternyata masih enak sistem manual juga ya, kaya saya naik Medan Jaya Scania dan Kurnia AW Series kemaren. Selagi ada yang kosong, silakan pindah hahahaha.

Kamis, 13 Desember 2018

Karena keberangkatan LE 151 sekarang yang jam 4 sore, lebih lambat 1 jam saat saya naik LE 151 tahun lalu, saya berangkat dari kost jam 3-an naik Go Car. Perjalanan saya menuju loket Lorena / kantor ESL Express di dekat Pasar Pagi Arengka akan melewati loket SAN di depan gerbang Stadion Utama Riau. Saat lewat, pas banget, yang jalan hari itu Scania K360 Opc bodi SR-2, duhhh ganteng amat ya. Sayang yang kelas Bisnis AC bukan si kaki 1000 alias Scania K410 SR-2 XHD Prime yang jalan.
±15:25 Tiba di loket Lorena / kantor ESL Express di dekat Pasar Pagi Arengka. Karena masih agak lama, saya menunaikan kewajiban dulu di musholla di SPBU sebelah loket.
15:45 Masuk LE 151 dengan bodi Skyliner. Yak benar saja, P 321 mengisi LE 151 hari ini, syukurlah gak dapet 1525 walaupun gagal dapet 1626.
Setelah masukin koper ke bagasi, langsung naik ke dalam bus. Pertama yang saya cek adalah leg room, saya kira sempit, ternyata selonjor. Setelah itu saya cek bagasi atas, ternyata gak ada colokan, haduhhh, alamat harus super irit baterai HP nih.

16:06 LE 232 bodi Jetliner (P 266 kayanya) masuk loket. HAHHH??? Gilak!!! Saya kira itu armada yang tiba tadi pagi dan mungkin iseng main ke loket, tapi bodinya kotor dan turunin penumpang. Ah, gila! Kok bisa baru sampe Pekanbaru jam 4 sore. Pikiran saya sih mungkin karena berangkat dari Bandung-Bekasi-Jakarta ngaret dan kena macet parah di tol dalam kota.
16:27 Lewat SAN SR-1 Scania K310. Hmmm wait..... Ini K310 mau ke mana? Bengkulu? Kok lewat Pasar Pagi? Apa emang lewat sini yah? Saya kira mah lewat Kubang. Entahlah.
16:33 Akhirnya pushback juga setelah lama nunggu orang Kantor Cabang datang. Mundur dan maju ke SPBU sebelah loket untuk isi Solar. Ehhhh malah habis Solarnya. Akhirnya ke SPBU berikutnya di dekat cucian Lorena.
17:02 Berangkat menuju Ibu Kota Republik Indonesia setelah isi Solar penuh alias full tank.
17:33 Kres dengan Sempati Star Patas VIP (Jetbus2 HD), buset deh, dari mana ini Sempati? Jam segini baru sampe Pasir Putih. Itu SS lanjut ke Medan bareng bus-bus PKU-MDN. Oh iya, seingat saya, saya jumpa Sempati Star bodi yang sama malam hari di jalan T.Tambusai / Nangka (dari SKA ke Tugu Songket). Entah dari mana dan mau ngapain.
Kondisi di Pasir Putih yaaa gitu lah. Ada yang mulus aspalnya, masih hitam dan masih tanpa marka jalan. Ada juga yang baru dibongkar dan belum ditambal. Ada juga yang rusak, yang rusak pun bukan cuma aspal, beton pun ada yang rusak juga.
Di sini mulai turun hujan, setelah mendung gelap sejak lepas loket. Pembawaan driver pertama ini (Pak Eko) cukup mantap, gak teralalu nyantai kaya naik LE 151 (P 330) setahun lalu. Pak Eko ini, se-pendengaran saya, dia biasa main ke Timur (Jawa Timur atau Bali). Tapiii, hal itu gak membuktikan kalo dia lambat saat jalan di Lintas Timur. Simak aja ceritanya.
17:57 Simpang Beringin, Pelalawan. Simpang pertemuan jalan dari Pangkalan Kerinci, Pekanbaru, dan Perawang.
18:36 Kres LE 150 bodi Jetbus2+ HD. Wah gila ini mah! Dari yang saya dengar juga katanya ada perbaikan jalan di Lintas Timur Riau. Alamat gak bisa Selamat Pagi Tangerang. Tapi apa iya, masa gegara perbaikan jalan (pembetonan) sampe telat 12 jam lebih.
18:52 Simpang Perak. Pangkalan Kerinci bentar lagi nih.
18:58 – 19:03 Loket Pangkalan Kerinci. Gak ada penumpang naik, cuma nurunin paketan aja.
19:28 Kepadatan jalan di mulai. Lepas Jembatan Sungai Kampar, mulai banyak perbaikan jalan. Hal ini saya kembali rasakan seperti pertama kali ke Pekanbaru pada Agustus 2015 lalu.
19:52 Akhirnya lepas dari cor-coran.
Seperti yang saya tadi bilang. Pak Eko ini walaupun biasa main ke Timur, tapi pas main ke Barat (Sumateraan), gak lambat. Lumayan juga, walaupun gak gila. Tapi kencangnya terasa. Top Speed di Lintas Timur Pelalawan sekitar 70 KPJ. Kencang ada, nyantai tapi pasti ada, konstan ada, tempel tipis ada, goyang ada. Komplit lah. Terkadang, pindah gigi aja sampai 2000an RPM, driver ke-2 juga gitu.
20:34 Pangkalan Kuras / Sorek.
20:58 Pangkalan Lesung. Banyak amat nama daerah pake Pangkalan yah di Sumatera, terutama Riau.
21:15 Ukui.
21:52 Pertamina Lirik Field. Wilayah ini saya jadikan patokan bahwa RM Simpang Raya udah dekat.
21:58 – 22:42 RM Simpang Raya bersama SAN Bisnis yang ketemu di loket SAN dan loket Lorena serta Sempati Star 7761 (JB2 K360 Opc) tujuan Jakarta yang baru tiba pas LE 151 mau jalan. Nahhh ini telat amat 7761, macet Lintas Timur (Minas-Duri) atau emang keong.

