Senin, 17 September 2018

Jalan-Jalan ke Sabang Naik Putra Pelangi Non Stop Hanya Bayar Setengah Harga

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Ini adalah postingan cerita lanjutan dari postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya berisi mengenai perjalanan ke Toba – Samosir yang dimulai dari Pekanbaru – Medan – Parapat – Samosir – Parapat – Medan. Jika belum membaca postingan sebelumnya, silakan klik Pekanbaru - Medan - Toba Samosir ini biar gak setengah-setengah bacanya. Jadi, saya akan lanjutkan kembali ceritanya.

MEDAN - BANDA ACEH 

Jum’at, 7 September 2018
Setelah turun bus Sejahtera di Simpang Amplas, saya naik angkot bernomer 64 menuju Simpang Ring Road, dekat Mall Manhattan dan loket / pool Sempati Star. Tujuan asli saya ya ke pool Putra Pelangi di jalan Sunggal. Karena saya gak tau angkotnya yang lewat situ, jadi yaaa naik angkot nomer 64 aja. Dari tempat turun nanti tinggal jalan kaki aja ke pool Putra Pelangi.
Setelah bayar ongkos 10.000 untuk turun di Simpang Ring Road, saya ke Masjid di seberang SPBU samping pool Sempati Star untuk sholat Ashar dan Maghrib dan diselingi makan siang yang dirangkap makan pagi dan makan malam. Selesai sholat Maghrib, saya jalan kaki ke pool Putra Pelangi yang juga sekaligus melewati loket-loket bus Aceh, seperti Kurnia, PMTOH, Sanura, New Aceh Tengah, Harapan Indah, ATLAS, dan New Pelangi.
±19:30 tiba di pool Putra Pelangi. Saya kira mah sebentar jalannya, 10-15 menitan gitu. Gak taunya lumayan juga, lebih dari perkiraan.
Sampai di pool, langsung ke loket untuk tukar tiket dengan menunjukkan bukti booking dari Traveloka berupa SMS, agak malas aja kalo kasih yang berupa e-ticket di e-mail. Proses cepat dan tidak ada masalah. Mantap josss, gua demen nih yang beginiii. Beli tiket secara online dan gak ada masalah sedikitpun. Oh iya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya sempat e-mail ke Putra Pelangi untuk mengkonfirmasi tiket pesanan saya yang saya beli melalui Traveloka. Tiket saya sudah dikonfirmasi. Tidak ada masalah. Rekomen lahhh.

Berhubung masih 1 jam-an lagi berangkat, nge-charge HP dulu lah. Oh iya, saya dapat armada dengan plat nomer BL 7548 AA “King of the Road”. Malam itu gak ada penampakan Jetliner Scania K410 yang kelas Executive dan Legacy SR-2 XHD Prime. Entah ke mana 2 bodi ini, mungkin jalan pariwisata.
20:46 King of the Road mulai menaikkan jarum speedometernya. Lepas loket jalannya gak langsung di gas pol, cenderung santai nyaman. BTW, driver pertama ini penampakannya beda dari driver Non Stop lain yang pernah saya liat. Udah agak berumur, terlihat dari udah banyak uban. Tapi ada nilai lebih dari driver pertama ini, yaitu soal lagu. Saya bahas ini di bawah.
Masalah interior sih gak ada masalah. Leg room lega, apalagi saya yang di tengah gini, pandangan ke jalan paling luas. Kursi masih oke lah, kayanya sih ini kursi bekas Non Stop sebelumnya yang pake MB 1626 atau MB 1836. USB charger berfungsi penuh. Cuma wifi aja yang gak nyala. Yahhh, penyakit bus kebanyakan lah.
21:16 Binjai. Hujan melanda Binjai malam itu. Cukup syahdu juga.
21:30 salip Putra Pelangi 7545 (MB 2542) dan Pusaka 7723 (F1 / Jablay) O500R 1836 yang lagi menepi. Lahh, itu dua bus keberangkatan jam 8 (20:00) masih aja di sini.
Di jalan, kru sempat berdiskusi mengenai insiden yang belum lama ini terjadi. Insiden tunggal di mana tronton 2542 berwarna merah terbalik belum lama ini. Dari yang saya dengar, si tronton ini terbalik entah pas atau setelah tikungan dan ditambah kondisi jalan yang licin/basah karena hujan. Kru 7548 bilang, biarpun punya anti-slip atau traction control, kalo jalan licin tetap aja gak boleh kencang, berbahaya, apalagi pas tikungan. Wah ngeri juga ya kalo dibayangin, pas tikungan jalannya di atas kecepatan rata-rata pas nikung ditambah jalan licin. Safety Riding, Guys.
22:00 mulai terjebak kemacetan di beberapa meter sebelum bundaran Stabat. Parah macetnya untuk ukuran jalanan Sumatera. Dengar dari driver pertama sih ini macet karena ada pohon tumbang. Gile yah, sampe begini. Ini macet sekitar 1 jam loh, entah lebih apa engga, soalnya saya tidur.
Pas beberapa menit setelah terjebak macet sih agak bosan juga, udah TV gak ada, AVOD gak ada, musik juga gak nyala. Pas ngerasa begitu, gak lama kemudian diputar lagu. Bisa pas yah. Untuk urusan playlist lagu di 7548, bukan maen dah, berkelas. Lagu yang diputar lagu Barat, ada yang instrumen, instrumen remix santai, dan lagu yang enak didengar lah walaupun lawas. Playlist yang sesuai dengan saya ini gak berganti sampai besok pagi. Mantap lah.
23:23 disalip Pusaka F1 dan selanjutnya disalip juga oleh Putra Pelangi 7545 di Tanjung Pura pas naikin paket.
Sepanjang jalan, driver pertama ini rasanya agak geram saya dibuatnya. Terlalu segan untuk menyalip, gak seperti Pusaka F1 yang saya naiki waktu itu yang cenderung arogan dan galak di jalan. Driver pertama 7548 ini, bagi saya, agak banyak menyia-nyiakan kesempatan untuk salip kendaraan di depan, padahan ada ruang di arah berlawanan untuk menyalip. Yaaa biarpun kelas SE yang harus nyaman, gak gitu juga sih kayanya.
23:49 mlewati proyek pengerjaan jembatan. 7548 sempat lawan saat arah saat sepi dan masuk di belakang 7545.

