Tampilkan postingan dengan label Putra Pelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putra Pelangi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2019

Mencoba Tronton Bertransmisi ZF Ecolife di Jalur Ekstrim | Bengkulu - Pekanbaru via Padang

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)

Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.

Assalamualaikum wr wb. Kembali lagi di blog saya. Postingan ini adalah postingan lanjutan mengenai perjalanan saya menuju “Bumi Raflessia”, tepatnya postingan ini adalah bagian saat saya kembali berangkat dari Bencoolen menuju arah utara. Kota tujuan selanjutnya adalah Padang. Sebenarnya postingan ini mau di upload pada bulan April kemaren, tapi harus mangkrak/hibernasi sampai akhir Mei.

Padang saya pilih menjadi kota tujuan selanjutnya karena saya ingin merasakan SAN 2542 SR-2 XHD Prime yang jadi primadona dan satu-satunya sasis tronron yang mengaspal di Lintas Tengah Sumatera. Tiket saya tebus dengan harga 235.000 dengan nomer kursi 23 atau 7C. Maklum, go show, sedapetnya aja. Masih untung dapet, daripada kehabisan dan malah nanti naik PR atau putar balik menuju Pekanbaru.

Sebenarnya sih saya rencananya mau beli tiket di RedBus, biar murah hehehe. Tapiii, sudah dua minggu lebih sebelum saya berangkat touring, SAN hilang dari RedBus. Sangat disayangkan memang. Jadi nambah biaya touring deh. Tapi rapopo lah, touring harus tetap jalan.

Perjalanan ini menjadi perjalanan yang cukup spesial bagi saya, karena ada hal-hal pertama bagi saya. Pertama, ini pertama kalinya saya naik bus berbodi Legacy SR-2 dan yang XHD Prime pula. Kedua, ini pertama kalinya saya naik sasis MB OC500RF 2542 versi transmisi ZF Ecolife setelah 3x naik 2542 generasi awal yang pakai transmisi ZF Astronic, udah gitu Jetliner semua pula hahahaha. Hal yang paling bikin saya penasaran adalah 2542 Ecolife ini. Ada yang bilang 2542 Ecolife ini bus dengan transmisi bus kota / bus BRT.
Hal spesial lainnya ialah saya akan melewati jalur Bengkulu – Lubuk Linggau di hari terang. Nampaknya jalur ini cukup indah untuk di nikmati saat hari terang. Sayangnya, saya harus duduk di kursi bagian tengah, jadi kurang puas menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Jadi, bagaimana impresi saya naik 2542 Ecolife di rute ini? Silakan disimak cerita ini. Semoga terhibur.


Rabu, 6 Maret 2019

13:07 tuas handbrake diangkat dan pedal gas mulai diinjak, sementara roda mulai berputar yang membuat bus ini berjalan keluar dari rumahnya di Rawa Makmur atau jalan MT Haryono, kota Bengkulu. Tidak jauh dari pool SAN, ada loket PR dan nampak satu armada yang stay, yaitu bus bermesin depan. VVADOOOO..... Hino AK.......
13:12 menaikkan penumpang di loket Pasar Minggu. Gila juga ini. Ini jalanan cukup ramai dan jalannya juga tidak lebar alias sempit. Bisa-bisanya kendaraan 13,5 meter masuk dan berhenti sejenak di sini. Akamsi mah bebas lah.
13:47 melewati kantor Bupati Bengkulu Tengah
Yak, impresi awal dari transmisi Ecolife dari ZF yang ditanamkan di sasis 2542 ini mulai saya rasakan dan saya sudah bisa nilai. Impresi awalnya ialah luar biasa halus. Perpindahan gigi atau percepatan di 2542 Ecolife ini sangatlah halus, bahkan suara perpindahannya hanya samar-samar atau gak jelas. Udah kaya pure matic aja gitu. Berbeda dengan Scania Opticeuise yang perpindahan giginya cukup terdengar, terutama di Scania 7 speed milik K360 (versi Opticruise). Lalu bagaimana penilaian selanjutnya? Apakah impresi awal ini menjadi impresi final saya mengenai 2542 Ecolife ini? Simak terus ceritanya.
14:25 kres SAN Golden Dragon. Uwawww,,,,, sepertinya ini bus dari pulau Jawa, baru sampe sini yah.
14:37 masuk Kabupaten Kepahiang.