Di sini seperti biasa yah, menunaikan kewajiban dulu baru ma’em. Makan malam pakai ayam bakar dan nasi tambah seharga 28.000. Set dah, naik terus dah. Waktu naik LE 151 itu 25ribu kalo gak salah dan pas berangkat Jamnas naik FRW kena 26.000 kalo ga salah. Soal rasa, lumayan enak lah, cuma kurang kuah gulai aja. Entah pelit, entah habis. Ya kali habis.
23:01 Menaikkan penumpang di loket Pematang Reba, setelah Pusat Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hulu.
23:28 Loket Belilas.

Jum’at, 14 Desember 2018

00:42 Seberida. Kebetulan pas lagi nanjak, eh disalip dengan agak sadis oleh Sempati Star 7761. Gila tuh SS 7761, bisa-bisanya ngejar. Lingkar kemudi lepas Simpang Raya yang dikendalikan oleh Pak Rustam. Pas SS 7761 ini salip dan di arah berlawanan ada truk, karena geram dengan SS, Pak Rustam seakan gak mau kasih jalan buat SS, bahkan sampai keluar kata ‘songong’ buat si SS. Hahahaha ada yang trigerred nih. Panas, bakalan seru nih ke depannya. Mantap, gak rugi beli minuman kopi.
Setelah LE 151 ngalah dan si SS 7761 makin ngacir, Pak Rustam yang panas langsung mulai percobaan pengejaran si Youngster tersebut. Mencoba mengeluarkan tenaga si OM906LA ini, tapi masih belum mampu mengejar Scania K360 12.700cc 360HP seharga 1,2-an milyar. Harga memang gak bohong, tenaga mesin juga beda jauh. Dan anehnya, kok bisa ‘pemain baru’ ngejoss, walaupun si SS 7761 ini dulunya reguler MDN-PKU dan setelah buka trayek Jakarta, jadi sering juga main ke Jakarta. Tapii yaaa gokil loh, SS MDN-PKU aja boleh dibilang yang paling lambat di rutenya. Lah ini. Mungkin driver ex PO mana gitu yang udah paham Lintar Timur dan paham Scania. Misterius juga itu 7761. Terkejut abang terheran-heeeraannn......
01:10 Keritang, masih di Riau. Bangun-bangun, nampak si SS 7761, coba dikejar, tapi hilang dikegelapan malam Lintas Timur. Tidur lageeee.
04:25 – 04:57 RM Ajo Tonjong, Bukit Baling, Jambi. Di sini saya gak turun, gak laper juga, gak kebelet juga. Jadi, lanjut tidorrr.
06:03 Setelah tidur bangun tidur bangun lalu tidur lagi, jam segini terbangun pas berhenti di Kantor Cabang Jambi untuk naikin penumpang yang salah satunya duduk di seat 1B atau sebelah saya.
06:08 Terminal Alam Barajo Jambi. Wajib masuk.
Overall, kondisi jalan di Provinsi Jambi ini paling baik di antara Provinsi yang saya lewati diperjalanan ini sepanjang Lintas Timur Sumatera. Mayoritas aspal bagus, walau ada sedikit yang tambalan atau rusak ringan. Sempat juga merasakan terang sebelum kota Jambi yang bisa liat hamparan kebun sawit, sayangnnya gak terlalu jelas karena belom terlalu terang.
06:29 Kres dengan LE 232 (lupa bodi, JB2 kalo gak salah) di KM 13 jalan raya Jambi – Palembang. Hmmmm...... jam segini sampe Jambi. Sampe Pekanbaru sebelum tengah malam tuh, mungkin sama kaya saya pertama kali naik LE 150 tahun 2015 lalu.
06:50 Simpang 3 yang memecah jalan menuju Jambi, Palembang, dan Muaro Bulian (sampai Lintas Tengah). Bus tujuan Sumbar, seperti ANS, Gumarang / Lampung Jaya, Epa Star, dan Yoanda Prima beloknya di sini.
07:18 Melewati RM Simpang Raya, Bayung Lencir. RM yang ramai dengan Optimus Prime.
09:14 Eh si SS 7761 lagi minggir karena ada masalah di ban (kayanya) sampe-sampe mobil polisi dateng.
09:26 Kres dengan SAN 7355 Scania K360 SR-2 di Peninggilan, Tungkal Jaya, Musi Banyasin.
Sumpah ya, dari naik LE 151 tahun lalu sampe sekarang, jalan dari Bayung Lencir (masuk Sumsel setelah Jambi) sampe Betung jalannya masih aja begini, jelek parah. Ini jalan kurang perhatian banget dah, sepertinya Pemerintah (bisa pusat, bisa pemprov, bisa pemda, entah yang mana yang bertanggung jawab atas jalan ini) terlalu fokus sama jalan tol dan perhelatan Asian Games di Palembang.

