Selasa, 28 Mei 2019

Mencoba Tronton Bertransmisi ZF Ecolife di Jalur Ekstrim | Bengkulu - Pekanbaru via Padang

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)

Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.

Assalamualaikum wr wb. Kembali lagi di blog saya. Postingan ini adalah postingan lanjutan mengenai perjalanan saya menuju “Bumi Raflessia”, tepatnya postingan ini adalah bagian saat saya kembali berangkat dari Bencoolen menuju arah utara. Kota tujuan selanjutnya adalah Padang. Sebenarnya postingan ini mau di upload pada bulan April kemaren, tapi harus mangkrak/hibernasi sampai akhir Mei.

Padang saya pilih menjadi kota tujuan selanjutnya karena saya ingin merasakan SAN 2542 SR-2 XHD Prime yang jadi primadona dan satu-satunya sasis tronron yang mengaspal di Lintas Tengah Sumatera. Tiket saya tebus dengan harga 235.000 dengan nomer kursi 23 atau 7C. Maklum, go show, sedapetnya aja. Masih untung dapet, daripada kehabisan dan malah nanti naik PR atau putar balik menuju Pekanbaru.

Sebenarnya sih saya rencananya mau beli tiket di RedBus, biar murah hehehe. Tapiii, sudah dua minggu lebih sebelum saya berangkat touring, SAN hilang dari RedBus. Sangat disayangkan memang. Jadi nambah biaya touring deh. Tapi rapopo lah, touring harus tetap jalan.

Perjalanan ini menjadi perjalanan yang cukup spesial bagi saya, karena ada hal-hal pertama bagi saya. Pertama, ini pertama kalinya saya naik bus berbodi Legacy SR-2 dan yang XHD Prime pula. Kedua, ini pertama kalinya saya naik sasis MB OC500RF 2542 versi transmisi ZF Ecolife setelah 3x naik 2542 generasi awal yang pakai transmisi ZF Astronic, udah gitu Jetliner semua pula hahahaha. Hal yang paling bikin saya penasaran adalah 2542 Ecolife ini. Ada yang bilang 2542 Ecolife ini bus dengan transmisi bus kota / bus BRT.
Hal spesial lainnya ialah saya akan melewati jalur Bengkulu – Lubuk Linggau di hari terang. Nampaknya jalur ini cukup indah untuk di nikmati saat hari terang. Sayangnya, saya harus duduk di kursi bagian tengah, jadi kurang puas menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Jadi, bagaimana impresi saya naik 2542 Ecolife di rute ini? Silakan disimak cerita ini. Semoga terhibur.


Rabu, 6 Maret 2019

13:07 tuas handbrake diangkat dan pedal gas mulai diinjak, sementara roda mulai berputar yang membuat bus ini berjalan keluar dari rumahnya di Rawa Makmur atau jalan MT Haryono, kota Bengkulu. Tidak jauh dari pool SAN, ada loket PR dan nampak satu armada yang stay, yaitu bus bermesin depan. VVADOOOO..... Hino AK.......
13:12 menaikkan penumpang di loket Pasar Minggu. Gila juga ini. Ini jalanan cukup ramai dan jalannya juga tidak lebar alias sempit. Bisa-bisanya kendaraan 13,5 meter masuk dan berhenti sejenak di sini. Akamsi mah bebas lah.
13:47 melewati kantor Bupati Bengkulu Tengah
Yak, impresi awal dari transmisi Ecolife dari ZF yang ditanamkan di sasis 2542 ini mulai saya rasakan dan saya sudah bisa nilai. Impresi awalnya ialah luar biasa halus. Perpindahan gigi atau percepatan di 2542 Ecolife ini sangatlah halus, bahkan suara perpindahannya hanya samar-samar atau gak jelas. Udah kaya pure matic aja gitu. Berbeda dengan Scania Opticeuise yang perpindahan giginya cukup terdengar, terutama di Scania 7 speed milik K360 (versi Opticruise). Lalu bagaimana penilaian selanjutnya? Apakah impresi awal ini menjadi impresi final saya mengenai 2542 Ecolife ini? Simak terus ceritanya.
14:25 kres SAN Golden Dragon. Uwawww,,,,, sepertinya ini bus dari pulau Jawa, baru sampe sini yah.
14:37 masuk Kabupaten Kepahiang.