Jalanan setelah masuk kabupatan Kepahiang ini cukup ekstrim, jalannya naik turun + berkelok + sempit, mayoritas sih jalannan menanjak. Bayangin,,,,,eh gak usah bayangin deh, liat aja videonya di YouTube, banyak kok. Pokoknya di jalur kaya gini, bus, apalagi 2542 ini, bakalan sering bunyiin klakson buat kasih tanda ke kendaraan di arah berlawanan. Gak sekali dua kali juga bus sampai harus berhenti buat bergantian pada saat belok. Gak sekali dua kali juga lewat belokan tajam. Sebenarnya saya sudah ada impresi selanjutnya mengenai 2542 Ecolife ini, tapi saya tahan dulu sampai keluar dari jalur eksotis nan ekstrim ini.
14:57 Loket Kepahiang
16:01 – 16:16 terminal Nangka, Curup. Terminal yang,,,,sepi-sepi ajah. Seperti yang sudah diketahui, penjual gorengan di sini cukup menjadi primadona bagi penumpang. Lumayan buat ganjal perut. Saya juga beli gorengan 5000 (isi 5) buat ganjal perut dan langsung habis sebelum bus kembali jalan hahahaha.
Selepas terminal Nangka, hujan turun dan diikuti dengan datangnya kabut. Adanya kabut, pertanda daerah ini berada di dataran tinggi. Benar saja, sepanjang jalan banyak kebun sayur. Sepertinya kabupaten ini jadi pemasok sayur-mayur bagi wilayah Bengkulu – Lubuk Linggai dan sekitarnya. Segar mata kalo liat beginian. Udah muak liat macetnya perkotaan.
17:37 kres Putra Raflessia Skyliner 1626 hijau. Wadohhhh,,,,,ini lagi baru mashokkk.
17:51 masuk Lubuk Linggau.
18:05 – 18:11 Loket SAN Lubuk Linggau
18:19 – 19:02 RM Simpang Raya, Lubuk Linggau. Masuk RM langsung menunaikan kewajiban dulu, abis itu makan. Saya makan pakai nasi goreng dengan isian telur eye cow. Rasanya? Hambar cok! Njir, gak nikmat amat makan kali ini. Telornya sih masih mending ada garamnya sedikit. Husnudzon aja, mungkin saya disuruh diet hahahaha.
20:15 berhenti di penjual Duku di pinggir jalan.
Lubuk Linggau ini ada jalan lurus sepanjang sekian kilometer hehehe. Bahkan, mayoritas jalan sampai Sumbar jalannya banyak yang lurus. Setelah melalui jalan lurus yang panjang, bahkan sampai top speed 100+ kpj di Ulysse Speedometer, saya sudah bisa menyimpulkan mengenai 2542 Ecolife ini.
Transmisi Ecolife dari ZF yang ditanam di dalam 2542 memang cocok, bahkan sangat cocok dan mantap,,,,,,,,, di jalan lurus. Perpindahan gigi halus sekali. Namun sayang, saat menemui jalan menanjak, sepertinya kurang cocok. Mungkin perasaan saya aja kali ya, terutama saya ini awam mengenai hal teknis di dunia otomotif. Tapi saya merasakannya ya begitu. Ecolife ini kurang bertenaga saat jalan menanjak, maksudnya saat mulai menanjak mulai dari kecepatan rendah, kaya akselerasi gitu lah. Kaya terasa lamanya.
Hal baik dari Ecolife ini memang transmisi yang halus dan sangat cocok di jalan lurus. Pernah nonton video mas Andriawan Pratikto di YouTube? Yang suara 2542 (Ecolife) Lorena seperti suara jet? (https://www.youtube.com/watch?v=gXQk2FaeqW4Suaranya sama seperti yang saya naiki, hanya saja suaranya halus atau nyaris tidak terdengar. Dannnn,,,,, di kecepatan 100+ kpj, 2542 dengan bodi SR-2 XHD Prime ini sangat stabil. Wow, luar biasa impresif. Padahal pas naik K310, di 100+ kpj, sudah agak terasa melayang. Mungkin juga itu karena posisi duduk saya atas roda.
20:50 Pasar Singkut
21:04 Polres Sarolangun
21:20 Terminal Sri Bulan, Sarolangun
22:14 Terminal Pulau Tujuh, Bangko bersama ALS Jetbus MB 1626
22:33 kres SAN 2542 dan NPM
Saya sebenarnya bosan di perjalanan ini. Mengapa? Karena duduk di tengah, gak bisa liat jalanan. Udah gitu saya melek terus pula karena abis minum kopi. Parahnya lagi, kalo mau tidur, leher dan kepala sakit. Parahnya juga, kursi AMG yang awalnya saya kira Aldilla, karena dari depan mirip Aldilla, tidak lebar. Jadi gak nyaman aja gitu. Mending kursi lebar, tapi lorong sempit. Toh waktu di dalam bus juga banyak dihabiskan untuk duduk, bukan mondar-mandir di lorong bus.
23:43 jalan dari terminal Muaro Bungo

Kamis, 7 Maret 2019

01:25 – 02:05 RM Umega, Gunung Medan bersama SAN Bisnis AC Bukit Tinggi. Di sini saya menunaikan kewajiban dan makan. Gak makan berat, tapi makan Pop Mie aja buat ganjal perut.
02:13 jalan dari SPBU
Setelah jalan dari RM dan SPBU. Saya baru teringat mengenai entertainment di bus ini yang diusung oleh MSI Funtoro. Saya kira mah AVOD gitu, tapi kok gak ada. Saya Cuma liat antena router di atap bus ini yang berjumlah dua buah. Saya kira WiFi, saya coba aja sambungin ke hp saya. Eh ternyata ada. Saya kira internet beneran. Taunya ini entertainment MSI Funtoro itu toh. Kaya AVOD tapi hiburannya di smartphone sendiri (dihubungkan melalui jaringan nirkabel) tapi tanpa layar di belakang kursi. Mirip kaya yang ada di HarJay Double Decker lah. Pilihan hiburan (film, lagu, dll) juga lumayan lah buat menghibur.
Sialnya, hal ini baru saya sadari setelah masuk Sumbar dan baterai low. Kenapa gak pas di Lubuk Linggau tadi aja coba. Selain itu, hp saya yang low battery juga malah saya malas ngecharge. USB portnya ada di dinding, dekat penumpang sebelah. Gak mantap buat penumpang di lorong kaya saya. Tapi memang USB port ini sangat membantu loh.
02:22 Overtake SAN Bukittinggi
02:51 Simpang Kiliran Jao
04:11 Polsek Muaro Kalaban & Simpang Sawahlunto
Selepas ini, saya banyak tidur. Wilayah Sitinjau Laut pun saya sekali dua kali aja terbuka mata, itu pun langsung merem lagi.
05:36 turunan Panorama 1, Sitinjau Laut
06:24 akhirnya saya turun di Simpang Masjid Raya Sumatera Barat.