Sabtu, 8 September 2018
00:00 Pangkalan Brandan. Gak lama, kress dengan 3 unit Sepakat Grup. Bukan bus, tapi truck. Ketiganya berbeda pabrikan, tapi gak ada satupun yang Scania. Ketiganya, yaitu UD Quester, Mitsubushi Fuso, dan Hino.
00:16 salip Kurnia kotak sabun alias Kurnia Cargo. Hmmm gak asik yah, salipnya bus Cargo, walau pake OH 1521 yang bisa gahar di jalan, yaa namanya juga bus Cargo. Gak kasih perlawanan berarti lah.
00:59 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
03:53 Lhokseumawe. Di sini ketemu Putra Pelangi 1626. Saya kira bakal kasih perlawanan, eh si 1626 malah menepi kaya ATLAS EvoGT ex Pandawa 87 dan PMTOH HDD.
03:58 aplusan alias pergantian driver. Selagi menepi ini, di salip ATLAS dan PMTOH yang tadi.
05:39 saya terbangun di Pidie, tepatnya (kayanya) di Jangka Buya, saat ketemu New Pelangi Jetbus 2, entah RK atau RN. Si NP ini kecepatannya udah di atas 100 kpj, akan tetapi berhasil disalip 7548 di kecepatan 120+ kpj. Nahh keluar juga speedo mentoknya. Mayan asik juga, mana abis salip NP, gak lama abis itu ada belokan.
04:39 Bireuen.
05:45 – 06:11 Masjid Besar At Taqarrub, Trienggadeng, Pidie Jaya. Melakukan kewajiban sebagai seorang Muslim dan kewajiban bus Aceh. Ada New Pelangi yang tadi juga di sini.
06:25 melewati aktivitas yang cukup ramai di Pasar Lueng Putu, Pidie.
07:31 melewati Masjid Baitul Muttaqin, Lembah Seulawah, Aceh Besar. Kress juga sama Anugerah O500R 1836 JB2 yang jadi angkatan pagi B.Aceh – Medan (kayanya).
Di Seulawah ini pun gak spesial kecepatannya. Masih lebih cepat 1836-nya Harapan Indah 7390 dan Puska 7723 yang pernah saya naiki sebelumnya. Agak greget juga sih. Jadi driver pertama dan kedua ini sama aja. Sama-sama santai. Tapi okelah, saya gak ngejar waktu. Lagipula naik SE kok. Shantai aeee.
07:44 SPN Seulawah.
08:38 menurunkan penumpang di bundaran Lambaro.
08:48 tiba di Terminal Batoh, Banda Aceh. Setelah turun bus, saya ke toilet dulu, abis itu beli tiket balik. Karena saya balik hari Minggu, jadi beli sekarang saja biar gak kehabisan tiket. PJKA time brooo.
Loket tujuan pertama saya adalah loket KAP Group. Saya masih berkeras untuk naik AW Series, dibanding naik Sanura dengan diskon 30% dari Easybook dan Putra Pelangi dengan diskon 10%, cashback 25%, dan potong saldo dari redBus. Di loket KAP, saya pesan Kurnia yang tronton Scania. Saya pilih nomer kursi 24 (5B), karena nomer ini berada setelah pintu tengah yang sekaligus di pintu tengah tersebut ada toilet dan sekat. Nomer kursi tersebut, dari yang saya lihat di FB atau IG dan tontondi Youtube, menurut saya punya leg room paling lega dibanding seat baris kanan maupun baris kiri sebelum toilet/pintu tengah.
Mengenai harga, yang saya tau dari grup FB Kurnia Group (KAP), kalo AW dari Banda itu 220rb, kalo dari Medan 240rb, dan juga kalo di Banda ini bisa nego. Makanya saya coba nego 200rb, tapi gak bisa, katanya ini mobil baru, gak berani kasih harga segitu. Mungkin emang saya aja yang gak jago dalam negosiasi. Deal harga tiket di angka 210.000. Yaaa oke lah, 210rb dapat Scania K410 bodi anyar Jetbus 3 SHD walau gak bisa 180rb kaya Sanura K410 sebelumnya hehehehe.
Selepas beli tiket, saya langsung ke halte Trans Koetaradja di depan terminal. Cukup lama juga nunggu BRT Aceh ini, masih mending Trans Metro Pekanbaru juga.
09:21 – 09:34 menuju Masjid Raya naik Trans Koetaradja koridor 2A (Blang Bintang – Pusat Kota). Okupansi BRT Aceh ini bagus loh, harusnya ada penambahan armada dan jadwal serta halte, karena armada, jadwal, dan halte saya rasa masih kurang banyak.
09:43 – 09:57 setelah transit di halte Masjid Raya, saya naik koridor 2B (Pusat Kota – Ulee Lheue). Rute yang dilewati cukup enak, lewat beberapa obyek wisata, salah satunya Museum Tsunami. Oh iya, awalnya saya kira naik Trans Koetaradja udah bayar, eh ternyata masih GRATISSS..... Mantap.
Turun bus, saya menuju loket yang sayangnya cuma buka 1 saja. Ternyata saya ketemu sama penumpang PPP 7548 tadi (kayanya), yang saya nguping sih rombongan ini ketinggalan kapal cepat karena telat sampai Banda Aceh, jadi beli lagi tiket kapal tapi yang kapal lambat atau Ferry. Saya sih emang maunya naik yang Ferry aja, biar murah. Eh tapiii gak murah juga sih, lah saya pilih yang kelas VIP (bukan ekonomi) yang harganya 58.000 + 2.000, jadi 60.000, sementara yang ekonomi cuma 27.000. Lah saya kan sesekali aja dan pengen istirahat juga di jalan, gak ada salahnya lah pilih yang harganya 2x lipat dari Ekonomi.
Kapal yang jalan saat itu KMP BRR, yang ukuran kapalnya lebih kecil dari kebanyakan kapal di Selat Sunda, tapi masih lebih besar dari kapal ferry di Toba-Samosir dan Ketapang – Gilimanuk. Kelas VIP ini pakai AC dan sofa. AC dingin, sofa empuk, tv ada tapi gak nyala, toilet ada 2, pelampung keselamatan lengkap, ada colokan listrik juga tapi di bagian depan. Waktu tempuh Ulee Lheue – Balohan (Sabang) saat itu 1 jam dan 50 menit. Berangkat jam 10:30 dari Ulee Lheue. Di tengah jalan, ombak terasa kencang, cukup bikin agak sakit kepala juga. Mungkin goyangannya lebih terasa karena kapal yang lebih kecil dari yang biasa saya naikin di Selat Sunda dan juga di sebelah Barat langsung menhadap Samudera Hindia sementara di sebelah Timur ada Selat Malaka.

