Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferalredb527qjatau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.
Assalamualaikum
wr wb. Kembali lagi di blog saya. Postingan ini adalah postingan lanjutan
mengenai perjalanan saya menuju “Bumi Raflessia”, tepatnya postingan ini adalah
bagian saat saya kembali berangkat dari Bencoolen menuju arah utara. Kota tujuan
selanjutnya adalah Padang. Sebenarnya postingan ini mau di upload pada bulan April kemaren, tapi harus mangkrak/hibernasi sampai akhir Mei.
Padang saya
pilih menjadi kota tujuan selanjutnya karena saya ingin merasakan SAN 2542 SR-2
XHD Prime yang jadi primadona dan satu-satunya sasis tronron yang mengaspal di
Lintas Tengah Sumatera. Tiket saya tebus dengan harga 235.000 dengan nomer
kursi 23 atau 7C. Maklum, go show, sedapetnya aja. Masih untung dapet, daripada
kehabisan dan malah nanti naik PR atau putar balik menuju Pekanbaru.
Sebenarnya sih
saya rencananya mau beli tiket di RedBus, biar murah hehehe. Tapiii, sudah dua
minggu lebih sebelum saya berangkat touring, SAN hilang dari RedBus. Sangat
disayangkan memang. Jadi nambah biaya touring deh. Tapi rapopo lah, touring
harus tetap jalan.
Perjalanan ini
menjadi perjalanan yang cukup spesial bagi saya, karena ada hal-hal pertama
bagi saya. Pertama, ini pertama kalinya saya naik bus berbodi Legacy SR-2 dan
yang XHD Prime pula. Kedua, ini pertama kalinya saya naik sasis MB OC500RF 2542
versi transmisi ZF Ecolife setelah 3x naik 2542 generasi awal yang pakai
transmisi ZF Astronic, udah gitu Jetliner semua pula hahahaha. Hal yang paling
bikin saya penasaran adalah 2542 Ecolife ini. Ada yang bilang 2542 Ecolife ini
bus dengan transmisi bus kota / bus BRT.
Hal spesial lainnya ialah saya akan
melewati jalur Bengkulu – Lubuk Linggau di hari terang. Nampaknya jalur ini
cukup indah untuk di nikmati saat hari terang. Sayangnya, saya harus duduk di
kursi bagian tengah, jadi kurang puas menikmati pemandangan sepanjang
perjalanan. Jadi, bagaimana impresi saya naik 2542 Ecolife di rute ini? Silakan
disimak cerita ini. Semoga terhibur.
Rabu, 6 Maret
2019
13:07 tuas handbrake diangkat dan pedal gas mulai
diinjak, sementara roda mulai berputar yang membuat bus ini berjalan keluar
dari rumahnya di Rawa Makmur atau jalan MT Haryono, kota Bengkulu. Tidak jauh
dari pool SAN, ada loket PR dan nampak satu armada yang stay, yaitu bus
bermesin depan. VVADOOOO..... Hino AK.......
13:12 menaikkan penumpang di loket Pasar Minggu. Gila
juga ini. Ini jalanan cukup ramai dan jalannya juga tidak lebar alias sempit.
Bisa-bisanya kendaraan 13,5 meter masuk dan berhenti sejenak di sini. Akamsi
mah bebas lah.
13:47 melewati kantor Bupati Bengkulu Tengah
Yak, impresi awal dari transmisi Ecolife
dari ZF yang ditanamkan di sasis 2542 ini mulai saya rasakan dan saya sudah
bisa nilai. Impresi awalnya ialah luar biasa halus. Perpindahan gigi atau
percepatan di 2542 Ecolife ini sangatlah halus, bahkan suara perpindahannya
hanya samar-samar atau gak jelas. Udah kaya pure matic aja gitu. Berbeda dengan
Scania Opticeuise yang perpindahan giginya cukup terdengar, terutama di Scania
7 speed milik K360 (versi Opticruise). Lalu bagaimana penilaian selanjutnya? Apakah
impresi awal ini menjadi impresi final saya mengenai 2542 Ecolife ini? Simak
terus ceritanya.
14:25 kres SAN Golden Dragon. Uwawww,,,,, sepertinya ini
bus dari pulau Jawa, baru sampe sini yah.
14:37 masuk Kabupaten Kepahiang.