10:27 Sungai Lilin. Gila! Daerah rame aja parah banget jalanannya.
10:43 Melewati RM Pagi Sore, Sungai Lilin. Nampak Sempati Star Super VIP 1526 HDD lagi istirahat. Hei hei hei,,, kamu kan jalan beberapa jam sebelum LE 151.
11:24 – 12:19 RM Musi Indah, Betung bersama Gumarang Jaya dan SAN Bisnis AC yang searah dengan LE 151. Eh dikejauhan nampak juga sebuah bus bersasis premium yang ditutupin terpal, nampak juga ban kanan belakang tinggal velgnya aja. Saya sih tau ini bus apa, bodi apa, sasis apa, kelas apa, dan jurusan apa. Petunjuknya sih ini bus dulu jadi korban laka di sekitar sini.
Setelah turun bus, langsung ke meja kasir untuk charge HP (bayar 2000), abis itu makan. Karena makan di sini mahal, saya pesan aja nasi dengan telor (telor bulat digulai) tanpa dihidang biar gak mahal. Nasi gak tambah dan minum pakai air hangat. Tadinya disediain air mineral botol, tapi pasti berbayar dan mahal, jadi minta air di gelas aja, air hangat biar gratis. Rasa makanan lumayan lah, ada sambal ijo (ada teri juga di dalamnya) juga. Setelah makan, menunaikan kewajiban.
12:41 Kres dengan RAPI napin Stuttgart. Wih jatah Palembang – Medan udah jalan aja.
13:08 Pangkalan Balai, Banyuasin.
14:30 Kres dengan Sempati Star K360 SHD depan Batalyon KM 18. Lupa ini jatah Palembang atau Jakarta.
15:18 Isi solar di Tanjung Api-Api. Kondisi Palembang saat ini udah beda dibanding setahun lalu, terlihat jelas sudah gak banyak proyek dan sudah beroperasinya LRT.
15:40 – 16:13 Kantor Cabang Palembang, ada P 264 juga yang perpal untuk keberangkatan besok. Kabarnya, 264 ini tiba di Palembang jam 2, wah wah wah, jalanan macet nih. Cukup lama yah di sini. Bisa dimanfaatin untuk ke toilet dan menunaikan kewajiban. Tadinya sih mau charge HP juga, eh tapi langsung diserbu sama penumpang LE 151.
16:31 Jembatan Musi 2. Sempat ketemu SS 7761 yang lagi singgah di loketnya. Entah lanjut Jakarta atau stop Palembang tuh SS. Kayanya sih lanjut Jakarta, soalnya masih ada penumpang yang duduk di dalam.
16:42 GT Palembang. Akhirnya merasakan juga tol di Sumsel.
Tol sepanjang 20 KM (kalo gak salah) lumayan banget buat menyingkat waktu dan terhindar dari kepadatan jalanan menuju Indralaya. Di tol ini, OM906LA dipacu sampai sekitar 90 KPJ pada 1800 RPM (kalo gak salah). Sayangnya jalan tol dengan permukaan beton ini gak mulus layaknya jalan aspal. Terasa bergelombangnya. Aspal tetap yang ternyaman lah.
16:56 GT Indralaya.
±17:30 Sekitar jam segini di sekitar Kayu Agung, Pak Rustam mulai menurunkan rem tangan dan akan terus berulang kali terjadi sampai beberapa jam ke depan. Why? Macet.
Macet yang cukup parah, bahkan memang parah terjadi, sampai-sampai banyak mobil yang pakai bahu jalan dan blong kanan. Awalnya saya kira ini macet karena ada truk yang bermasalah di arah berlawanan, makanya macet. Eh abis ini macetnya makin jadi, GOKS! Macet Lintas Timur mengerikan. Sore yang terang walau agak gelap karena awan mendung yang datang telah berubah menjadi malam hari yang ditandai dengan gelapnya langit dan lampu-lampu kendaraan yang mulai dinyalakan. Akan tetapi, macet belum juga terurai. Nikmati saja. Dan kejadian ini FIX lah, gak bisa “Selamat Pagi, Tangerang!” bahkan catatan waktu akan lebih lambat dari LE 151 (P 330) yang saya naiki setahun lalu.

18:27 Kres dengan LE 150 (lupa bodi, Skyliner mungkin) dan Pahala Kencana Jetbus putih biru di Tanjung Agas, Tanjung Raja, Ogan Komering Ilir.
18:44 Kres dengan LE 232 (JB2 1626). Astaga, ini dia yang saya harap, 1626. Mengapa anda baru jalan kemarin. Duhhh haduhhh. Terbayang-bayang ayunan balon suspensi udara dari 1626.
Nah, terjawab sudah mengapa Lorena tujuan Pekanbaru pada telat. Macet di dua titik, Kayu Agung dan Lintas Timur Riau. Sebenernya mungkin 3, kalo dihitung macet di Jawa, tapi gak usah dihitung lah, udah biasa macet di sana.
19:07 Simpang 3 Tanjung Raja, Kayu Agung.
19:18 Akhirnya lepas juga dari kemacetan @Jembatan setelah pasar Tanjung Raja.
Gila yah, macet parah asli tapi masih misterius penyebab kemacetannya. Kalo kata supir truk yang kres pas macet sih katanya ada kendaraan yang bermasalah juga. Lepas kemacetan, Pak Rustam langsung menaikkan tensi berkendara. MB OH 1526 NG dipacu tinggi agar cepat masuk rumah makan. Mantap juga rasanya menerjang jalan Kayu Agung yang tidak bagus ditambah hujan deras itu sensasinya luar biasa. Apalagi pas salip kendaraan. Mantab.
20:20 – 21:17 RM Pagi Sore, Teluk Gelam, Kayu Agung, OKI bersama Putra Remaja Evonext 1521, Giri Indah 1521 Old Legacy, dan SS 7761 yang datang beberapa saat sebelum bus saya jalan.
Sebelum turun, ambil peralatan tempur dulu, abis itu otw kamar mandi. Kamar mandi masjid ya, karena bersih dan gratis. Mandi dulu, abis itu menunaikan kewajiban. Sudah segar, sudah ibadah, saatnya dinner. Tempat yang saya pilih yaitu tempat makan di samping rumah makan utama. Saya makan pakai nasi soto campur dan minum air hangat. Harganya 28.000. Rasanya lumayan, enak buat mengisi perut dan menghangatkan badan. Tapi dagingnya kurang banyak, malah banyakan kikil.
22:03 Agen Lorena, Siberuk. Unik ya namanya.
Selepas RM Pagi Sore, kemudi dikendalikan kembali oleh Pak Eko. Pembawaannya di Lintas Timur santai tapi pasti, gak ngebut, gak lambat. Pembawaan yang santai ditambah kondisi di luar sedang hujan buat suasana cukup syahdu. Apa lagi ada dua orang penumpang yang duduk ke depan sambil cerita-cerita mengenai kehidupan jalanan Lintas Timur dan sedikit membahas mengenai Siba Surya, perusahaan jasa yang terkenal memiliki berbagai macam truk, terutama dari Eropa. Selain itu, saya banyak pakai waktu untuk tidur.