Merapat di Balohan ternyata kapal harus putar dulu 180 derajat biar kendaraan keluar kapal engga jalan mundur, tetap jalan maju dan yang masuk duluan, keluar duluan. Keluar kapal saya langsung komunikasi sama pak Abdullah, yang punya rental motor yang saya akan pakai motor rentalannya di Sabang. Komunikasi via WA lancar, dan cepat tanggap, orangnya sering stay di pelabuhan untuk cari turis/wisatawan yang butuh rental motor. Biayanya 100.000 per hari, saya dapat Mio 125 (Matic, rental jaman now susah yang ada oper gigi hehehe), ada helm bawaan honda juga yang sudah tidak bisa di-klik hahahaha. Jaminannya, Cuma KTP kita yang di foto. Katanya kalo bailikin motor ke tempat di bawah pohon dekat pelabuhan. Sip lah.
Keluar pelabuhan, saya beli Premium dulu 1 liter seharga 10.000. Di sini gak ada Pertalite untuk eceran, kalo di SPBU ada kali yah. Di simpang setelah gerbang pelabuhan, saya pilih yang menuju Danau Aneuk Laot, sesuai papan petunjuk arah. Dannn seperti yang saya duga, karena saya orangnya gak terlalu tertarik dengan obyek wisata dan lebih suka menikmati perjalanan. Jadi, Danau Aneuk Laot ini cuma lewat aja, lagi pula saya pikir jalannya lewatin pinggir danau, gak taunya agak jauh lagi ke Danau-nya. Di jalan, cuma keliatan sedikit doang danau-nya. Dari sini saya langsung tembak ke Iboih.
Jalan di Sabang ini cukup asyik, seru, dan menantang buat saya yang biasanya cuma berkendara di jalanan kota. Jalannya mayoritas bagus dan banyak yang mulus. Banyak turunan dan tanjakkan, mulai tanjakkan letter S beruntun sebanyak 2 kali yang abis itu langsung tanjakkan panjang. Wah mantap juga nih jalan. Karena saya kalo naik motor itu santai dan menikmati perjalanan, indikator ECO di motor jarang mati, mati pun kalo di gaspol/geber pas tanjakkan. Di tengah perjalanan, saya khawatir sama bensinnya, jarumnya udah di dekat merah. Jadi, saya tambah lagi 2 liter. Pas udah nambah 2 liter, eh malah penuh. Eh dasar kampret, amperenya dablek ternyata. Tau gitu nambah 1 liter aja. Lagi pula motor matic jaman now mah irit.
Setibanya di kawasan wisata Iboih, bayar dulu retribusi 5.000, padahal di karcis cuma 2.000, pffttt. Karena belum jam 2 (14:00) siang, saya tembak lagi ke tugu KM 0. Jalanan kali ini tidak selebar tadi, tapi kalo udah dekat KM 0 udah lebar. Jalanan mulus, ada banyak turunan, tanjakkan, tikungan, dan turunan/tanjakkan panjang. Mantap kali lahhh.
Tiba di KM 0 ya gitu. Foto-foto sikit aja. Di depan tugu ini, langsung terhampar luasnya Samudera Hindia. Gak lama di sini, abis itu saya ke Musholla buat sholat Zuhur, tapi keran wudhunya gak keluar air, aihhhh. Sholat di penginapan aja lah. Parkir di sini bayar seiklasnya. Lalu, kalo mau beli baju dan pernak-pernik juga ada di sini.
±14:00 check in penginapan. Saya menginap di Iboih Bungalow. Pesan kamar di Traveloka dengan harga kamas 142.249 sudah dipotong diskon. Lokasinya di lokasi wisata Iboih. Depan penginapan atau seberang jalan sudah pantai dan nampak pulau Rubiah, lokasi tujuan untuk snorkeling. Saya dapat kamar di lantai paling atas, viewnya mantap, langsung pantai, laut, dan pulau. Indah sekali. Air lautnya berwarna biru, bahkan sampai biru muda terang. Fasilitas kamar ada kasur, bantal, handuk, kipas, dan colokan listrik, serta jendela. Ada balkon juga kalo mau menikmati pemandangan yang cukup indah. Kamar mandi di luar yes, di lantai dua, kamar mandi bersama. Karena saya lelah, saya tidurrr. Soal makan, saya beli nasi bungkus isi ikan seharga 18.000. Lebih mahal seribu dari makan dengan menu yang sama saat di Toba Parapat.