Jalanan setelah masuk kabupatan
Kepahiang ini cukup ekstrim, jalannya naik turun + berkelok + sempit, mayoritas
sih jalannan menanjak. Bayangin,,,,,eh gak usah bayangin deh, liat aja videonya
di YouTube, banyak kok. Pokoknya di jalur kaya gini, bus, apalagi 2542 ini,
bakalan sering bunyiin klakson buat kasih tanda ke kendaraan di arah
berlawanan. Gak sekali dua kali juga bus sampai harus berhenti buat bergantian
pada saat belok. Gak sekali dua kali juga lewat belokan tajam. Sebenarnya saya
sudah ada impresi selanjutnya mengenai 2542 Ecolife ini, tapi saya tahan dulu
sampai keluar dari jalur eksotis nan ekstrim ini.
14:57 Loket Kepahiang
16:01
– 16:16 terminal Nangka, Curup.
Terminal yang,,,,sepi-sepi ajah. Seperti yang sudah diketahui, penjual gorengan
di sini cukup menjadi primadona bagi penumpang. Lumayan buat ganjal perut. Saya
juga beli gorengan 5000 (isi 5) buat ganjal perut dan langsung habis sebelum
bus kembali jalan hahahaha.
Selepas terminal Nangka, hujan turun dan
diikuti dengan datangnya kabut. Adanya kabut, pertanda daerah ini berada di
dataran tinggi. Benar saja, sepanjang jalan banyak kebun sayur. Sepertinya
kabupaten ini jadi pemasok sayur-mayur bagi wilayah Bengkulu – Lubuk Linggai
dan sekitarnya. Segar mata kalo liat beginian. Udah muak liat macetnya
perkotaan.
17:37 kres Putra Raflessia Skyliner 1626 hijau.
Wadohhhh,,,,,ini lagi baru mashokkk.
17:51 masuk Lubuk Linggau.
18:05
– 18:11 Loket SAN Lubuk
Linggau
18:19
– 19:02 RM Simpang Raya, Lubuk
Linggau. Masuk RM langsung menunaikan kewajiban dulu, abis itu makan. Saya makan
pakai nasi goreng dengan isian telur eye cow. Rasanya? Hambar cok! Njir, gak
nikmat amat makan kali ini. Telornya sih masih mending ada garamnya sedikit.
Husnudzon aja, mungkin saya disuruh diet hahahaha.
20:15 berhenti di penjual Duku di pinggir jalan.
Lubuk Linggau ini ada jalan lurus
sepanjang sekian kilometer hehehe. Bahkan, mayoritas jalan sampai Sumbar
jalannya banyak yang lurus. Setelah melalui jalan lurus yang panjang, bahkan
sampai top speed 100+ kpj di Ulysse Speedometer, saya sudah bisa menyimpulkan
mengenai 2542 Ecolife ini.
Transmisi Ecolife dari ZF yang ditanam
di dalam 2542 memang cocok, bahkan sangat cocok dan mantap,,,,,,,,, di jalan
lurus. Perpindahan gigi halus sekali. Namun sayang, saat menemui jalan
menanjak, sepertinya kurang cocok. Mungkin perasaan saya aja kali ya, terutama
saya ini awam mengenai hal teknis di dunia otomotif. Tapi saya merasakannya ya
begitu. Ecolife ini kurang bertenaga saat jalan menanjak, maksudnya saat mulai
menanjak mulai dari kecepatan rendah, kaya akselerasi gitu lah. Kaya terasa
lamanya.
Hal baik dari Ecolife ini memang
transmisi yang halus dan sangat cocok di jalan lurus. Pernah nonton video mas
Andriawan Pratikto di YouTube? Yang suara 2542 (Ecolife) Lorena seperti suara
jet? (https://www.youtube.com/watch?v=gXQk2FaeqW4) Suaranya sama seperti yang saya naiki, hanya saja suaranya halus atau
nyaris tidak terdengar. Dannnn,,,,, di kecepatan 100+ kpj, 2542 dengan bodi
SR-2 XHD Prime ini sangat stabil. Wow, luar biasa impresif. Padahal pas naik
K310, di 100+ kpj, sudah agak terasa melayang. Mungkin juga itu karena posisi
duduk saya atas roda.
20:50 Pasar Singkut
21:04 Polres Sarolangun
21:20 Terminal Sri Bulan, Sarolangun
22:14 Terminal Pulau Tujuh, Bangko bersama ALS Jetbus MB
1626
22:33 kres SAN 2542 dan NPM
Saya sebenarnya bosan di perjalanan ini.