Jalanan setelah masuk kabupatan Kepahiang ini cukup ekstrim, jalannya naik turun + berkelok + sempit, mayoritas sih jalannan menanjak. Bayangin,,,,,eh gak usah bayangin deh, liat aja videonya di YouTube, banyak kok. Pokoknya di jalur kaya gini, bus, apalagi 2542 ini, bakalan sering bunyiin klakson buat kasih tanda ke kendaraan di arah berlawanan. Gak sekali dua kali juga bus sampai harus berhenti buat bergantian pada saat belok. Gak sekali dua kali juga lewat belokan tajam. Sebenarnya saya sudah ada impresi selanjutnya mengenai 2542 Ecolife ini, tapi saya tahan dulu sampai keluar dari jalur eksotis nan ekstrim ini.
14:57 Loket Kepahiang
16:01 – 16:16 terminal Nangka, Curup. Terminal yang,,,,sepi-sepi ajah. Seperti yang sudah diketahui, penjual gorengan di sini cukup menjadi primadona bagi penumpang. Lumayan buat ganjal perut. Saya juga beli gorengan 5000 (isi 5) buat ganjal perut dan langsung habis sebelum bus kembali jalan hahahaha.
Selepas terminal Nangka, hujan turun dan diikuti dengan datangnya kabut. Adanya kabut, pertanda daerah ini berada di dataran tinggi. Benar saja, sepanjang jalan banyak kebun sayur. Sepertinya kabupaten ini jadi pemasok sayur-mayur bagi wilayah Bengkulu – Lubuk Linggai dan sekitarnya. Segar mata kalo liat beginian. Udah muak liat macetnya perkotaan.
17:37 kres Putra Raflessia Skyliner 1626 hijau. Wadohhhh,,,,,ini lagi baru mashokkk.
17:51 masuk Lubuk Linggau.
18:05 – 18:11 Loket SAN Lubuk Linggau
18:19 – 19:02 RM Simpang Raya, Lubuk Linggau. Masuk RM langsung menunaikan kewajiban dulu, abis itu makan. Saya makan pakai nasi goreng dengan isian telur eye cow. Rasanya? Hambar cok! Njir, gak nikmat amat makan kali ini. Telornya sih masih mending ada garamnya sedikit. Husnudzon aja, mungkin saya disuruh diet hahahaha.
20:15 berhenti di penjual Duku di pinggir jalan.
Lubuk Linggau ini ada jalan lurus sepanjang sekian kilometer hehehe. Bahkan, mayoritas jalan sampai Sumbar jalannya banyak yang lurus. Setelah melalui jalan lurus yang panjang, bahkan sampai top speed 100+ kpj di Ulysse Speedometer, saya sudah bisa menyimpulkan mengenai 2542 Ecolife ini.
Transmisi Ecolife dari ZF yang ditanam di dalam 2542 memang cocok, bahkan sangat cocok dan mantap,,,,,,,,, di jalan lurus. Perpindahan gigi halus sekali. Namun sayang, saat menemui jalan menanjak, sepertinya kurang cocok. Mungkin perasaan saya aja kali ya, terutama saya ini awam mengenai hal teknis di dunia otomotif. Tapi saya merasakannya ya begitu. Ecolife ini kurang bertenaga saat jalan menanjak, maksudnya saat mulai menanjak mulai dari kecepatan rendah, kaya akselerasi gitu lah. Kaya terasa lamanya.
Hal baik dari Ecolife ini memang transmisi yang halus dan sangat cocok di jalan lurus. Pernah nonton video mas Andriawan Pratikto di YouTube? Yang suara 2542 (Ecolife) Lorena seperti suara jet? (https://www.youtube.com/watch?v=gXQk2FaeqW4Suaranya sama seperti yang saya naiki, hanya saja suaranya halus atau nyaris tidak terdengar. Dannnn,,,,, di kecepatan 100+ kpj, 2542 dengan bodi SR-2 XHD Prime ini sangat stabil. Wow, luar biasa impresif. Padahal pas naik K310, di 100+ kpj, sudah agak terasa melayang. Mungkin juga itu karena posisi duduk saya atas roda.
20:50 Pasar Singkut
21:04 Polres Sarolangun
21:20 Terminal Sri Bulan, Sarolangun
22:14 Terminal Pulau Tujuh, Bangko bersama ALS Jetbus MB 1626
22:33 kres SAN 2542 dan NPM
Saya sebenarnya bosan di perjalanan ini. Mengapa? Karena duduk di tengah, gak bisa liat jalanan. Udah gitu saya melek terus pula karena abis minum kopi. Parahnya lagi, kalo mau tidur, leher dan kepala sakit. Parahnya juga, kursi AMG yang awalnya saya kira Aldilla, karena dari depan mirip Aldilla, tidak lebar. Jadi gak nyaman aja gitu. Mending kursi lebar, tapi lorong sempit. Toh waktu di dalam bus juga banyak dihabiskan untuk duduk, bukan mondar-mandir di lorong bus.
23:43 jalan dari terminal Muaro Bungo