Minggu, 9 September 2018
09:45 setelah packing dan mandi, saya pamit check out. Saya juga diberikan kartu nama jika lain kalii mau snorkeling. Harga paket snorkelingnya 550.000 dengan minimal 4 orang kalo gak salah, masih bisa nego loh. Petugas sekaligus yang punyanya ramah loh. Sebelum gas motor, saya dikasih Aqua 600ml yang lupa dikasih pas baru masuk. Mayan lah, irit sikit hehehe.
Rute menuju Balohan yang saya ambil sekarang ini melewati kota Sabang, tidak motong lewat Danau Aneuk Laot yang jalannya relatif sepii kaliiii. Di kota Sabang, saya sempat muter-muter karena bingung jalannya. Overall jalanannya bagus. Mau mampir sana-sini malas. Oh iya, sebelumnya, saya makan dulu entah di mana, sebelum kota Sabang lah pokoknya. Kali ini dahsyat harganya, 32.000 makan pakai telur balado, tempe goreng, peyek udang, dan es teh manis.
Balik lagi, di kota Sabang ini ada 2 SPBU yang jarakmya tidak terlalu berjauhan. Lahh ilah, begitu yak. Ada juga bandara, sempat tengok Garuda Indonesia Xplore dengan armada ATR yang sepertinya menuju Banda Aceh. Bagi saya yang gak biasa pakai motor matic ini memang repot yah. Ada waktu pas di jalan lebar di mana satu arah ada dua lajur dan di antara dua arah ini ada trotoar. Kalo menuju Balohan jalannya menurun, pas turunan yang klimaks, agak ketar-ketir juga dibuatnya, udah rem (dengan cara dicicil, bukan ditekan terus remnya, nanti mengunci takutnya) masih tembus 60 kpj, mana abis turunan ada belokan yang lumayan pula. Hmmmm gila yah, udah di rem aja masih tembus 60. Kalo manual mah enah, bisa pake engine brake dengan cara turunin gigi. Kalo ada retader lebih mantap ini hahahaha. Dan kayanya bisa tembus 60 itu kena idling stop deh, jadi mesin mati, pas di gas nyala lagi.
Sebelum ke pelabuhan, saya istirahat dulu di Masjid Balohan sembari nunggu Zuhur. Lepas Zuhur berjamaah, langsung ke pohon tempat janjian dengan pak Abdullah untuk kembalikan motor. Overall motor gak ada masalah, aman dan lanjar jaya. Bensin pun jarumnya masih setengah kurang.
Pas balikin motor, saya tanya di mana loket kapal lambat (Ferry), ternyata ada di dalam dan saya di antar pak Abdullah sampai dekat loket, karena gerbang utama sudah tutup, hanya gerbang kecil yang muat untuk motor lewat. Syukurlah masih ada kapalnya walau sudah cukup penuh. Terima kasih kepada pak Abdullah. Rekomen lah sama dia.
13:05 saya beli tiket di loket. Beli tiket dengan kelas yang sama, VIP seharga 60rb.
Masuk ke dalam kabin VIP ternyata okupansinya lebih sepi. Naik kapalnya tetap sama, KMP BRR. Waktu tempuh sama, 2 jam kurang 15 menitan, mulai gas jam 13:30 lewat. Dan saya sadar kalo di Ulee Lheue – Balohan ini, waktu bongkar muatnya 1 jam, sementara di Ajibata – Tomok (di Danau Toba) waktu bongkar muatnya hanya 30 menit. Pas keluar kapal, sudah banyak orang yang menunggu masuk. Wahh iya ya, ini hari Minggu, saatnya pulang.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7548 AA "King of the Road"
Kelas: Non Stop (Super Executive seat 2-1)
Jurusan: Medan – Banda Aceh
Tarif: 140.601 setelah diskon (aslinya 280.000 / 260.000)
Nomer kursi: 1B
Jumlah kursi: 26
Merk kursi: Karya Logam
Sasis: Scania K410iB Opticruise
Bodi: Jetliner HD (karoseri Rahayu Santosa)
Fasilitas: AC, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, USB charger, WiFi, sekat belakang.
Waktu tempuh: 12 jam dan 2 menit.


PENILAIAN

+ Pemesanan tiket mudah. Gak ada masalah

- Waktu tempuh agak kurang mantap buat kelas Non Stop.