Mengapa? Karena duduk di tengah, gak bisa liat jalanan. Udah gitu saya melek
terus pula karena abis minum kopi. Parahnya lagi, kalo mau tidur, leher dan
kepala sakit. Parahnya juga, kursi AMG yang awalnya saya kira Aldilla, karena
dari depan mirip Aldilla, tidak lebar. Jadi gak nyaman aja gitu. Mending kursi
lebar, tapi lorong sempit. Toh waktu di dalam bus juga banyak dihabiskan untuk
duduk, bukan mondar-mandir di lorong bus.
23:43 jalan dari terminal Muaro Bungo
Kamis, 7 Maret
2019
01:25
– 02:05 RM Umega, Gunung Medan
bersama SAN Bisnis AC Bukit Tinggi. Di sini saya menunaikan kewajiban dan
makan. Gak makan berat, tapi makan Pop Mie aja buat ganjal perut.
02:13 jalan dari SPBU
Setelah jalan dari RM dan SPBU. Saya
baru teringat mengenai entertainment di bus ini yang diusung oleh MSI Funtoro.
Saya kira mah AVOD gitu, tapi kok gak ada. Saya Cuma liat antena router di atap
bus ini yang berjumlah dua buah. Saya kira WiFi, saya coba aja sambungin ke hp
saya. Eh ternyata ada. Saya kira internet beneran. Taunya ini entertainment MSI
Funtoro itu toh. Kaya AVOD tapi hiburannya di smartphone sendiri (dihubungkan
melalui jaringan nirkabel) tapi tanpa layar di belakang kursi. Mirip kaya yang
ada di HarJay Double Decker lah. Pilihan hiburan (film, lagu, dll) juga lumayan
lah buat menghibur.
Sialnya, hal ini baru saya sadari
setelah masuk Sumbar dan baterai low. Kenapa gak pas di Lubuk Linggau tadi aja
coba. Selain itu, hp saya yang low battery juga malah saya malas ngecharge. USB
portnya ada di dinding, dekat penumpang sebelah. Gak mantap buat penumpang di
lorong kaya saya. Tapi memang USB port ini sangat membantu loh.
02:22 Overtake SAN Bukittinggi
02:51 Simpang Kiliran Jao
04:11 Polsek Muaro Kalaban & Simpang Sawahlunto
Selepas ini, saya banyak tidur. Wilayah
Sitinjau Laut pun saya sekali dua kali aja terbuka mata, itu pun langsung merem
lagi.
05:36 turunan Panorama 1, Sitinjau Laut
06:24 akhirnya saya turun di Simpang Masjid Raya Sumatera
Barat.
Selesai sudah perjalanan saya bersama
SAN Legacy SR-2 XHD Prime 2542 Ecolife. Banyak hal baru yang saya dapat dari
perjalanan kali ini. Perjalanan saya selanjutnya adalah langsung balik menuju
Pekanbaru. Bagaimana perjalanan selanjutnya? Simak terus.
DETAIL BUS
Bus: Siliwangi
Antar Nusa (PT SAN Putra Sejahtera)
Nomer plat bus:
BD 7088 AU
Kelas: Executive
Jurusan:
Bengkulu – Padang
Tarif: 235.000
Nomer kursi: 23
(7C)
Jumlah kursi: 53
Merk kursi: AMG
Sasis: Mercedes
Benz OC500RF 2542 Ecolife (ZF Ecolife Transmission)
Bodi: Legacy
SR-2 XHD Prime (karoseri Laksana)
Fasilitas: AC,
TV, audio, personal entertainment, toilet, rec.seat, foot rest, bantal,
selimut, USB charger.
Waktu tempuh: 17 jam dan 17 menit.
PENILAIAN
+ Transmisi ZF Ecolife perpindahan
giginya sangat halus
+ Personal entertainment dari MSI
Funtoro memang membantu untuk mengusir kebosanan. Lebih private, dan juga irit
dari segi ekonomis bagi perusahaan (SAN)
- Kursi sempit, tidak lebar. Jadi kurang
nyaman.
- Lubang louvre AC ternyata sudah banyak
yang hilang separuh. Sangat sayang memang, mengingat usia bus ini yang masih
muda.
PADANG – PEKANBARU
Setibanya di
Padang, saya langsung menuju Masjid Raya Sumatera Barat untuk,,,,,,, mandi
hahahaha. Saya menuju kamar mandinya buat bersih-bersih badan. Lumayanlah
seger. Gak lupa juga putu-putu ini Masjid dengan keunikkannya serta pemandangan
di sekitar Masjid. Setelah itu saya ke seberang, tepatnya ke WiFi id Corner
atau Taman Digital buat wipian.