Selesai sudah perjalanan saya bersama SAN Legacy SR-2 XHD Prime 2542 Ecolife. Banyak hal baru yang saya dapat dari perjalanan kali ini. Perjalanan saya selanjutnya adalah langsung balik menuju Pekanbaru. Bagaimana perjalanan selanjutnya? Simak terus.


DETAIL BUS

Bus: Siliwangi Antar Nusa (PT SAN Putra Sejahtera)
Nomer plat bus: BD 7088 AU
Kelas: Executive
Jurusan: Bengkulu – Padang
Tarif: 235.000
Nomer kursi: 23 (7C)
Jumlah kursi: 53
Merk kursi: AMG
Sasis: Mercedes Benz OC500RF 2542 Ecolife (ZF Ecolife Transmission)
Bodi: Legacy SR-2 XHD Prime (karoseri Laksana)
Fasilitas: AC, TV, audio, personal entertainment, toilet, rec.seat, foot rest, bantal, selimut, USB charger.
Waktu tempuh: 17 jam dan 17 menit.


PENILAIAN

+ Transmisi ZF Ecolife perpindahan giginya sangat halus
+ Personal entertainment dari MSI Funtoro memang membantu untuk mengusir kebosanan. Lebih private, dan juga irit dari segi ekonomis bagi perusahaan (SAN)

- Kursi sempit, tidak lebar. Jadi kurang nyaman.
- Lubang louvre AC ternyata sudah banyak yang hilang separuh. Sangat sayang memang, mengingat usia bus ini yang masih muda.


PADANG – PEKANBARU

Setibanya di Padang, saya langsung menuju Masjid Raya Sumatera Barat untuk,,,,,,, mandi hahahaha. Saya menuju kamar mandinya buat bersih-bersih badan. Lumayanlah seger. Gak lupa juga putu-putu ini Masjid dengan keunikkannya serta pemandangan di sekitar Masjid. Setelah itu saya ke seberang, tepatnya ke WiFi id Corner atau Taman Digital buat wipian.
Emang dasar kere bin pelit bin missqueen, mau WiFi-an aja nyari ID sama password WiFi ID di grup FB biar kaga bayar. GAK MODAL!!! Hahahaha. Gak berhasil dapat, sempet pengen beli vouchernya aja di LinkAja (dulu T Cash), eh tapi ada WiFi yang terbuka nih. Ternyaa WiFi dengan nama BAPPEDA SUMBAR gak pake password. Ini jaringan asalnya dari mana coba. Mana cepet juga lagi. Mayan lah WiFi gratis, chager hp gratis. Benar-benar mental masyarakat negara +62. Hahahahaha.

Habis WiFian, coba cari sarapan yang dekat pun gak ada, akhirnya saya ke WC Masjid (bukan Masjid Raya) buat setoran atau melaksanakan ritual pagi. You know lah. Abis itu nge-Go Jek ke Ambacang atau By Pass, tepatnya ke loket Epa Star, tepatnya lagi ke loket Putra Pelangi yang jadi satu sama loket Epa.
Setibanya di sana, langsung beli tiket ke Pekanbaru. Harganya 150.000 tapi saya nego dengan harga deal di 130.000. Kebetulan juga yang akan jalan itu 1626 Jetbus HD tanpa topi. Duhhh mantul. Sesuai harapan. Nostalgia sama 1626, udah gitu Jetbus HD pula. Jadi nostalgia pas naik Rosalia Indah NL 399 dan 397 (Bitung – Blitar) pas masih bodi Jetbus HD livery bulan sabit. Abis beli tiket, makan ketupat sayur dulu di lapau/kedai di sebelah loket. Mayan lah, 8000 udah plus gorengan bakwan 2. Pengen bungkus tuh bakwan tapi mager, padahal bikin ngiler juga tuh bakwan.
Sebelum berangkat, saya mendapatkan satu hal yang membuat saya harus mengakhiri perjalanan naik PPP nanti di Bukit Tinggi saja, gak sampai Pekanbaru. Mengenai tiket, biarlah saja. Kalo kata Ibu saya, itung-itung beramal.

Kamis, 7 Maret 2019
10:07 setelah menunggu satu jam lebih, padahal katanya jalan jam 9. Akhirnya berangkat juga dari By Pass Padang.
10:48 melewati Pasar Usang, ketemu SAN 2542 di SPBU. Wah si 7088 nyolar di situ toh
11:00 melewati Pasar Mudik, Lubuk Alung
11:17 melewati Pasar Sicincin. Di sini kalo gak salah sudah terkena macet. Gak tau kenapa. Masa iya jembatan yang dulu putus, sampe sekarang belom beroperasi normal 100%.
12:37 – 12:46 SPBU Kayu Tanam. Bangun tidur udah di sini aja. Melipir ke WC dulu lah. Bangun tidur malah terasa lapar. Jadi nyesel gak bungkus bakwan di loket tadi.
12:53 melewati Air Terjun Lembah Anai
13:01 masuk Padang Panjang
13:14 masuk Terminal Bukit Surungan, Padang Panjang. Gak ada penumpang naik, abis masuk, keluar lagi. Gak lama keluar terminal, kres denga Putra Pelangi BL 7504 AA (Jetbus HD 1626)
13:31 melewati Pasar Koto Baru. Untung ini pasar lagi waktunya libur, jadi gak macet. Kalo lagi hari pasar mah beuhhhhh makan banyak waktu di sini.
13:44 melewati Pasar Padang Luar. Untung gak terlalu macet di sini. Ketemu ALS 1521 SR-2 HD Prime juga.
13:55 akhirnya finish Terminal Aur Kuning, Bukittinggi.