Sabtu, 15 Desember 2018

02:31 Plaza Bandar Jaya. Kres juga sama Lorena dan Sempati Star JB2 Scania.
03:36 – 03:42 Kantor Cabang Lampung @Kalibalok.
04:04 Gardu Induk New Tarahan. Di sini Cuma jalan bareng Telaga Indah Armada (kalo gak salah), toh ujung-ujungnya si TIA disalip LE 151.
04:13 Tanjakan Tarahan.
05:05 – 05:54 RM Siang Malam Kalianda bersama TIA, 6 unit Damri arah Lampung, dan LE 150 JB2+ (P 289) yang baru tiba saat bus akan jalan.


Cukup lama di sini karena menunggu Lorena yang mengarah ke Palembang atau Pekanbaru untuk menitipkan sesuatu ke agen Siberuk kalo gak salah. Di sini saya menunaikan kewajiban dan gak makan, tapi beli nasi goreng yang dibungkus buat sarapan di atas kapal. Waktu makan di atas kapal lebih cocok, pas sama jam sarapan normalnya.
06:13 GT Bakauheni Utara. Akhirnya, di trip kali ini, setiap ada ruas tol, dimasukkin. Sayang tol ini, pada saat saya melakukan perjalanan ini, belum sampai Terbanggi. Di tol ini bus tidak terlalu dipacu cepat seperti di tol Palindra (Palembang – Indralaya), hanya sekitar 70kpj.
06:17 GT Bakauheni Selatan. Uniknya, kendaraan yang mengarah ke Pelabuhan tidak bisa cepat dan harus banyak mainin rem karena turunan, sementara yang dari arah Pelabuhan harus mengeluarkan tenaga yang lebih karena jalanan yang menanjak panjang. Tapi jalanan menanjak ini tidak separah jalanan dulu yang lebih curam dan sering bikin kendaraan besar harus berhenti dan menanjak perlahan.
06:22 Masuk area Pelabuhan Bakauheni. Cukup lama juga pengecekkan sebelum antri di gardu pelabuhan.
06:31 Gardu pembayaran penyebrangan Pelabuhan Bakauheni. Setelah di gardu, masuk dermaga dulu buat laporan sama Dishub. Sungguh membuang waktu.
06:47 Masuk KM Jatra II bersama Sempati Star (7815) 1526 HDD. Kondisi kapal tidak penuh dan dapat kapal yang cukup kecil. Padahal tadi ada kapal yang besar, tapi telat sekian putaran.
07:00 Kapal jalan.
Fasilitas di kapal ini gratis, baik kelas kabin maupun toilet. Hmmmm,,,,, bentar..... Kayanya saya kenal sama interior kelas ini. Kayanya saya pernah naikin kapal ini pas pertama kali naik Lorena, LE 150 (P 203) pada Agustus 2015 lalu. Dulu pas masuk kabin kelas harus bayar 10.000. Sofanya persis sama kaya yang dulu. Waktu di kapal saya habiskan untuk makan nasi goreng yang rasanya lumayan yang seharga 20.000, charge HP, tiduran, dan ke toilet. Ombak sepanjang perjalanan lumayan terasa, apalagi ini bukan kapal besar, tapi gak separah waktu naik KM BRR di Sabang – Aceh beberapa bulan lalu yang bikin pusing dan mual.
10:33 Kapal bersandar. Akhirnya, setelah ngetem di tengah laut dekat pelabuhan sekian jam, bisa berlabuh juga.
10:40 Keluar kapal. Keluarnya cukup gaspol, soalnya ombak lumayan galak, telat dikit bisa gasruk. Tapi Alhamdulillah Pelabuhan masih beroperasi dan bisa bersandar walau total waktu penyebrangan lebih dari 3,5 jam. Masih mending daripada Desember tahun lalu, Pelabuhan ditutup berjam-jam karena ombak yang ekstrim, bahkan kayanya ada kapal yang terombang-ambing di tengah laut karena Pelabuhan ditutup.
10:43 Loket Lorena @Merak. Seperti biasa, wajib mampir.
Sebelum masuk tol, kru beli aksesoris dulu di sebuah toko. Kayanya sih lampu sein tambahan untuk dipasang di samping bus.
11:02 GT Merak.
Di tol, sempat kena hujan, syahdu juga. Pak Rustam juga bawa si 321 ini cukup konstan, maksimal kecepatan di angka 90. Sayang tol yang ruasnya masih dua lajur sering melambat karena banyaknya truk.
11:58 GT Cikupa.
12:09 Exit Tangerang. Saya kira LE 151 akan masuk Cikokol dan lanjut Kali Deres, eh ternyata engga. Keluar Tangerang, trus masuk tol lagi. Jadinya saya pindah titik turun di Rest Area Karang Tengah.
12:18 GT Tangerang 2.
±12:22 Finish Rest Area KM 13 Karang Tengah.