Emang dasar kere
bin pelit bin missqueen, mau WiFi-an aja nyari ID sama password WiFi ID di grup
FB biar kaga bayar. GAK MODAL!!! Hahahaha. Gak berhasil dapat, sempet pengen
beli vouchernya aja di LinkAja (dulu T Cash), eh tapi ada WiFi yang terbuka
nih. Ternyaa WiFi dengan nama BAPPEDA SUMBAR gak pake password. Ini jaringan
asalnya dari mana coba. Mana cepet juga lagi. Mayan lah WiFi gratis, chager hp
gratis. Benar-benar mental masyarakat negara +62. Hahahahaha.
Habis WiFian,
coba cari sarapan yang dekat pun gak ada, akhirnya saya ke WC Masjid (bukan
Masjid Raya) buat setoran atau melaksanakan ritual pagi. You know lah. Abis itu
nge-Go Jek ke Ambacang atau By Pass, tepatnya ke loket Epa Star, tepatnya lagi
ke loket Putra Pelangi yang jadi satu sama loket Epa.
Setibanya di
sana, langsung beli tiket ke Pekanbaru. Harganya 150.000 tapi saya nego dengan
harga deal di 130.000. Kebetulan juga yang akan jalan itu 1626 Jetbus HD tanpa
topi. Duhhh mantul. Sesuai harapan. Nostalgia sama 1626, udah gitu Jetbus HD
pula. Jadi nostalgia pas naik Rosalia Indah NL 399 dan 397 (Bitung – Blitar)
pas masih bodi Jetbus HD livery bulan sabit. Abis beli tiket, makan ketupat
sayur dulu di lapau/kedai di sebelah loket. Mayan lah, 8000 udah plus gorengan
bakwan 2. Pengen bungkus tuh bakwan tapi mager, padahal bikin ngiler juga tuh
bakwan.
Sebelum
berangkat, saya mendapatkan satu hal yang membuat saya harus mengakhiri
perjalanan naik PPP nanti di Bukit Tinggi saja, gak sampai Pekanbaru. Mengenai
tiket, biarlah saja. Kalo kata Ibu saya, itung-itung beramal.
Kamis, 7 Maret
2019
10:07 setelah menunggu satu jam lebih, padahal katanya
jalan jam 9. Akhirnya berangkat juga dari By Pass Padang.
10:48 melewati Pasar Usang, ketemu SAN 2542 di SPBU. Wah
si 7088 nyolar di situ toh
11:00 melewati Pasar Mudik, Lubuk Alung
11:17 melewati Pasar Sicincin. Di sini kalo gak salah
sudah terkena macet. Gak tau kenapa. Masa iya jembatan yang dulu putus, sampe
sekarang belom beroperasi normal 100%.
12:37
– 12:46 SPBU Kayu Tanam.
Bangun tidur udah di sini aja. Melipir ke WC dulu lah. Bangun tidur malah
terasa lapar. Jadi nyesel gak bungkus bakwan di loket tadi.
12:53 melewati Air Terjun Lembah Anai
13:01 masuk Padang Panjang
13:14 masuk Terminal Bukit Surungan, Padang Panjang. Gak
ada penumpang naik, abis masuk, keluar lagi. Gak lama keluar terminal, kres
denga Putra Pelangi BL 7504 AA (Jetbus HD 1626)
13:31 melewati Pasar Koto Baru. Untung ini pasar lagi
waktunya libur, jadi gak macet. Kalo lagi hari pasar mah beuhhhhh makan banyak
waktu di sini.
13:44 melewati Pasar Padang Luar. Untung gak terlalu
macet di sini. Ketemu ALS 1521 SR-2 HD Prime juga.
13:55 akhirnya finish Terminal Aur Kuning, Bukittinggi.
Jadi, bagaimana
kepulangan saya ke Pekanbaru? Ya, saya naik bis lagi, 11:12 lah saya yang
kemaren. Tapi saya gak buat catatan waktunya. Malas, dan ini pertama kalinya
sejak pertama kali ngeblog di 2014, saya naik bus tanpa mencatat waktu
perjalanan. Memang sebuah dedikasi, dedikasi yang unfaedah hahahaha. Maksudnya
unfaedah itu kaga ada hasilnya alias kaga ada duitnya. Lah saya naik bus selama
ini gak pernah untung, malah ngeluarin duit mulu hehehe.
Hari Sabtu, 9
Maret 2019 saya kembali ke Pekanbaru. Tapi saya gak beli tiket, saya gunakan
cara “ilegal”, hmmm,,,,,,, jadi menelan ludah sendiri karena saya pernah benci
sama orang yang syarkawian. Entah males aja gitu beli tiketnya di loket
walaupun jarak dekat.