Jadi, bagaimana kepulangan saya ke Pekanbaru? Ya, saya naik bis lagi, 11:12 lah saya yang kemaren. Tapi saya gak buat catatan waktunya. Malas, dan ini pertama kalinya sejak pertama kali ngeblog di 2014, saya naik bus tanpa mencatat waktu perjalanan. Memang sebuah dedikasi, dedikasi yang unfaedah hahahaha. Maksudnya unfaedah itu kaga ada hasilnya alias kaga ada duitnya. Lah saya naik bus selama ini gak pernah untung, malah ngeluarin duit mulu hehehe.

Hari Sabtu, 9 Maret 2019 saya kembali ke Pekanbaru. Tapi saya gak beli tiket, saya gunakan cara “ilegal”, hmmm,,,,,,, jadi menelan ludah sendiri karena saya pernah benci sama orang yang syarkawian. Entah males aja gitu beli tiketnya di loket walaupun jarak dekat.

Armada yang saya akan naiki ialah armada yang duluan lewat di Simpang Pasar Biaro. Siapa cepat, dia saya naiki. Saya sempat telepon ke orang loket Putra Pelangi di terminal Aur Kuning. Ternyata PPP gak jalan hari itu, akhirnya saya dinaikin Sempati Star. Hmmmm,,,,, penasaran saya dapat armada yang kaya gimana.

Sekitar jam 2 siang lewat, Sempati Star 1626 Jetbus HD datang. Saya langsung naik. Wah 1626 Jetbus HD lagi. Mantul. Masalah datang, ternyata SS gak masuk Pekanbaru, tapi nanti belok di Bangkinang lewat Petapahan dan masuk Lintas Timur di Kandis. Wah mas alahhhh. Akhirnya saya putuskan turun di Bangkinang dan nantinya lanjut travel yang gak jelas masih ada apa engga jam 7-8 malam nanti di Bangkinang. Ongkos yang saya harus bayar tadinya 120.000, karena sampe Bangkinang aja, jadi 70.000. Sepertinya ini harga loket,, bukan harga asli syarkawi. Entahlah.

Mengenai bus ini. Bodi masih cukup kokoh walau sudah jelek interiornya. Jumlah kursi gak tau berapa pasti, tapi 8 baris. Sayang leg room sempit karena kursi yang jumbo. Ada plus minus sih. Plusnya, kursi nyaman dan lebar, mantap. Minusnya yaaa leg room sempit. Dan ini gak ada bantal, lebih parah dari PPP kemaren. Yahh walaupun PPP gak semua kursi ada bantal. Saya kira mah ini SS 1626 masih pakai kursi yang mirip kaya di PPP 1626 ukurannya, ternyata sama kaya armada SS lain pakai Aldilla tebal.

Sekitar baru masuk Ashar (jam 15:30 lewat), bus masuk rumah makan di kabuparen Lima Puluh. Rumah makan ini juga jadi persinggahan PPP dan NPM. Saya di sini menunaikan kewajiban dan makan. Makan pakai nasi soto seharga 15.000. Rasa? Standar amat lah, yang penting lapar hilang.

Jalur Padang – Bukit Tinggi – Lima Puluh – Kampar merupakan jalur yang indah untuk dilihar dan dinikmati. Ada lembah-lebah dengan tebing berwarna hitam, bukit-bukit, persawahan, Kelok 9 yang fenomenal, Ulu Kasok (di Riau), dan beberapa jalan berada di pinggir sungai. Kerenlah pokoknya. Di jalur begini mah jangan tidur, apalagi kalo baru pertama kali. Jalurnya juga cukup ekstrim, mirip kaya jalur yang saya lewati di perjalanan sebelumnya di touring ini.

Sebelum masuk Bangkinang, mampir dulu di Masjid, memberi kesempatan untuk penumpang buat Sholat Maghrib berjamaah. Goks! Baru kali ini saya naik bus seumur hidup, kru mau berhenti pas waktu Maghrib. Biasanya mah bakal dijamak. Sebelum masuk Bangkinang juga kru kasih tau kalo bus akan masuk dan aatu lewat Pekanbaru, jadi saya aman lah perjalanan ini. Saya juga nambang ongkok 50.000. Sip lah.

Sekitar jam 21:06 saya turun bus, turun sebelum simpang jalan Melati – Garuda Sakti. Saya kira bus ini akan lewat jalan Soebrantas dan Tabek Gadang, eh ternyata engga. Saya kira juga bakal masuk jalan Melati dan masuk jalan Naga Sakti melewati Stadion Utama Riau, eh engga juga. Akhirnya turun di simpang Melati aja lah.

Waktu tempuh 7 jam kurang. Normal lah buat bus. Saya aja kalo naik travel sekitar 6 jam (BKT-PKU). Itu travel loh yang jalannya ngebut dan mosak-masik. Tapi ini kan bus, gak bisa mosak-masik semudah mobil travel.

Usai sudah perjalanan saya menuju Bumi Raflessia sekaligus Ranah Minang, bahkan sampai ada hal tak terduga sampai menambah hari perjalanan. Sungguh perjalanan luar biasa dengan pemandangan jalan yang luar biasa. Ini adalah rute yang indah, kalo dilewati saat hari terang.

Terima kasih telah menikmati catatan perjalanan / touring kali ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya.