Sabtu, 15 September 2018

Menuju Toba Samosir Naik Scania Karo

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)


Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.

Setelah setengah tahun tidak naik bus besar dan tidak buat catatan perjalanan, akhirnya kali ini ada kesempatan untuk melakukannya lagi. Perjalanan naik bus kali ini akan sama rutenya seperti tiga (3) catatan perjalanan yang pernah saya buat sebelumnya. Akan tetapi, kali ini ada sedikit perbedaan, ada tambahan rute perjalanan dan tambahan hari dalam melakukan perjalanan.
Rasa kangen naik bus biasa melanda lagi kalau sudah setengah tahun tidak naik bus. Rasa naik bus sempat ada jika saya dapat lokasi desa untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) di dekat Air Molek. Nah, kalo di situ kan Lintas Timur, bisa lahh naik Lorena, Putra Pelangi, atau Sempati Star walau cuma sekali. Harapan itu kandas walau sempat bangkit lagi tapi kandas lagi.
Harapan naik bus malam AKAP muncul ketika liat IG Story-nya salah satu Youtuber yang suka buat video TR naik bus, Andriawan Pratikto (kalo gak salah sih IG Story dia), yang share gambar kalo Traveloka ada diskon 50% (sampai 125rb). Wah! Kesempatan emas nih! Ke mana kah kita? Jakarta? Mending pulang sekalian, malas lah. Bengkulu? Cuma ada Putra Raflessia di Traveloka, SAN di redBus, agak malas juga sih kalo gak sekalian ke Lintas Barat. Touring di Jawa? Gak cukup dana. Akhirnya rute itu lagi, menuju arah Utara.
Rencana awal untuk Pekanbaru – Medan naik Medan Jaya beli di redBus, Medan – B.Aceh naik Sempati Star DD (Traveloka), B.Aceh – Medan naik Putra Pelangi Non Stop (Traveloka), dan Medan – Pekanbaru naik Sempati Star DD (Traveloka). Lah SS DD double. Akhirnya SS DD di Aceh saya cancel, lebih prefer SS DD di lintas Medan – Pekanbaru. Alternatifnya Sanura K410 (easybook) atau Kurnia AW Series (non-online). Karena ragu dengan easybook+Sanura, jadi cancel aja. Naik Kurnia AW Series di  rute B.Aceh – Medan.
Nah, berhubung juga udah berkali-kali ke Sumut – Aceh, tapi gak pernah ke Toba, akhirnya saya putuskan untuk ke sana. Awalnya niat tektok (tanpa nginap), karena waktu gak cukup yaa nginap aja lah di Parapat. Dan nambah juga nginap di Sabang. Mayan lah, duit potongan diskon tiket bus dialihkan buat duit bayar penginapan.

PEKANBARU – MEDAN

Keberangkatan saya dari Pekanbaru untuk jalan-jalan / liburan ini tergantung Medan Jaya. Iya, kali ini harus tergantung jadwal Scania-nya. Ora Skaniya ora mangkat. Jadi, beberapa hari sebelum keberangkatan saya mantau dulu ke loketnya di jalan Riau. Ternyata MJ Scania jalan tanggal ganjil (di bulan September) dari Pekanbaru. Fix lah, tanggal 5 September mulai gasss. Booking tiket di redBus, sempat belasan kali gagal di pembayaran (gak keluar petunjuk pembayaran / kodenya) karena alasan teknis. Akhirnya tanggal 4 September berhasil juga. Dapet seat 14 (3B) seharga 125.000. Harga asli 250.000, dikurangi diskon 10% jadi 225.000, dan dikurangi lagi dengan saldo redBus 100.000. Jadi saya bayar 125k sadja dan dapet cashback 62.500 juga. Sayang masih belom bisa jalan gratisan kaya mas Ariep di capertouring.blogspot.com hehehe.

Rabu, 5 September 2018
Pulang daftar ulang semester 7 di kampus, langsung cabut ke loket MJ di jalan Riau. Syukur nama dan seat sudah terbooking walau di armada yang 40 seat, bukan Scania. Eh tapiiii saya malah diminta bayar. Lho kok? Alasannya mereka gak tau kalo saya penumpang online (beli tiket online) dan gak tau tentang online atau redBus. Akhirnya saya telpon redBus dan orang loket MJ juga bicara. Hampir 1 jam saya di loket, gak sepenuhnya ngomongin soal masalah ini sih. Ada juga diskusi tentang Medan Jaya, armada Scania, operasional Scania, iritnya si Scania dan semua mengenai ketentuan tentang armada Scania. Seperti solar yang lebih irit dibanding tronton sebelah, driver dengan sistem gaji, paket yang gak bisa sembarangan naikin di Scania, alasan Scania jalannya selang-seling, dll.
Balik ke masalah tadi, akhirnya pihak redBus akan menyelesaikan masalah ini dengan pihak Medan Jaya di Pekanbaru. Jadi saya pulang dan siap-siap. Jam 5-an sore, saya telpon pihak redBus dan loket MJ Pekanbaru, semua masalah sudah clear. Faedahnya dari masalah ini? Baut saya, harus tetap laporan ke loket (sebelum hari keberangkatan) untuk kepastian. Buat MJ Pekanbaru, menambah info mengenai tiket online dan akan turun Smartphone dari pusat untuk tiket online. Sebenarnya masalah ini mengenai uang aja. Kalo ga ada uang masuk (tiket saya) ke loket, lah gimana mau bawa uang setoran tiketnya ke Medan, nomboklah mereka. Ternyata uang tiket saya langsung masuk ke Medan. Itu aja sih.