Armada yang saya
akan naiki ialah armada yang duluan lewat di Simpang Pasar Biaro. Siapa cepat,
dia saya naiki. Saya sempat telepon ke orang loket Putra Pelangi di terminal
Aur Kuning. Ternyata PPP gak jalan hari itu, akhirnya saya dinaikin Sempati Star.
Hmmmm,,,,, penasaran saya dapat armada yang kaya gimana.
Sekitar jam 2
siang lewat, Sempati Star 1626 Jetbus HD datang. Saya langsung naik. Wah 1626
Jetbus HD lagi. Mantul. Masalah datang, ternyata SS gak masuk Pekanbaru, tapi
nanti belok di Bangkinang lewat Petapahan dan masuk Lintas Timur di Kandis. Wah
mas alahhhh. Akhirnya saya putuskan turun di Bangkinang dan nantinya lanjut
travel yang gak jelas masih ada apa engga jam 7-8 malam nanti di Bangkinang.
Ongkos yang saya harus bayar tadinya 120.000, karena sampe Bangkinang aja, jadi
70.000. Sepertinya ini harga loket,, bukan harga asli syarkawi. Entahlah.
Mengenai bus
ini. Bodi masih cukup kokoh walau sudah jelek interiornya. Jumlah kursi gak tau
berapa pasti, tapi 8 baris. Sayang leg room sempit karena kursi yang jumbo. Ada
plus minus sih. Plusnya, kursi nyaman dan lebar, mantap. Minusnya yaaa leg room
sempit. Dan ini gak ada bantal, lebih parah dari PPP kemaren. Yahh walaupun PPP
gak semua kursi ada bantal. Saya kira mah ini SS 1626 masih pakai kursi yang
mirip kaya di PPP 1626 ukurannya, ternyata sama kaya armada SS lain pakai
Aldilla tebal.
Sekitar baru
masuk Ashar (jam 15:30 lewat), bus masuk rumah makan di kabuparen Lima Puluh.
Rumah makan ini juga jadi persinggahan PPP dan NPM. Saya di sini menunaikan
kewajiban dan makan. Makan pakai nasi soto seharga 15.000. Rasa? Standar amat
lah, yang penting lapar hilang.
Jalur Padang –
Bukit Tinggi – Lima Puluh – Kampar merupakan jalur yang indah untuk dilihar dan
dinikmati. Ada lembah-lebah dengan tebing berwarna hitam, bukit-bukit,
persawahan, Kelok 9 yang fenomenal, Ulu Kasok (di Riau), dan beberapa jalan
berada di pinggir sungai. Kerenlah pokoknya. Di jalur begini mah jangan tidur,
apalagi kalo baru pertama kali. Jalurnya juga cukup ekstrim, mirip kaya jalur
yang saya lewati di perjalanan sebelumnya di touring ini.
Sebelum masuk
Bangkinang, mampir dulu di Masjid, memberi kesempatan untuk penumpang buat
Sholat Maghrib berjamaah. Goks! Baru kali ini saya naik bus seumur hidup, kru
mau berhenti pas waktu Maghrib. Biasanya mah bakal dijamak. Sebelum masuk
Bangkinang juga kru kasih tau kalo bus akan masuk dan aatu lewat Pekanbaru,
jadi saya aman lah perjalanan ini. Saya juga nambang ongkok 50.000. Sip lah.
Sekitar jam
21:06 saya turun bus, turun sebelum simpang jalan Melati – Garuda Sakti. Saya
kira bus ini akan lewat jalan Soebrantas dan Tabek Gadang, eh ternyata engga.
Saya kira juga bakal masuk jalan Melati dan masuk jalan Naga Sakti melewati
Stadion Utama Riau, eh engga juga. Akhirnya turun di simpang Melati aja lah.
Waktu tempuh 7
jam kurang. Normal lah buat bus. Saya aja kalo naik travel sekitar 6 jam
(BKT-PKU). Itu travel loh yang jalannya ngebut dan mosak-masik. Tapi ini kan
bus, gak bisa mosak-masik semudah mobil travel.
Usai sudah
perjalanan saya menuju Bumi Raflessia sekaligus Ranah Minang, bahkan sampai ada
hal tak terduga sampai menambah hari perjalanan. Sungguh perjalanan luar biasa
dengan pemandangan jalan yang luar biasa. Ini adalah rute yang indah, kalo
dilewati saat hari terang.