Kira-kira berikutnya naik apa ya??? Apakan LE 151 lagi hahahaha? Simak saja beberapa bulan ke depan.


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7524 AA
Kelas: Executive
Jurusan: Padang – Pekanbaru – Medan
Tarif: 130.000
Nomer kursi: 16 (4D)
Jumlah kursi: 32 + 3
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Mercedes Benz OH 1626
Bodi: Jetbus HD (karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, rec.seat, leg rest bantal, selimut, sekat belakang / smoking area
Waktu tempuh: 3 jam dan 48 menit.


PENILAIAN

Kayanya gak perlu ada penilaian lah ya, cuma trip jarak dekat kok. Pokoknya standar aja lah.



Senin, 17 September 2018

Jalan-Jalan ke Sabang Naik Putra Pelangi Non Stop Hanya Bayar Setengah Harga

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Ini adalah postingan cerita lanjutan dari postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya berisi mengenai perjalanan ke Toba – Samosir yang dimulai dari Pekanbaru – Medan – Parapat – Samosir – Parapat – Medan. Jika belum membaca postingan sebelumnya, silakan klik Pekanbaru - Medan - Toba Samosir ini biar gak setengah-setengah bacanya. Jadi, saya akan lanjutkan kembali ceritanya.

MEDAN - BANDA ACEH 

Jum’at, 7 September 2018
Setelah turun bus Sejahtera di Simpang Amplas, saya naik angkot bernomer 64 menuju Simpang Ring Road, dekat Mall Manhattan dan loket / pool Sempati Star. Tujuan asli saya ya ke pool Putra Pelangi di jalan Sunggal. Karena saya gak tau angkotnya yang lewat situ, jadi yaaa naik angkot nomer 64 aja. Dari tempat turun nanti tinggal jalan kaki aja ke pool Putra Pelangi.
Setelah bayar ongkos 10.000 untuk turun di Simpang Ring Road, saya ke Masjid di seberang SPBU samping pool Sempati Star untuk sholat Ashar dan Maghrib dan diselingi makan siang yang dirangkap makan pagi dan makan malam. Selesai sholat Maghrib, saya jalan kaki ke pool Putra Pelangi yang juga sekaligus melewati loket-loket bus Aceh, seperti Kurnia, PMTOH, Sanura, New Aceh Tengah, Harapan Indah, ATLAS, dan New Pelangi.
±19:30 tiba di pool Putra Pelangi. Saya kira mah sebentar jalannya, 10-15 menitan gitu. Gak taunya lumayan juga, lebih dari perkiraan.
Sampai di pool, langsung ke loket untuk tukar tiket dengan menunjukkan bukti booking dari Traveloka berupa SMS, agak malas aja kalo kasih yang berupa e-ticket di e-mail. Proses cepat dan tidak ada masalah. Mantap josss, gua demen nih yang beginiii. Beli tiket secara online dan gak ada masalah sedikitpun. Oh iya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya sempat e-mail ke Putra Pelangi untuk mengkonfirmasi tiket pesanan saya yang saya beli melalui Traveloka. Tiket saya sudah dikonfirmasi. Tidak ada masalah. Rekomen lahhh.

Berhubung masih 1 jam-an lagi berangkat, nge-charge HP dulu lah. Oh iya, saya dapat armada dengan plat nomer BL 7548 AA “King of the Road”. Malam itu gak ada penampakan Jetliner Scania K410 yang kelas Executive dan Legacy SR-2 XHD Prime. Entah ke mana 2 bodi ini, mungkin jalan pariwisata.
20:46 King of the Road mulai menaikkan jarum speedometernya. Lepas loket jalannya gak langsung di gas pol, cenderung santai nyaman. BTW, driver pertama ini penampakannya beda dari driver Non Stop lain yang pernah saya liat. Udah agak berumur, terlihat dari udah banyak uban. Tapi ada nilai lebih dari driver pertama ini, yaitu soal lagu. Saya bahas ini di bawah.
Masalah interior sih gak ada masalah. Leg room lega, apalagi saya yang di tengah gini, pandangan ke jalan paling luas. Kursi masih oke lah, kayanya sih ini kursi bekas Non Stop sebelumnya yang pake MB 1626 atau MB 1836. USB charger berfungsi penuh. Cuma wifi aja yang gak nyala. Yahhh, penyakit bus kebanyakan lah.
21:16 Binjai. Hujan melanda Binjai malam itu. Cukup syahdu juga.
21:30 salip Putra Pelangi 7545 (MB 2542) dan Pusaka 7723 (F1 / Jablay) O500R 1836 yang lagi menepi. Lahh, itu dua bus keberangkatan jam 8 (20:00) masih aja di sini.
Di jalan, kru sempat berdiskusi mengenai insiden yang belum lama ini terjadi. Insiden tunggal di mana tronton 2542 berwarna merah terbalik belum lama ini. Dari yang saya dengar, si tronton ini terbalik entah pas atau setelah tikungan dan ditambah kondisi jalan yang licin/basah karena hujan. Kru 7548 bilang, biarpun punya anti-slip atau traction control, kalo jalan licin tetap aja gak boleh kencang, berbahaya, apalagi pas tikungan. Wah ngeri juga ya kalo dibayangin, pas tikungan jalannya di atas kecepatan rata-rata pas nikung ditambah jalan licin. Safety Riding, Guys.
22:00 mulai terjebak kemacetan di beberapa meter sebelum bundaran Stabat. Parah macetnya untuk ukuran jalanan Sumatera. Dengar dari driver pertama sih ini macet karena ada pohon tumbang. Gile yah, sampe begini. Ini macet sekitar 1 jam loh, entah lebih apa engga, soalnya saya tidur.
Pas beberapa menit setelah terjebak macet sih agak bosan juga, udah TV gak ada, AVOD gak ada, musik juga gak nyala. Pas ngerasa begitu, gak lama kemudian diputar lagu. Bisa pas yah. Untuk urusan playlist lagu di 7548, bukan maen dah, berkelas. Lagu yang diputar lagu Barat, ada yang instrumen, instrumen remix santai, dan lagu yang enak didengar lah walaupun lawas. Playlist yang sesuai dengan saya ini gak berganti sampai besok pagi. Mantap lah.
23:23 disalip Pusaka F1 dan selanjutnya disalip juga oleh Putra Pelangi 7545 di Tanjung Pura pas naikin paket.
Sepanjang jalan, driver pertama ini rasanya agak geram saya dibuatnya. Terlalu segan untuk menyalip, gak seperti Pusaka F1 yang saya naiki waktu itu yang cenderung arogan dan galak di jalan. Driver pertama 7548 ini, bagi saya, agak banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk salip kendaraan di depan, padahan ada ruang di arah berlawanan untuk menyalip. Yaaa biarpun kelas SE yang harus nyaman, gak gitu juga sih kayanya.
23:49 mlewati proyek pengerjaan jembatan. 7548 sempat lawan saat arah saat sepi dan masuk di belakang 7545.