Selesai sudah perjalanan saya kali ini yang sekaligus sebagai trip penutup di 2018. Mudah-mudahan bisa balik ke Pekanbaru naik LE 150 lagi hahahaha.
Overall, agak kecewa karena gak dapat MB 1626 dan waktu tempuh yang lebih lama karena banyaknya perbaikan jalan dan kemacetan serta ombak yang cukup tinggi di Merak. Tapi cukup senang bisa dapat duet pengemudi yang tidak nyantai. B aja sih kayanya trip ini, mungkin karena udah beberapa kali juga ngebis di rute ini.


DETAIL BUS

Bus: Lorena (PT Eka Sari Lorena Transport Tbk)
Kode bus: P 321
Kode jurusan: LE 151 (Pekanbaru – Jambi – Palembang – Jakarta – Bogor)
Tarif: 413.231 (harga normal 490.000)
Nomer kursi: 11
Jumlah kursi: 32
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Mercedes Benz OH 1526 NG
Bodi: Skyliner (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, smoking area, rec.seat, bantal, selimut
Waktu tempuh: 43 jam dan 49= menit.


PENILAIAN

+ Kru ramah.

- Gak ada colokan listrik

Itu aja kayanya penilaiannya. Seperti di atas, mungkin karena udah beberapa kali juga ngebis di rute ini.

Senin, 17 September 2018

Jalan-Jalan ke Sabang Naik Putra Pelangi Non Stop Hanya Bayar Setengah Harga

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Ini adalah postingan cerita lanjutan dari postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya berisi mengenai perjalanan ke Toba – Samosir yang dimulai dari Pekanbaru – Medan – Parapat – Samosir – Parapat – Medan. Jika belum membaca postingan sebelumnya, silakan klik Pekanbaru - Medan - Toba Samosir ini biar gak setengah-setengah bacanya. Jadi, saya akan lanjutkan kembali ceritanya.

MEDAN - BANDA ACEH 

Jum’at, 7 September 2018
Setelah turun bus Sejahtera di Simpang Amplas, saya naik angkot bernomer 64 menuju Simpang Ring Road, dekat Mall Manhattan dan loket / pool Sempati Star. Tujuan asli saya ya ke pool Putra Pelangi di jalan Sunggal. Karena saya gak tau angkotnya yang lewat situ, jadi yaaa naik angkot nomer 64 aja. Dari tempat turun nanti tinggal jalan kaki aja ke pool Putra Pelangi.
Setelah bayar ongkos 10.000 untuk turun di Simpang Ring Road, saya ke Masjid di seberang SPBU samping pool Sempati Star untuk sholat Ashar dan Maghrib dan diselingi makan siang yang dirangkap makan pagi dan makan malam. Selesai sholat Maghrib, saya jalan kaki ke pool Putra Pelangi yang juga sekaligus melewati loket-loket bus Aceh, seperti Kurnia, PMTOH, Sanura, New Aceh Tengah, Harapan Indah, ATLAS, dan New Pelangi.
±19:30 tiba di pool Putra Pelangi. Saya kira mah sebentar jalannya, 10-15 menitan gitu. Gak taunya lumayan juga, lebih dari perkiraan.
Sampai di pool, langsung ke loket untuk tukar tiket dengan menunjukkan bukti booking dari Traveloka berupa SMS, agak malas aja kalo kasih yang berupa e-ticket di e-mail. Proses cepat dan tidak ada masalah. Mantap josss, gua demen nih yang beginiii. Beli tiket secara online dan gak ada masalah sedikitpun. Oh iya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya sempat e-mail ke Putra Pelangi untuk mengkonfirmasi tiket pesanan saya yang saya beli melalui Traveloka. Tiket saya sudah dikonfirmasi. Tidak ada masalah. Rekomen lahhh.