Terima kasih telah
menikmati catatan perjalanan / touring kali ini. Sampai jumpa di catatan
perjalanan berikutnya.
Kira-kira berikutnya naik apa ya???
Apakan LE 151 lagi hahahaha? Simak saja beberapa bulan ke depan.
DETAIL BUS
Bus: Putra
Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus:
BL 7524 AA
Kelas: Executive
Jurusan: Padang
– Pekanbaru – Medan
Tarif: 130.000
Nomer kursi: 16
(4D)
Jumlah kursi: 32
+ 3
Merk kursi:
Aldilla
Sasis: Mercedes
Benz OH 1626
Bodi: Jetbus HD
(karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC,
TV, audio, toilet, rec.seat, leg rest bantal, selimut, sekat belakang / smoking area
Waktu tempuh: 3 jam dan 48 menit.
PENILAIAN
Kayanya gak perlu ada penilaian lah ya,
cuma trip jarak dekat kok. Pokoknya standar aja lah.
Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)
Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 40.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.
Sebenarnya tidak ada
niatan ingin pulang dari Kampung Inggris, Pare menggunakan Gunung Harta.
Awalnya saya berpikir untuk menjajal OBL jatah Malang yang diisi 68ML a.k.a.
Pepsi Blue dan 68NR a.k.a. Mocccacino. Tapi dengan harga yang lebih mahal
50.000 dibanding GH dan takutnya dirolling dengan armada lawas akhirnya batal.
Sempat terpikir PK yang tiketnya lebih mahal 30.000 tapi sampai Poris, karena
pikiran sudah jelek tentang RM Uun akhirnya batal lagi. Malino Putra? Harga
sama tapi paling mujur dapet Scorpion X Hino RG, 'alah ga pake airsus' itu yang
ada dipikiranku walau tarifnya sama dengan GH. Lorena? Males ah. Apa terpaksa
harus naik Rosin dari Kediri lagi atau nyoba GH dari Kediri. Setelah berpikir
panjang saya putuskan untuk mencoba Gunung Harta dari Malang menuju Pasar Rebo.
Maka tanggal 13 Desember
2014 kuputuskan untuk beli tiket ke pool GH di Malang. Tapi saya gak tau
Malang, untungnya ada Kaskus. Saya tanya sana-sini kepada kaskuser regional
Ngalam eh Malang. Skip...skip...
Sabtu, 20 Desember 2014
Saatnya bersiap menuju
Malang. Jam 7 pagi saya diantar teman menuju perempatan Taman Garuda, Pare
untuk naik bis. Tak butuh waktu lama bis Puspa Indah pun datang. Saya pamit
dengan teman lalu naik, 20.000 adalah uang yang harus saya bayar untuk sampai
ke terminal Landungsari Malang. Perjalanan memakan waktu 2,5 jam melewati
Jombang dan Batu. Sampai di term.Landungsari pukul 9:37, karena
belum makan saya pun makan di terminal. Jam 10an saya lanjut naik angkot ADL
menuju perempatan Jl.HOS Cokroaminoto - Jl.Pattimura dengan membayar tarif
4000.
10:55 saya cek in dan
saya tanya apa ada kenaikan, karna di grup FB GHL tanggal 20 mulai ada kenaikan
tarif, tapi alhamdulillah mbak ticketing bilang ga ada kenaikan, yaudah deh ga
mau nanya lagi, ntar si mbaknya berubah pikiran.
Lalu saya titipkan
carrier saya di pool GH karna saya ingin membeli bekal dan buah tangan, saat
membeli buah tangan tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah bis berbodi Jetbus HD
berwarna putih dongker dengan gambar gajah. Yap betul saja, Pepsi Blue pamer
badan di depan mata saya. Rasanya tuh kecewa kalo tau hari ini OBL jalanin
Pepsi Blue, tapi yasudah lah bawaan saya banyak dan saya incar kenyamanan.
Setelah balik ke kantor telah tampak sebuah bis warna hijau berbodi Jetbus2HD
Setra berchasis Mercedes Benz OH 1626. Alhamdulillah, sesuai keinginan.
12:15 GH 115 berangkat
dari pool. Sebelumnya ada masalah ketika ada penumpang lain bertiket Jakarta 2
masuk ke bis saya Jakarta 1. Langsung saya lapor ke petugas dan benar saja
mereka keliru, mungkin karena petugas belum menempel nomer bis di kaca.
Skip...beberapa menit jalan langsung disuguhi kemacetan kota Malang.