Sabtu, 8 September 2018
00:00 Pangkalan Brandan. Gak lama, kress dengan 3 unit Sepakat Grup. Bukan bus, tapi truck. Ketiganya berbeda pabrikan, tapi gak ada satupun yang Scania. Ketiganya, yaitu UD Quester, Mitsubushi Fuso, dan Hino.
00:16 salip Kurnia kotak sabun alias Kurnia Cargo. Hmmm gak asik yah, salipnya bus Cargo, walau pake OH 1521 yang bisa gahar di jalan, yaa namanya juga bus Cargo. Gak kasih perlawanan berarti lah.
00:59 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
03:53 Lhokseumawe. Di sini ketemu Putra Pelangi 1626. Saya kira bakal kasih perlawanan, eh si 1626 malah menepi kaya ATLAS EvoGT ex Pandawa 87 dan PMTOH HDD.
03:58 aplusan alias pergantian driver. Selagi menepi ini, di salip ATLAS dan PMTOH yang tadi.
05:39 saya terbangun di Pidie, tepatnya (kayanya) di Jangka Buya, saat ketemu New Pelangi Jetbus 2, entah RK atau RN. Si NP ini kecepatannya udah di atas 100 kpj, akan tetapi berhasil disalip 7548 di kecepatan 120+ kpj. Nahh keluar juga speedo mentoknya. Mayan asik juga, mana abis salip NP, gak lama abis itu ada belokan.
04:39 Bireuen.
05:45 – 06:11 Masjid Besar At Taqarrub, Trienggadeng, Pidie Jaya. Melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim dan kewajiban bus Aceh. Ada New Pelangi yang tadi juga di sini.
06:25 melewati aktivitas yang cukup ramai di Pasar Lueng Putu, Pidie.
07:31 melewati Masjid Baitul Muttaqin, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Kress juga sama Anugerah O500R 1836 JB2 yang jadi angkatan pagi B.Aceh – Medan (kayanya).
Di Seulawah ini pun gak spesial kecepatannya. Masih lebih cepat 1836-nya Harapan Indah 7390 dan Puska 7723 yang pernah saya naiki sebelumnya. Agak greget juga sih. Jadi driver pertama dan kedua ini sama aja. Sama-sama santai. Tapi okelah, saya gak ngejar waktu. Lagipula naik SE kok. Shantai aeee.
07:44 SPN Seulawah.
08:38 menurunkan penumpang di bundaran Lambaro.
08:48 tiba di Terminal Batoh, Banda Aceh. Setelah turun bus, saya ke toilet dulu, abis itu beli tiket balik. Karena saya balik hari Minggu, jadi beli sekarang saja biar gak kehabisan tiket. PJKA time brooo.
Loket tujuan pertama saya adalah loket KAP Group. Saya masih berkeras untuk naik AW Series, dibanding naik Sanura dengan diskon 30% dari Easybook dan Putra Pelangi dengan diskon 10%, cashback 25%, dan potong saldo dari redBus. Di loket KAP, saya pesan Kurnia yang tronton Scania. Saya pilih nomer kursi 24 (5B), karena nomer ini berada setelah pintu tengah yang sekaligus di pintu tengah tersebut ada toilet dan sekat. Nomer kursi tersebut, dari yang saya lihat di FB atau IG dan tontondi Youtube, menurut saya punya leg room paling lega dibanding seat baris kanan maupun baris kiri sebelum toilet/pintu tengah.
Mengenai harga, yang saya tau dari grup FB Kurnia Group (KAP), kalo AW dari Banda itu 220rb, kalo dari Medan 240rb, dan juga kalo di Banda ini bisa nego. Makanya saya coba nego 200rb, tapi gak bisa, katanya ini mobil baru, gak berani kasih harga segitu. Mungkin emang saya aja yang gak jago dalam negosiasi. Deal harga tiket di angka 210.000. Yaaa oke lah, 210rb dapat Scania K410 bodi anyar Jetbus 3 SHD walau gak bisa 180rb kaya Sanura K410 sebelumnya hehehehe.
Selepas beli tiket, saya langsung ke halte Trans Koetaradja di depan terminal. Cukup lama juga nunggu BRT Aceh ini, masih mending Trans Metro Pekanbaru juga.
09:21 – 09:34 menuju Masjid Raya naik Trans Koetaradja koridor 2A (Blang Bintang – Pusat Kota). Okupansi BRT Aceh ini bagus loh, harusnya ada penambahan armada dan jadwal serta halte, karena armada, jadwal, dan halte saya rasa masih kurang banyak.
09:43 – 09:57 setelah transit di halte Masjid Raya, saya naik koridor 2B (Pusat Kota – Ulee Lheue). Rute yang dilewati cukup enak, lewat beberapa obyek wisata, salah satunya Museum Tsunami. Oh iya, awalnya saya kira naik Trans Koetaradja udah bayar, eh ternyata masih GRATISSS..... Mantap.
Turun bus, saya menuju loket yang sayangnya cuma buka 1 saja. Ternyata saya ketemu sama penumpang PPP 7548 tadi (kayanya), yang saya nguping sih rombongan ini ketinggalan kapal cepat karena telat sampai Banda Aceh, jadi beli lagi tiket kapal tapi yang kapal lambat atau Ferry. Saya sih emang maunya naik yang Ferry aja, biar murah. Eh tapiii gak murah juga sih, lah saya pilih yang kelas VIP (bukan ekonomi) yang harganya 58.000 + 2.000, jadi 60.000, sementara yang ekonomi cuma 27.000. Lah saya kan sesekali aja dan pengen istirahat juga di jalan, gak ada salahnya lah pilih yang harganya 2x lipat dari Ekonomi.
Kapal yang jalan saat itu KMP BRR, yang ukuran kapalnya lebih kecil dari kebanyakan kapal di Selat Sunda, tapi masih lebih besar dari kapal ferry di Toba-Samosir dan Ketapang – Gilimanuk. Kelas VIP ini pakai AC dan sofa. AC dingin, sofa empuk, tv ada tapi gak nyala, toilet ada 2, pelampung keselamatan lengkap, ada colokan listrik juga tapi di bagian depan. Waktu tempuh Ulee Lheue – Balohan (Sabang) saat itu 1 jam dan 50 menit. Berangkat jam 10:30 dari Ulee Lheue. Di tengah jalan, ombak terasa kencang, cukup bikin agak sakit kepala juga. Mungkin goyangannya lebih terasa karena kapal yang lebih kecil dari yang biasa saya naikin di Selat Sunda dan juga di sebelah Barat langsung menhadap Samudera Hindia sementara di sebelah Timur ada Selat Malaka.