19:40 saya tiba di loket Medan Jaya di jalan Riau dengan naik Gojek dari kost. Pengennya sih naik Trans Metro Pekanbaru aja biar murah. Tapiii, karena loketnya ini di “pelosok”, susah akses transportasi umum, jadinya onlen aja lah. Mulai aja, udah tekorrr hehehe.
Nampak Scania 77 siap jalan. Penumpang (bertiket resmi yang naik dari loket) pun sepi, bisa dihitung dengan jari satu tangan.

Selonjorrrr. Anti Mentok!!!
19:50 Pushback. Untungnya loketnya di sini, jadi gak kejebak macet karena pembetonan jalan (sistem buka tutup). Bus lain kaya Intra, PPP, M/H Group, Sempati Srar, RAPI, dll yaaa harus ikut sistem buka tutup. Sebenernya saya bisa aja naik dari terminal, tapi kasian juga sama crewnya, jadi berkurang waktu istirahatnya.
Gak lama lepas dari loket diputar lagu. Bukannya lagu berbasaha Batak / Karo, malah lagu Minang. Lllaaahhh, uniq yaa. Playlist awal lagu Minang. Tapi nanti juga ada lagu berbahasa daerah lainnya. Yang saya ingat cuma satu, Mardua Holong, yang lagi atau masih hits.
20:50 melewati Masjid Nurul Huda, Minas. Sepanjang jalan, santai aja si Scania 77 ini, mungkin karena sepi sewa. Tapii, setelah dikira udah gak ada penumpang yang akan naik lagi, mulai terasa MJ Scania yang sesungguhnya. BTW, saya pindah tempat duduk ke nomer 2 (1B) dan tanpa penumpang sebelah. 2 kursi saya kuasai sendiri, mana selonjorrr pulaa. MANTAB.
21:05 @Minas. Sempat agak geram juga saya karena truk berjejer dengan jalannya yang selow. Butuh waktu juga untuk keluar dari konvoi truk ini. Pas di Rumbai juga sempat tertahan karena truk. Hihhh.
21:38 melewati RM Tuah Sakato, Kandis. Ada Putra Pelangi HDD rombakan dari Padang dan beberapa kendaraan lain. Sementara RM Setia Abadi, tempat singgahnya M/H Group, masih sepi.
21:41 ehh masuk RM Bambu Kuning, Kandis. Saya kira yang katanya Non Stop ini gak masuk RM, eh masuk juga. Ternyata buat naikin penumpang (bertiket resmi). Ada MJ nopin 40 (MB 1526 Legacy) yang lagi dinner.
21:47 oo ooowwww ada Bintang Utara Putra viral, OC500RF 2542 kelas Ekonomi Toilet. Posisinya seperti masuk loket, bukan menepi. Akankah 2542 paling bertenaga ini jadi lawan di jalan?
22:17 eaaaa ternyata disalip BUP saat menepi. Hihh, gak seru lah.
23:15 menepi di Duri, tepatnya sebelum loket Putra Pelangi. Pas berhenti ini disalip lagi sama Intra bodi CK Eurostar, PMM 1626 Euroliner kuning, dan MJ 40. Duhhhh, gak asik lahhh.

Kamis, 6 September 2018
00:36 melintas Polres Rokan Hilir.
01:49 salip Makmur 2542 yang berhenti di RM Sherli, sebelumnya disalip dulu sih. Dua menit kemudian salip lagi si PMM kuning. Ehh semenit setelah salip PMM, malah disalip Makmur 2542 yang tadiii. Lincah amat tuh tronton. MJ pun gak ada niatan buat salip balik, jadi si Makmur menghilang dengan cukup cepat.
Memang MJ Scania rasanya malam ini gak mengeluarkan performa terbaiknya. Padahal kata orang loket, si MJ Scania ini pernah tembus di bawah 12 jam beberapa kali trip secara beruntun. Torehan waktu itu juga buat driver MJ Scania kena tegur atasan. “Kek mana lah kalian bawa mobil?”.
03:37 – 03:43 masuk RM Marni, Buluh Cina, Rantau Prapat. Bukan untuk istirahat, tapi entah ngapain. Lha rumah makannya aja tutup.
03:45 disalip Rajawali Aristo. Hmmmmm.....
06:10 disalip juga sama Halmahera 1836 Legacy SR-2 di simpang tiga setelah RM Gunung Sari, Asahan. Aehhhh...
07:38 Indrapura. Pupus sudah harapan tembus 12 jam Pekanbaru – Medan.
08:24 melewati terminal Bandar Kajum, Tebing Tinggi. Gak masuk, ngapain, waisting time.
08:45 GT Sei Rampah. Aseeekkk, masuk pintu tol paling pertama karena GT dan tol Tebing Tinggi – Sei Rampah belom jadi. Bahkan masih ada sawah, iya sawah yang ada padinya. Mungkin belom selesai masalah pembebasan lahan. Tapi entah lah.
09:18 GT Amplas. Mantap joss. Full tol. Di tol kecepatan maksimal cuma 120 kpj saja, itu pun diturunan kayanya. Kecepatan rata-rata 100. Gak ada speedo mentok, mungkin karena lagi hujan. Di tol juga AC jadi menghangat, mungkin freon bermasalah. Buat saya sih bagus, jadi gak semakin terasa mules hehehehe.
09:20 turun di simpang setelah GT Amplas.