Berhubung masih 1 jam-an lagi berangkat, nge-charge HP dulu lah. Oh iya, saya dapat armada dengan plat nomer BL 7548 AA “King of the Road”. Malam itu gak ada penampakan Jetliner Scania K410 yang kelas Executive dan Legacy SR-2 XHD Prime. Entah ke mana 2 bodi ini, mungkin jalan pariwisata.
20:46 King of the Road mulai menaikkan jarum speedometernya. Lepas loket jalannya gak langsung di gas pol, cenderung santai nyaman. BTW, driver pertama ini penampakannya beda dari driver Non Stop lain yang pernah saya liat. Udah agak berumur, terlihat dari udah banyak uban. Tapi ada nilai lebih dari driver pertama ini, yaitu soal lagu. Saya bahas ini di bawah.
Masalah interior sih gak ada masalah. Leg room lega, apalagi saya yang di tengah gini, pandangan ke jalan paling luas. Kursi masih oke lah, kayanya sih ini kursi bekas Non Stop sebelumnya yang pake MB 1626 atau MB 1836. USB charger berfungsi penuh. Cuma wifi aja yang gak nyala. Yahhh, penyakit bus kebanyakan lah.
21:16 Binjai. Hujan melanda Binjai malam itu. Cukup syahdu juga.
21:30 salip Putra Pelangi 7545 (MB 2542) dan Pusaka 7723 (F1 / Jablay) O500R 1836 yang lagi menepi. Lahh, itu dua bus keberangkatan jam 8 (20:00) masih aja di sini.
Di jalan, kru sempat berdiskusi mengenai insiden yang belum lama ini terjadi. Insiden tunggal di mana tronton 2542 berwarna merah terbalik belum lama ini. Dari yang saya dengar, si tronton ini terbalik entah pas atau setelah tikungan dan ditambah kondisi jalan yang licin/basah karena hujan. Kru 7548 bilang, biarpun punya anti-slip atau traction control, kalo jalan licin tetap aja gak boleh kencang, berbahaya, apalagi pas tikungan. Wah ngeri juga ya kalo dibayangin, pas tikungan jalannya di atas kecepatan rata-rata pas nikung ditambah jalan licin. Safety Riding, Guys.
22:00 mulai terjebak kemacetan di beberapa meter sebelum bundaran Stabat. Parah macetnya untuk ukuran jalanan Sumatera. Dengar dari driver pertama sih ini macet karena ada pohon tumbang. Gile yah, sampe begini. Ini macet sekitar 1 jam loh, entah lebih apa engga, soalnya saya tidur.
Pas beberapa menit setelah terjebak macet sih agak bosan juga, udah TV gak ada, AVOD gak ada, musik juga gak nyala. Pas ngerasa begitu, gak lama kemudian diputar lagu. Bisa pas yah. Untuk urusan playlist lagu di 7548, bukan maen dah, berkelas. Lagu yang diputar lagu Barat, ada yang instrumen, instrumen remix santai, dan lagu yang enak didengar lah walaupun lawas. Playlist yang sesuai dengan saya ini gak berganti sampai besok pagi. Mantap lah.
23:23 disalip Pusaka F1 dan selanjutnya disalip juga oleh Putra Pelangi 7545 di Tanjung Pura pas naikin paket.
Sepanjang jalan, driver pertama ini rasanya agak geram saya dibuatnya. Terlalu segan untuk menyalip, gak seperti Pusaka F1 yang saya naiki waktu itu yang cenderung arogan dan galak di jalan. Driver pertama 7548 ini, bagi saya, agak banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk salip kendaraan di depan, padahan ada ruang di arah berlawanan untuk menyalip. Yaaa biarpun kelas SE yang harus nyaman, gak gitu juga sih kayanya.
23:49 mlewati proyek pengerjaan jembatan. 7548 sempat lawan saat arah saat sepi dan masuk di belakang 7545.

Sabtu, 8 September 2018
00:00 Pangkalan Brandan. Gak lama, kress dengan 3 unit Sepakat Grup. Bukan bus, tapi truck. Ketiganya berbeda pabrikan, tapi gak ada satupun yang Scania. Ketiganya, yaitu UD Quester, Mitsubushi Fuso, dan Hino.
00:16 salip Kurnia kotak sabun alias Kurnia Cargo. Hmmm gak asik yah, salipnya bus Cargo, walau pake OH 1521 yang bisa gahar di jalan, yaa namanya juga bus Cargo. Gak kasih perlawanan berarti lah.
00:59 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
03:53 Lhokseumawe. Di sini ketemu Putra Pelangi 1626. Saya kira bakal kasih perlawanan, eh si 1626 malah menepi kaya ATLAS EvoGT ex Pandawa 87 dan PMTOH HDD.
03:58 aplusan alias pergantian driver. Selagi menepi ini, di salip ATLAS dan PMTOH yang tadi.
05:39 saya terbangun di Pidie, tepatnya (kayanya) di Jangka Buya, saat ketemu New Pelangi Jetbus 2, entah RK atau RN. Si NP ini kecepatannya udah di atas 100 kpj, akan tetapi berhasil disalip 7548 di kecepatan 120+ kpj. Nahh keluar juga speedo mentoknya. Mayan asik juga, mana abis salip NP, gak lama abis itu ada belokan.
04:39 Bireuen.
05:45 – 06:11 Masjid Besar At Taqarrub, Trienggadeng, Pidie Jaya. Melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim dan kewajiban bus Aceh. Ada New Pelangi yang tadi juga di sini.
06:25 melewati aktivitas yang cukup ramai di Pasar Lueng Putu, Pidie.
07:31 melewati Masjid Baitul Muttaqin, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Kress juga sama Anugerah O500R 1836 JB2 yang jadi angkatan pagi B.Aceh – Medan (kayanya).
Di Seulawah ini pun gak spesial kecepatannya. Masih lebih cepat 1836-nya Harapan Indah 7390 dan Puska 7723 yang pernah saya naiki sebelumnya. Agak greget juga sih. Jadi driver pertama dan kedua ini sama aja. Sama-sama santai. Tapi okelah, saya gak ngejar waktu. Lagipula naik SE kok. Shantai aeee.
07:44 SPN Seulawah.
08:38 menurunkan penumpang di bundaran Lambaro.
08:48 tiba di Terminal Batoh, Banda Aceh. Setelah turun bus, saya ke toilet dulu, abis itu beli tiket balik. Karena saya balik hari Minggu, jadi beli sekarang saja biar gak kehabisan tiket. PJKA time brooo.
Loket tujuan pertama saya adalah loket KAP Group. Saya masih berkeras untuk naik AW Series, dibanding naik Sanura dengan diskon 30% dari Easybook dan Putra Pelangi dengan diskon 10%, cashback 25%, dan potong saldo dari redBus. Di loket KAP, saya pesan Kurnia yang tronton Scania. Saya pilih nomer kursi 24 (5B), karena nomer ini berada setelah pintu tengah yang sekaligus di pintu tengah tersebut ada toilet dan sekat. Nomer kursi tersebut, dari yang saya lihat di FB atau IG dan tontondi Youtube, menurut saya punya leg room paling lega dibanding seat baris kanan maupun baris kiri sebelum toilet/pintu tengah.
Mengenai harga, yang saya tau dari grup FB Kurnia Group (KAP), kalo AW dari Banda itu 220rb, kalo dari Medan 240rb, dan juga kalo di Banda ini bisa nego. Makanya saya coba nego 200rb, tapi gak bisa, katanya ini mobil baru, gak berani kasih harga segitu. Mungkin emang saya aja yang gak jago dalam negosiasi. Deal harga tiket di angka 210.000. Yaaa oke lah, 210rb dapat Scania K410 bodi anyar Jetbus 3 SHD walau gak bisa 180rb kaya Sanura K410 sebelumnya hehehehe.
Selepas beli tiket, saya langsung ke halte Trans Koetaradja di depan terminal. Cukup lama juga nunggu BRT Aceh ini, masih mending Trans Metro Pekanbaru juga.
09:21 – 09:34 menuju Masjid Raya naik Trans Koetaradja koridor 2A (Blang Bintang – Pusat Kota). Okupansi BRT Aceh ini bagus loh, harusnya ada penambahan armada dan jadwal serta halte, karena armada, jadwal, dan halte saya rasa masih kurang banyak.
09:43 – 09:57 setelah transit di halte Masjid Raya, saya naik koridor 2B (Pusat Kota – Ulee Lheue). Rute yang dilewati cukup enak, lewat beberapa obyek wisata, salah satunya Museum Tsunami. Oh iya, awalnya saya kira naik Trans Koetaradja udah bayar, eh ternyata masih GRATISSS..... Mantap.
Turun bus, saya menuju loket yang sayangnya cuma buka 1 saja. Ternyata saya ketemu sama penumpang PPP 7548 tadi (kayanya), yang saya nguping sih rombongan ini ketinggalan kapal cepat karena telat sampai Banda Aceh, jadi beli lagi tiket kapal tapi yang kapal lambat atau Ferry. Saya sih emang maunya naik yang Ferry aja, biar murah. Eh tapiii gak murah juga sih, lah saya pilih yang kelas VIP (bukan ekonomi) yang harganya 58.000 + 2.000, jadi 60.000, sementara yang ekonomi cuma 27.000. Lah saya kan sesekali aja dan pengen istirahat juga di jalan, gak ada salahnya lah pilih yang harganya 2x lipat dari Ekonomi.
Kapal yang jalan saat itu KMP BRR, yang ukuran kapalnya lebih kecil dari kebanyakan kapal di Selat Sunda, tapi masih lebih besar dari kapal ferry di Toba-Samosir dan Ketapang – Gilimanuk. Kelas VIP ini pakai AC dan sofa. AC dingin, sofa empuk, tv ada tapi gak nyala, toilet ada 2, pelampung keselamatan lengkap, ada colokan listrik juga tapi di bagian depan. Waktu tempuh Ulee Lheue – Balohan (Sabang) saat itu 1 jam dan 50 menit. Berangkat jam 10:30 dari Ulee Lheue. Di tengah jalan, ombak terasa kencang, cukup bikin agak sakit kepala juga. Mungkin goyangannya lebih terasa karena kapal yang lebih kecil dari yang biasa saya naikin di Selat Sunda dan juga di sebelah Barat langsung menhadap Samudera Hindia sementara di sebelah Timur ada Selat Malaka.