Merapat di Balohan ternyata kapal harus putar dulu 180 derajat biar kendaraan keluar kapal engga jalan mundur, tetap jalan maju dan yang masuk duluan, keluar duluan. Keluar kapal saya langsung komunikasi sama pak Abdullah, yang punya rental motor yang saya akan pakai motor rentalannya di Sabang. Komunikasi via WA lancar, dan cepat tanggap, orangnya sering stay di pelabuhan untuk cari turis/wisatawan yang butuh rental motor. Biayanya 100.000 per hari, saya dapat Mio 125 (Matic, rental jaman now susah yang ada oper gigi hehehe), ada helm bawaan honda juga yang sudah tidak bisa di-klik hahahaha. Jaminannya, Cuma KTP kita yang di foto. Katanya kalo bailikin motor ke tempat di bawah pohon dekat pelabuhan. Sip lah.
Keluar pelabuhan, saya beli Premium dulu 1 liter seharga 10.000. Di sini gak ada Pertalite untuk eceran, kalo di SPBU ada kali yah. Di simpang setelah gerbang pelabuhan, saya pilih yang menuju Danau Aneuk Laot, sesuai papan petunjuk arah. Dannn seperti yang saya duga, karena saya orangnya gak terlalu tertarik dengan obyek wisata dan lebih suka menikmati perjalanan. Jadi, Danau Aneuk Laot ini cuma lewat aja, lagi pula saya pikir jalannya lewatin pinggir danau, gak taunya agak jauh lagi ke Danau-nya. Di jalan, cuma keliatan sedikit doang danau-nya. Dari sini saya langsung tembak ke Iboih.
Jalan di Sabang ini cukup asyik, seru, dan menantang buat saya yang biasanya cuma berkendara di jalanan kota. Jalannya mayoritas bagus dan banyak yang mulus. Banyak turunan dan tanjakkan, mulai tanjakkan letter S beruntun sebanyak 2 kali yang abis itu langsung tanjakkan panjang. Wah mantap juga nih jalan. Karena saya kalo naik motor itu santai dan menikmati perjalanan, indikator ECO di motor jarang mati, mati pun kalo di gaspol/geber pas tanjakkan. Di tengah perjalanan, saya khawatir sama bensinnya, jarumnya udah di dekat merah. Jadi, saya tambah lagi 2 liter. Pas udah nambah 2 liter, eh malah penuh. Eh dasar kampret, amperenya dablek ternyata. Tau gitu nambah 1 liter aja. Lagi pula motor matic jaman now mah irit.
Setibanya di kawasan wisata Iboih, bayar dulu retribusi 5.000, padahal di karcis cuma 2.000, pffttt. Karena belum jam 2 (14:00) siang, saya tembak lagi ke tugu KM 0. Jalanan kali ini tidak selebar tadi, tapi kalo udah dekat KM 0 udah lebar. Jalanan mulus, ada banyak turunan, tanjakkan, tikungan, dan turunan/tanjakkan panjang. Mantap kali lahhh.
Tiba di KM 0 ya gitu. Foto-foto sikit aja. Di depan tugu ini, langsung terhampar luasnya Samudera Hindia. Gak lama di sini, abis itu saya ke Musholla buat sholat Zuhur, tapi keran wudhunya gak keluar air, aihhhh. Sholat di penginapan aja lah. Parkir di sini bayar seiklasnya. Lalu, kalo mau beli baju dan pernak-pernik juga ada di sini.
±14:00 check in penginapan. Saya menginap di Iboih Bungalow. Pesan kamar di Traveloka dengan harga kamas 142.249 sudah dipotong diskon. Lokasinya di lokasi wisata Iboih. Depan penginapan atau seberang jalan sudah pantai dan nampak pulau Rubiah, lokasi tujuan untuk snorkeling. Saya dapat kamar di lantai paling atas, viewnya mantap, langsung pantai, laut, dan pulau. Indah sekali. Air lautnya berwarna biru, bahkan sampai biru muda terang. Fasilitas kamar ada kasur, bantal, handuk, kipas, dan colokan listrik, serta jendela. Ada balkon juga kalo mau menikmati pemandangan yang cukup indah. Kamar mandi di luar yes, di lantai dua, kamar mandi bersama. Karena saya lelah, saya tidurrr. Soal makan, saya beli nasi bungkus isi ikan seharga 18.000. Lebih mahal seribu dari makan dengan menu yang sama saat di Toba Parapat.