Overall, agak kecewa karena gak bisa patahin rekor saya di rute ini, 13 jam 13 menit naik Halmahera SE Scania K360 (BK 7078 UD). Padahal itu udah termasuk macet buka tutup di jalan Riau, istirahat di RM Gunung Sari, dan gak masuk tol. Kalo gak macet, gak istirahat, dan masuk tol mungkin bisa tembus 12 jam lebih sekian menit. Intinya, MJ Scania sedang tidak pada puncak performa. Tapi oke lah, bayar setengah harga tapi masih bisa 13 jam dan selonjor mania.

Turun dari bus, saya langsung cari rumah makan, lah litak paruik wak. Pas jalan ke rumah makan, eh malah lewat itu bus Sejahtera yang ke danau Toba (Parapat). Yaa mending makan dulu lah. Makan di rumah makan padang sebelum Simpang Amplas cuma 9.000  saja. Abis itu nunggu bus Sejahtera lewat.

10:05 naik bus Sejahtera. Pertama kali naik bus ekonomi, seat 2-3 di Sumatera. Biasa naik ekonomi non ac seat 2-3 mah di bus kota Jakarta aja. Tadinya mau masuk tol dari GT Amplas, karena antrian agak panjang, jadi dari GT selanjutnya aja. Ongkosnya 40.000 yess menuju Parapat.
10:10 bersilangan dengan Rajawali ex. Symphonie dan RAPI Alaska (New Discovery) di depan United Tractors. Di dalam UT ada Sentosa Jetliner dan PMTOH K310 Scorpion X, mantan pelari Celebes dan ATLAS. Oohh, masih ada toh PMTOH Scania, jarang nampak, trouble lumayan kali yah.
10:19 GT Tanjung Morawa. Di sepanjang tol, Mercedes Benz lawas ini di gas poll dan sering di lajur kanan. Saya yang duduk di “The Real Hot Seat” alias paling belakang sampai mulai terasa hangat di betis karena hawa panas mesin yang dipacu dalam-dalam.
10:44 kres dengan Paradep DD prototipe. The Only One Double Decker dari Rahayu Santosa.
10:49 GT Teluk Mengkudu. Yahhh, gak full sampai Sei Rampah.
11:30 Tebing Tinggi. Ohh ternyata ke Siantar – Parapat lewat Tebing Tinggi juga tohhh. Selepas Tebing Tinggi, bus melewati jalan yang cukup mulus dan baik yang di sekelilingnya terdapat kebun sawit dan ada juga kebun singkong milik PTPN IV (kalo gak salah). Setelah PTPN IV, masuk ke PTPN III yang isinya hamparan pohon karet. Pokoknya syahdu banget lah. Langit mendung dan cuaca agak gerimis, jalan mulus, kiri kanan pohon karet berdiri dengan rapi. Ada juga rel kereta api, semapt liat juga rangkaian bawa tangki bertuliskan Pertamina. Entah rel ini, rel umum atau rel yang hanya dipakai oleh Pertamina dan PTPN.

12:41 melewati Siantar City Square. Gokil Siantar, ada Hypermart juga. Sadisss...
12:48 lewatin loket Intra – Sentosa. Banyak juga bus parkir di jalan sebelum loket. Setelah loket mereka, si Sejahtera berhenti di simpang terminal buat naik turun penumpang.
12:59 lewatin Universitas Simalungun.
13:00 isi solar dulu. Eh ada penampakan pemaik Jogjess tuh, si Pinguin. Entah lagi parwis atau udah mantan PR. Kalo parwis kok jauh amat mainnya dan kosongan. Hhmmmmm.....
13:25 jalan setelah istirahat sebentar di loket Sejahtera @Simpang Dua, dekat gudang Intra dan PMH.
14:20 Danau Vulkanik terbesar mulai menampakkan airnya buungg....
14:33 akhirnya saya turun di depan Pantai Bebas.

Turun bus, putu-putu duluuu lahhhh. Abis itu beli persedian logistik untuk di penginapan. Saya nginap di Star Hotel (dekat hotel Inna Parapat). Harganya 145.572 udah kena diskon dari Traveloka. Saya dapet kamar gak jauh dari resepsionis, mantap. Kamar dengan kasur besar, selimut hangat, TV, kipas yang gak guna karena udara sejuk cenderung dingin, kamar mandi dalam tanpa air hangat, 2 air mineral botol 500/600 ml, dan handuk.
Di Parapat ini saya Cuma keliling kecil sekitaran hotel aja jalan kaki. Mayan lah, menikmati udara sejuk sore hari di Parapat. Cuaca saat itu mendung. Padahal pas mau nyampe Toba, dari Medan malah banyak hujannya.

Jum’at, 7 September 2018 
07:37 saya check out hotel. Sebelum check out, ternyata diantarkan sarapan ke kamar. Lah saya kira mah gak dapat. Mayan lah sarapannya, roti bakar isi meises cokelat di atasnya dikasih susu kental dan keju, plus teh hangat 2 cangkir. Roti saya makan satu aja, satu lagi saya masukin plastik buat ganjel perut pas di kapal ke Samosir. Tehnya saya minum satu cangkir aja, nanti mules lagi. Ini hotel rekomen lah. Pelayannya juga ramah. Kalo ke Parapat lagi, saya bakal nginep di Star Hotel lagi.