Kamis, 7 Maret 2019

01:25 – 02:05 RM Umega, Gunung Medan bersama SAN Bisnis AC Bukit Tinggi. Di sini saya menunaikan kewajiban dan makan. Gak makan berat, tapi makan Pop Mie aja buat ganjal perut.
02:13 jalan dari SPBU
Setelah jalan dari RM dan SPBU. Saya baru teringat mengenai entertainment di bus ini yang diusung oleh MSI Funtoro. Saya kira mah AVOD gitu, tapi kok gak ada. Saya Cuma liat antena router di atap bus ini yang berjumlah dua buah. Saya kira WiFi, saya coba aja sambungin ke hp saya. Eh ternyata ada. Saya kira internet beneran. Taunya ini entertainment MSI Funtoro itu toh. Kaya AVOD tapi hiburannya di smartphone sendiri (dihubungkan melalui jaringan nirkabel) tapi tanpa layar di belakang kursi. Mirip kaya yang ada di HarJay Double Decker lah. Pilihan hiburan (film, lagu, dll) juga lumayan lah buat menghibur.
Sialnya, hal ini baru saya sadari setelah masuk Sumbar dan baterai low. Kenapa gak pas di Lubuk Linggau tadi aja coba. Selain itu, hp saya yang low battery juga malah saya malas ngecharge. USB portnya ada di dinding, dekat penumpang sebelah. Gak mantap buat penumpang di lorong kaya saya. Tapi memang USB port ini sangat membantu loh.
02:22 Overtake SAN Bukittinggi
02:51 Simpang Kiliran Jao
04:11 Polsek Muaro Kalaban & Simpang Sawahlunto
Selepas ini, saya banyak tidur. Wilayah Sitinjau Laut pun saya sekali dua kali aja terbuka mata, itu pun langsung merem lagi.
05:36 turunan Panorama 1, Sitinjau Laut
06:24 akhirnya saya turun di Simpang Masjid Raya Sumatera Barat.

Selesai sudah perjalanan saya bersama SAN Legacy SR-2 XHD Prime 2542 Ecolife. Banyak hal baru yang saya dapat dari perjalanan kali ini. Perjalanan saya selanjutnya adalah langsung balik menuju Pekanbaru. Bagaimana perjalanan selanjutnya? Simak terus.


DETAIL BUS

Bus: Siliwangi Antar Nusa (PT SAN Putra Sejahtera)
Nomer plat bus: BD 7088 AU
Kelas: Executive
Jurusan: Bengkulu – Padang
Tarif: 235.000
Nomer kursi: 23 (7C)
Jumlah kursi: 53
Merk kursi: AMG
Sasis: Mercedes Benz OC500RF 2542 Ecolife (ZF Ecolife Transmission)
Bodi: Legacy SR-2 XHD Prime (karoseri Laksana)
Fasilitas: AC, TV, audio, personal entertainment, toilet, rec.seat, foot rest, bantal, selimut, USB charger.
Waktu tempuh: 17 jam dan 17 menit.


PENILAIAN

+ Transmisi ZF Ecolife perpindahan giginya sangat halus
+ Personal entertainment dari MSI Funtoro memang membantu untuk mengusir kebosanan. Lebih private, dan juga irit dari segi ekonomis bagi perusahaan (SAN)

- Kursi sempit, tidak lebar. Jadi kurang nyaman.
- Lubang louvre AC ternyata sudah banyak yang hilang separuh. Sangat sayang memang, mengingat usia bus ini yang masih muda.


PADANG – PEKANBARU

Setibanya di Padang, saya langsung menuju Masjid Raya Sumatera Barat untuk,,,,,,, mandi hahahaha. Saya menuju kamar mandinya buat bersih-bersih badan. Lumayanlah seger. Gak lupa juga putu-putu ini Masjid dengan keunikkannya serta pemandangan di sekitar Masjid. Setelah itu saya ke seberang, tepatnya ke WiFi id Corner atau Taman Digital buat wipian.
Emang dasar kere bin pelit bin missqueen, mau WiFi-an aja nyari ID sama password WiFi ID di grup FB biar kaga bayar. GAK MODAL!!! Hahahaha. Gak berhasil dapat, sempet pengen beli vouchernya aja di LinkAja (dulu T Cash), eh tapi ada WiFi yang terbuka nih. Ternyaa WiFi dengan nama BAPPEDA SUMBAR gak pake password. Ini jaringan asalnya dari mana coba. Mana cepet juga lagi. Mayan lah WiFi gratis, chager hp gratis. Benar-benar mental masyarakat negara +62. Hahahahaha.