Minggu, 9 September 2018
09:45 setelah packing dan mandi, saya pamit check out. Saya juga diberikan kartu nama jika lain kalii mau snorkeling. Harga paket snorkelingnya 550.000 dengan minimal 4 orang kalo gak salah, masih bisa nego loh. Petugas sekaligus yang punyanya ramah loh. Sebelum gas motor, saya dikasih Aqua 600ml yang lupa dikasih pas baru masuk. Mayan lah, irit sikit hehehe.
Rute menuju Balohan yang saya ambil sekarang ini melewati kota Sabang, tidak motong lewat Danau Aneuk Laot yang jalannya relatif sepii kaliiii. Di kota Sabang, saya sempat muter-muter karena bingung jalannya. Overall jalanannya bagus. Mau mampir sana-sini malas. Oh iya, sebelumnya, saya makan dulu entah di mana, sebelum kota Sabang lah pokoknya. Kali ini dahsyat harganya, 32.000 makan pakai telur balado, tempe goreng, peyek udang, dan es teh manis.
Balik lagi, di kota Sabang ini ada 2 SPBU yang jarakmya tidak terlalu berjauhan. Lahh ilah, begitu yak. Ada juga bandara, sempat tengok Garuda Indonesia Xplore dengan armada ATR yang sepertinya menuju Banda Aceh. Bagi saya yang gak biasa pakai motor matic ini memang repot yah. Ada waktu pas di jalan lebar di mana satu arah ada dua lajur dan di antara dua arah ini ada trotoar. Kalo menuju Balohan jalannya menurun, pas turunan yang klimaks, agak ketar-ketir juga dibuatnya, udah rem (dengan cara dicicil, bukan ditekan terus remnya, nanti mengunci takutnya) masih tembus 60 kpj, mana abis turunan ada belokan yang lumayan pula. Hmmmm gila yah, udah di rem aja masih tembus 60. Kalo manual mah enah, bisa pake engine brake dengan cara turunin gigi. Kalo ada retader lebih mantap ini hahahaha. Dan kayanya bisa tembus 60 itu kena idling stop deh, jadi mesin mati, pas di gas nyala lagi.
Sebelum ke pelabuhan, saya istirahat dulu di Masjid Balohan sembari nunggu Zuhur. Lepas Zuhur berjamaah, langsung ke pohon tempat janjian dengan pak Abdullah untuk kembalikan motor. Overall motor gak ada masalah, aman dan lanjar jaya. Bensin pun jarumnya masih setengah kurang.
Pas balikin motor, saya tanya di mana loket kapal lambat (Ferry), ternyata ada di dalam dan saya di antar pak Abdullah sampai dekat loket, karena gerbang utama sudah tutup, hanya gerbang kecil yang muat untuk motor lewat. Syukurlah masih ada kapalnya walau sudah cukup penuh. Terima kasih kepada pak Abdullah. Rekomen lah sama dia.
13:05 saya beli tiket di loket. Beli tiket dengan kelas yang sama, VIP seharga 60rb.
Masuk ke dalam kabin VIP ternyata okupansinya lebih sepi. Naik kapalnya tetap sama, KMP BRR. Waktu tempuh sama, 2 jam kurang 15 menitan, mulai gas jam 13:30 lewat. Dan saya sadar kalo di Ulee Lheue – Balohan ini, waktu bongkar muatnya 1 jam, sementara di Ajibata – Tomok (di Danau Toba) waktu bongkar muatnya hanya 30 menit. Pas keluar kapal, sudah banyak orang yang menunggu masuk. Wahh iya ya, ini hari Minggu, saatnya pulang.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7548 AA "King of the Road"
Kelas: Non Stop (Super Executive seat 2-1)
Jurusan: Medan – Banda Aceh
Tarif: 140.601 setelah diskon (aslinya 280.000 / 260.000)
Nomer kursi: 1B
Jumlah kursi: 26
Merk kursi: Karya Logam
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetliner HD (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, WiFi, sekat belakang.
Waktu tempuh: 12 jam dan 2 menit.


PENILAIAN

+ Pemesanan tiket mudah. Gak ada masalah

- Waktu tempuh agak kurang mantap buat kelas Non Stop.