Tiara Mas Scorpion X di tengah kemacetan kota Malang
14:05 sampai di terminal Arjosari. Waduh, butuh 2
jam menuju Arjosari. Parah banget macetnya, udah kaya Jakarta aja. Di sini
telah terparkit deretan Pahala Kencana Jetbus dan Evonext, Kramat Djati Jetbus,
Malino Putra bodi Galaxy Exl yang sempat jalan bareng menuju arjosari,
sementara Lorena dan Gunung Harta lainnya sudah siap meninggalkan Arjosari.
Ada yang tidak
menyenangkan di terminal Arjosari, sebut saja oknum aremania yang membagikan
stiker arema seperti penjual yang menjajakan dagangan dan oknum itu berorasi.
Setelah berorasi oknum itu meminta udang seikhlasnya untuk pertemuan atau
apalah itu, awalnya saya menolak eh dia malah agak memaksa sampai dia dapet
duit berapapun, yasudah daripada cari masalah di kota orang saya kasih saja
2000 dan dapat 2 stiker.
Beberapa pengguna jasa
GH pun naik dan tampak seorang cewek muda, nampaknya SMA atau kuliahan masuk ke
dalam bis saya, dan saya sontak berharap semoga duduk di sebelah saya. Yah dia
malah lanjut ke belakang, apes deh. Eits tunggu dulu, sepertinya dia bingung
cari nomer kursi, karena GH 115 yang masih baru ini belum dikasih nomer kursi.
Feeling saya pun menguat bahwa dia akan duduk di sebelah saya dan benar saja,
dia bertanya ke saya kursi 3C, dan 3C itu di samping saya (saya duduk di 3D).
Alhamdulillah akhirnya penantian selama naik bis untuk ditemani sesosok wanita
cantik pun terkabul hahaha.
15 menit kemudian keluar
Arjosari dan snack mulai dibagikan. Diperjalanan menuju Pandaan cewek tersebut
memulai percakapan dengan bertanya kepada saya mau pulang kemana. Dan dia
bercerita kalau tadinya dia ingin ke Bogor naik Kramat Djati, sayangnya KD
tidak ada yang ke Bogor, lalu beralih ke GH. Sepertinya anda sudah ditakdirkan
untuk menemani saya sepanjang perjalanan, soalnya saya sering duduk bersebelah
dengan bapak-bapak. Cewek tersebut ke Bogor ingin liburan. Dia ternyata
mahasiswa UM atau Universitas Negeri Malang jurusan Fisika. Wow, fisika. Salah
satu pelajaran yang saya benci saat sekolah
17:37 keluat gerbang tol
Kebomas. Alamak, ternyata ga masuk Surabaya dan ga lewat Porong toh, padahal
saya pengen banget liat danau lumpur di Porong. Sepanjang perjalanan dari
Malang cuaca gelap dan hujan deras, bahkan dibeberapa jalan yang saya lewati
sudah tergenang oleh air.
18:10 Lamongan
18:55 masuk Tuban, asyik
sebentar lagi servis makan. 20 menit,,,30 menit kok gak sampe RM Taman Sari ya.
19:50 sampai di RM Taman Sari untuk servis makan. Di
sini ada banyak bis yang terparkir, ada GH 097 Jetbus HD 1626, Lorena Skyliner
O500R, Lorena Jetbus2HD, Lorena Evonext, MJCM Scorpion King dan beberapa Pahala
Kencana di sisi lain area rumah makan.
Sebelum makan saya
sempatkan untuk buang air dan solat, setelah itu siap makan. Lauknya berupa
mie, ayam, sop, tumis kangkung, tapi saya hanya mengambil ayam dan mie yang
banyak serta teh hangat. Oh iya, ruang makan GH ternyata di dalam dan pakai AC.
Beda dengan Lorena yang tidak ber-AC.
20:30 kami melanjutkan
perjalanan. Dan setelah kenyang saya mulai merasakan ngantuk walau sesekali
diselingi obrolan saya dengan cewek disebelah saya.
Sempat ada insiden
ketika sang supir GH rem mendadak cukup dalam dan membuat penumpang terbangun
dan seorang ibu-ibu berteriak. Bagi saya, ah biasa aja kok cuma lubang, kalo
bablas bisa pecah tuh balon airsus hahaha dan saat penumpang lain dan cewek
disamping saya cukup terkejut, saya hanya tenang dan tersenyum.
00:10 sudah di Kota
Wali, itulah julukan bagi kota Demak. Wah Lasem-Kudus kelewat nih.