Merapat di Balohan ternyata kapal harus putar dulu 180 derajat biar kendaraan keluar kapal engga jalan mundur, tetap jalan maju dan yang masuk duluan, keluar duluan. Keluar kapal saya langsung komunikasi sama pak Abdullah, yang punya rental motor yang saya akan pakai motor rentalannya di Sabang. Komunikasi via WA lancar, dan cepat tanggap, orangnya sering stay di pelabuhan untuk cari turis/wisatawan yang butuh rental motor. Biayanya 100.000 per hari, saya dapat Mio 125 (Matic, rental jaman now susah yang ada oper gigi hehehe), ada helm bawaan honda juga yang sudah tidak bisa di-klik hahahaha. Jaminannya, Cuma KTP kita yang di foto. Katanya kalo bailikin motor ke tempat di bawah pohon dekat pelabuhan. Sip lah.
Keluar pelabuhan, saya beli Premium dulu 1 liter seharga 10.000. Di sini gak ada Pertalite untuk eceran, kalo di SPBU ada kali yah. Di simpang setelah gerbang pelabuhan, saya pilih yang menuju Danau Aneuk Laot, sesuai papan petunjuk arah. Dannn seperti yang saya duga, karena saya orangnya gak terlalu tertarik dengan obyek wisata dan lebih suka menikmati perjalanan. Jadi, Danau Aneuk Laot ini cuma lewat aja, lagi pula saya pikir jalannya lewatin pinggir danau, gak taunya agak jauh lagi ke Danau-nya. Di jalan, cuma keliatan sedikit doang danau-nya. Dari sini saya langsung tembak ke Iboih.
Jalan di Sabang ini cukup asyik, seru, dan menantang buat saya yang biasanya cuma berkendara di jalanan kota. Jalannya mayoritas bagus dan banyak yang mulus. Banyak turunan dan tanjakkan, mulai tanjakkan letter S beruntun sebanyak 2 kali yang abis itu langsung tanjakkan panjang. Wah mantap juga nih jalan. Karena saya kalo naik motor itu santai dan menikmati perjalanan, indikator ECO di motor jarang mati, mati pun kalo di gaspol/geber pas tanjakkan. Di tengah perjalanan, saya khawatir sama bensinnya, jarumnya udah di dekat merah. Jadi, saya tambah lagi 2 liter. Pas udah nambah 2 liter, eh malah penuh. Eh dasar kampret, amperenya dablek ternyata. Tau gitu nambah 1 liter aja. Lagi pula motor matic jaman now mah irit.
Setibanya di kawasan wisata Iboih, bayar dulu retribusi 5.000, padahal di karcis cuma 2.000, pffttt. Karena belum jam 2 (14:00) siang, saya tembak lagi ke tugu KM 0. Jalanan kali ini tidak selebar tadi, tapi kalo udah dekat KM 0 udah lebar. Jalanan mulus, ada banyak turunan, tanjakkan, tikungan, dan turunan/tanjakkan panjang. Mantap kali lahhh.
Tiba di KM 0 ya gitu. Foto-foto sikit aja. Di depan tugu ini, langsung terhampar luasnya Samudera Hindia. Gak lama di sini, abis itu saya ke Musholla buat sholat Zuhur, tapi keran wudhunya gak keluar air, aihhhh. Sholat di penginapan aja lah. Parkir di sini bayar seiklasnya. Lalu, kalo mau beli baju dan pernak-pernik juga ada di sini.
±14:00 check in penginapan. Saya menginap di Iboih Bungalow. Pesan kamar di Traveloka dengan harga kamas 142.249 sudah dipotong diskon. Lokasinya di lokasi wisata Iboih. Depan penginapan atau seberang jalan sudah pantai dan nampak pulau Rubiah, lokasi tujuan untuk snorkeling. Saya dapat kamar di lantai paling atas, viewnya mantap, langsung pantai, laut, dan pulau. Indah sekali. Air lautnya berwarna biru, bahkan sampai biru muda terang. Fasilitas kamar ada kasur, bantal, handuk, kipas, dan colokan listrik, serta jendela. Ada balkon juga kalo mau menikmati pemandangan yang cukup indah. Kamar mandi di luar yes, di lantai dua, kamar mandi bersama. Karena saya lelah, saya tidurrr. Soal makan, saya beli nasi bungkus isi ikan seharga 18.000. Lebih mahal seribu dari makan dengan menu yang sama saat di Toba Parapat.