Check out hotel langsung jalan kaki ke pelabuhan Tiga Raja. Sampe sana ehh gak ada tanda-tanda adanya kapal yang mau jalan. Alhasil jalan kaki lagi ke pelabuhan Ajibata buat naik Ferry. Jalan ke Ajibata lumayan juga, naik turun. Dan ternyata pelabuhan kapal tradisional dan Ferry terpisah. Pelabuhan Ferry itu setelah jembatan.
Untungnya sampe pelabuhan Ferry, kapal masih muat kendaraan dan penumpang. Beli tiket harganya 5000, padahal di tiket 3.900. Cara beli tiketnya isi data penumpang (sendiri atau rombongan) di kertas yang disediakan, nanti dikasih ke loket.
08:29 KM Tao Toba II pushback menuju pelabuhan Tomok, Samosir. Kapalnya kecil yak, baru kali ini naik Ferry yang kecil, biasanya naik Ferry di Merak – Bakauheni aja. Waktu tempuh sekitar 50 menit.
Agak memperihatinkan kondisinya. Tapi, overall, gak ada masalah apapun sepanjang perjalanan.
Merapat di Tomok, saya jalan ke Museum Batak dan tempat pertunjukan Tari Sigale Gale. Mungkin saya kurang terlalu suka yang beginian, jadi numpang lewat aja dan langsung balik ke kapal. HAHAHAHAHA
Selamat Datang di Pulau Samosir
Pas balik ke pelabuhan, rasanya pengen beli makan tapi gak jadi lah. Masih ada roti tadi. Sampe pelabuhan saya seperti biasa, beli tiket 4.000 untuk kali ini dan langsung naik ke kapal.
10:04 KM Tao Toba II (yang tadi) mulai berlayar selama 50 menit ke Ajibata. Itu artinya, hanya ada waktu 40 30-40 menit untuk bongkar muat. Kasian juga Tao Toba II ini, pagi-pagi udah puter walikan aja. Si Tao Toba I yang ada di Ajibata kayanya lagi trouble, atau mungkin jatah jalannya itu Sore – Malam. Entah lah.

Pelabuhan Ajibata. Ada bus Samosir Pribumi
Setelah bersandar, awalnya saya niat cari makan dulu di sini, karena banyaknya rasa ragu di kepala, yaaa gak jadi lah. Nah, di pelabuhan ini ada loketnya Sejahtera yang sekaligus jadi titik awal maupun titik akhir trip dari bus Sejahtera. Di loket sudah ada bus Sejahtera yang sedang stay dan akan berangkat beberapa saat lagi. Langsung naik aja.
11:32 pushback dan langsung nanjak keluar area Ajibata. Selesai nanjak harus putar 180 derajat untuk menuju jalan utama / lintas Toba – Medan.
11:43 lewatin terminalnya Parapat. Di seberang ada sosok Jetbus HD dengan livery Zentrum, mungkin sang mantan TZ kali yah. Lepas terminal, singgah sebentar di loket Sejahtera yang berada di seberang Pegadaian dan sebelum SPBU. Selepas tidak tampak lagi danau Toba, saya mencoba tidur dan berhasil. Lumayan lah.
13:11 melewati Universitas Sumalungun.
13:19 – 13:45 berhenti di Simpang Parlo (kalo gak salah) atau Simpang terminal sebelum loket Intra / Sentosa di Pematang Siantar. Lama banget berhentinya, penumpang yang tadinya belom penuh, jadi hampir penuh. Kursi yang saya kuasai sendiri, jadi ada orang di sebelah. Akhirnya merasakan lagi sempitnya seat 2-3 hahahaha.
13:57 masuk terminal Pematang Siantar. Laporan sadja sama petugas Dishub. Lepas Siantar, tepatnya di jalur perkebunan PTPN, si Mercy lawas ini tetap dipacu kencang walau terkadang kena hadangan truk yang jalan pelan. Sensasi akselerasi pas salip kendaraan dengan mesin bertenaga kecil itu punya cita rasa tersendiri.
14:53 Simpang Medan, Tebing Tinggi.
15:22 GT Sei Rampah. Nahhh kek gitu lah, masuk tol dari awal mula.
15:47 GT Lubuk Pakam. Keluar di sini karena ada penumpang yang turun di Lb Pakam. Jadi mayan makan waktu lagi.
16:17 melewati Polda Sumatera Utara.
16:23 akhirnya turun di Simpang Amplas.

PERHATIAN!!! Setelah membaca, alangkah baiknya lihat  etape touring selanjutnya, Etape Medan - Aceh - Sabang  dan  Etape Aceh - Medan - Pekanbaru . Terima Kasih


DETAIL BUS

Bus: Medan Jaya (PT Medan Jaya Simalem)
Nomer plat bus: BK 7377 UA
Kelas: Executive
Jurusan: Pekanbaru - Medan
Tarif: 125.000 setelah berbagai potongan (aslinya 250.000)
Nomer kursi: 2 (1B)
Jumlah kursi: 32
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Scania K360IB Opticruise
Bodi: Jetbus2+ SHD (karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, rec.seat, leg rest, bantal, selimut, colokan listrik, sekat depan.
Waktu tempuh: 13 jam dan 30 menit.


PENILAIAN

+ Penumpang sepi, bisa kuasai 2 seat.
+ Leg romm selonjorrr, anti mentok.
+ Playlist lagu pas untuk perjalanan.

- Waktu tempuh agak mengecewakan. Bukan top performa. Tapi masih 13 jam, oke lah.
- Gak ada snack kalo dari Pekanbaru