00:40 melewati pelabuhan
Tanjung Emas, Semarang
01:30 GH asyik mengejar
Kramat Djati Jetbus2HD yang sepertinya berchasis Hino RN285/ Memang sungguh
nikmat naik bus yang pake airsus, jalan jelek pun tidak mengganggu kenyamanan,
apalagi kalo naik Scania K360.
01:47 masuk RM tersohor
seantero pantura karena makanannya yang lebih enak dari RM lainnya, yaitu Sari
Rasa, di sini mampir cuma untuk kontrol. Dan sudah banyak bus berhenti di sini
seperti GH Tulungagung JetbusHD Golden Dragon, Harapan Jaya, Lorena, dll
01:55 isi solar dulu
bareng 2 bis Gunung Harta bodi JetbusHD dan Harapan Jaya bodi JetbusHD juga.
Subuh mulai muncul bus
dari Jakarta seperti Haryanto, Agra Mas, Pahala Kencana, dll. Loh, jam segini?
Macet kah?
05:00 masuk tol Pejagan,
baru beberapa detik di tol sudah di blong Harapan Jaya Scania bodi Scorpion
King, dikejar pun makin menjaug. Waduh, ternyata ga semua Harjay itu santai,
yang satu ini luar biasa.
05:12 GH 115 blong
Harjay bus 6 JetbusHD dan Harjay Scania tadi sudah tak terlihat bokongnya.
05:22 gerbang tol
Mertapada dan terlihat Harjay Scania tadi, dan Harjay tersebut menepi ke bahu
tol.
05:30 blong ALS hahaha
biasa aja, eh malah bis saya diblong sama GH berchasis Golden Dragon, ya pantes
lah kalah. Monggo Goldrag duluan. Tol Pejagan ini lumayan bergelombang
jalannya, dan terasa sekali mentul-mentul air suspension dari chasis 1626 ini.
Tak lama kemudian keluar tol dan putar balik menuju jalan ke Jakarta-Cikampek
06:57 masuk RM Sinar
Minang, di sini sudah terparkir Jetbus2+ HD Setra sasis Hino RG plus built-in
air suspension dengan papan trayek Banyuwangi-Jakarta.
07:36 kembali
melanjutkan perjalanan dan snack kedua dibangian. Lagi dan lagi seperti snack
pertama, snack kedua hanya roti dan air mineral, bedanya snack pertama ada
sebungkus kacang, yang kedua tidak ada. Kenapa sih gak lontong, risol atau
lemper.
Sebelum RM Haryanto
sekitaran Patokbeusi jalan menuju Brebes atau timur terpantau macet karena
salah satunya kecelakaan truk dan pungutan sumbangan untuk pembangunan masjid.
Pukul 9 pagi sudah masuk
gerbang tol Cikampek. Di tol Cikampek GH 115 cuma mengasapi OBL kelas Patas AC,
Harja bus 6 dan Harjay Scania, karna jam segitu relatif sepi bis malam.
10:08 GH 115 sampai di
pool Pasar Rebo dan siap lanjut ke Bogor dan saya berpisah dengan cewek
tersebut, rasanya 20 jam terasa cepat sekali. Bahkan kami baru berkenalan nama
saat sebelum putaran balik sebelum pool Pasar Rebo hahaha, udah belasan jam
baru tau nama pas mau turun.
Sementara
saya yang tinggal di Tangerang, saya lanjut naik Hino nya Mayasari Bhakti AC 73
ke Ciledug. Dan cewek tersebut lanjut menuju Cibinong. Sampai ketemu lagi mbak.
DETAIL
BUS
Bus:
Gunung Harta (PT Gunung Harta Transport Solutions)
Kode
bus: GH 115
Nomer
Plat bus: DK 9163 GH (sekarang N 7198 UA)
Kelas:
Executive
Jurusan:
Malang - Jakarta – Bogor
Tarif:
300.000
Nomer
Kursi: 3D
Jumlah
Kursi: 32 + 2
Merk
Kursi: Aldilla
Sasis:
Mercedes Benz OH 1626 NG
Bodi:
Jetbus2+ HD (karoseri Adi Putro)
Fasilitas:
AC, TV, audio, toilet, bantal, selimut, leg rest, smoking room, colokan
listrik, snack, servis makan.
Waktu
Tempuh: 21 jam dan 52 menit
PENILAIAN
(+)
Kru ramah
(+)
Bus masih baru
(+)
Dapat snack 2x
(-)
Karena bus masih baru, jadi belum ada nomer kursi