Minggu, 9 September 2018
09:45 setelah packing dan mandi, saya pamit check out. Saya juga diberikan kartu nama jika lain kalii mau snorkeling. Harga paket snorkelingnya 550.000 dengan minimal 4 orang kalo gak salah, masih bisa nego loh. Petugas sekaligus yang punyanya ramah loh. Sebelum gas motor, saya dikasih Aqua 600ml yang lupa dikasih pas baru masuk. Mayan lah, irit sikit hehehe.
Rute menuju Balohan yang saya ambil sekarang ini melewati kota Sabang, tidak motong lewat Danau Aneuk Laot yang jalannya relatif sepii kaliiii. Di kota Sabang, saya sempat muter-muter karena bingung jalannya. Overall jalanannya bagus. Mau mampir sana-sini malas. Oh iya, sebelumnya, saya makan dulu entah di mana, sebelum kota Sabang lah pokoknya. Kali ini dahsyat harganya, 32.000 makan pakai telur balado, tempe goreng, peyek udang, dan es teh manis.
Balik lagi, di kota Sabang ini ada 2 SPBU yang jarakmya tidak terlalu berjauhan. Lahh ilah, begitu yak. Ada juga bandara, sempat tengok Garuda Indonesia Xplore dengan armada ATR yang sepertinya menuju Banda Aceh. Bagi saya yang gak biasa pakai motor matic ini memang repot yah. Ada waktu pas di jalan lebar di mana satu arah ada dua lajur dan di antara dua arah ini ada trotoar. Kalo menuju Balohan jalannya menurun, pas turunan yang klimaks, agak ketar-ketir juga dibuatnya, udah rem (dengan cara dicicil, bukan ditekan terus remnya, nanti mengunci takutnya) masih tembus 60 kpj, mana abis turunan ada belokan yang lumayan pula. Hmmmm gila yah, udah di rem aja masih tembus 60. Kalo manual mah enah, bisa pake engine brake dengan cara turunin gigi. Kalo ada retader lebih mantap ini hahahaha. Dan kayanya bisa tembus 60 itu kena idling stop deh, jadi mesin mati, pas di gas nyala lagi.
Sebelum ke pelabuhan, saya istirahat dulu di Masjid Balohan sembari nunggu Zuhur. Lepas Zuhur berjamaah, langsung ke pohon tempat janjian dengan pak Abdullah untuk kembalikan motor. Overall motor gak ada masalah, aman dan lanjar jaya. Bensin pun jarumnya masih setengah kurang.
Pas balikin motor, saya tanya di mana loket kapal lambat (Ferry), ternyata ada di dalam dan saya di antar pak Abdullah sampai dekat loket, karena gerbang utama sudah tutup, hanya gerbang kecil yang muat untuk motor lewat. Syukurlah masih ada kapalnya walau sudah cukup penuh. Terima kasih kepada pak Abdullah. Rekomen lah sama dia.
13:05 saya beli tiket di loket. Beli tiket dengan kelas yang sama, VIP seharga 60rb.
Masuk ke dalam kabin VIP ternyata okupansinya lebih sepi. Naik kapalnya tetap sama, KMP BRR. Waktu tempuh sama, 2 jam kurang 15 menitan, mulai gas jam 13:30 lewat. Dan saya sadar kalo di Ulee Lheue – Balohan ini, waktu bongkar muatnya 1 jam, sementara di Ajibata – Tomok (di Danau Toba) waktu bongkar muatnya hanya 30 menit. Pas keluar kapal, sudah banyak orang yang menunggu masuk. Wahh iya ya, ini hari Minggu, saatnya pulang.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7548 AA "King of the Road"
Kelas: Non Stop (Super Executive seat 2-1)
Jurusan: Medan – Banda Aceh
Tarif: 140.601 setelah diskon (aslinya 280.000 / 260.000)
Nomer kursi: 1B
Jumlah kursi: 26
Merk kursi: Karya Logam
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetliner HD (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, WiFi, sekat belakang.
Waktu tempuh: 12 jam dan 2 menit.


PENILAIAN

+ Pemesanan tiket mudah. Gak ada masalah

- Waktu tempuh agak kurang mantap buat kelas Non Stop.