Habis WiFian, coba cari sarapan yang dekat pun gak ada, akhirnya saya ke WC Masjid (bukan Masjid Raya) buat setoran atau melaksanakan ritual pagi. You know lah. Abis itu nge-Go Jek ke Ambacang atau By Pass, tepatnya ke loket Epa Star, tepatnya lagi ke loket Putra Pelangi yang jadi satu sama loket Epa.
Setibanya di sana, langsung beli tiket ke Pekanbaru. Harganya 150.000 tapi saya nego dengan harga deal di 130.000. Kebetulan juga yang akan jalan itu 1626 Jetbus HD tanpa topi. Duhhh mantul. Sesuai harapan. Nostalgia sama 1626, udah gitu Jetbus HD pula. Jadi nostalgia pas naik Rosalia Indah NL 399 dan 397 (Bitung – Blitar) pas masih bodi Jetbus HD livery bulan sabit. Abis beli tiket, makan ketupat sayur dulu di lapau/kedai di sebelah loket. Mayan lah, 8000 udah plus gorengan bakwan 2. Pengen bungkus tuh bakwan tapi mager, padahal bikin ngiler juga tuh bakwan.
Sebelum berangkat, saya mendapatkan satu hal yang membuat saya harus mengakhiri perjalanan naik PPP nanti di Bukit Tinggi saja, gak sampai Pekanbaru. Mengenai tiket, biarlah saja. Kalo kata Ibu saya, itung-itung beramal.

Kamis, 7 Maret 2019
10:07 setelah menunggu satu jam lebih, padahal katanya jalan jam 9. Akhirnya berangkat juga dari By Pass Padang.
10:48 melewati Pasar Usang, ketemu SAN 2542 di SPBU. Wah si 7088 nyolar di situ toh
11:00 melewati Pasar Mudik, Lubuk Alung
11:17 melewati Pasar Sicincin. Di sini kalo gak salah sudah terkena macet. Gak tau kenapa. Masa iya jembatan yang dulu putus, sampe sekarang belom beroperasi normal 100%.
12:37 – 12:46 SPBU Kayu Tanam. Bangun tidur udah di sini aja. Melipir ke WC dulu lah. Bangun tidur malah terasa lapar. Jadi nyesel gak bungkus bakwan di loket tadi.
12:53 melewati Air Terjun Lembah Anai
13:01 masuk Padang Panjang
13:14 masuk Terminal Bukit Surungan, Padang Panjang. Gak ada penumpang naik, abis masuk, keluar lagi. Gak lama keluar terminal, kres denga Putra Pelangi BL 7504 AA (Jetbus HD 1626)
13:31 melewati Pasar Koto Baru. Untung ini pasar lagi waktunya libur, jadi gak macet. Kalo lagi hari pasar mah beuhhhhh makan banyak waktu di sini.
13:44 melewati Pasar Padang Luar. Untung gak terlalu macet di sini. Ketemu ALS 1521 SR-2 HD Prime juga.
13:55 akhirnya finish Terminal Aur Kuning, Bukittinggi.

Jadi, bagaimana kepulangan saya ke Pekanbaru? Ya, saya naik bis lagi, 11:12 lah saya yang kemaren. Tapi saya gak buat catatan waktunya. Malas, dan ini pertama kalinya sejak pertama kali ngeblog di 2014, saya naik bus tanpa mencatat waktu perjalanan. Memang sebuah dedikasi, dedikasi yang unfaedah hahahaha. Maksudnya unfaedah itu kaga ada hasilnya alias kaga ada duitnya. Lah saya naik bus selama ini gak pernah untung, malah ngeluarin duit mulu hehehe.

Hari Sabtu, 9 Maret 2019 saya kembali ke Pekanbaru. Tapi saya gak beli tiket, saya gunakan cara “ilegal”, hmmm,,,,,,, jadi menelan ludah sendiri karena saya pernah benci sama orang yang syarkawian. Entah males aja gitu beli tiketnya di loket walaupun jarak dekat.

Armada yang saya akan naiki ialah armada yang duluan lewat di Simpang Pasar Biaro. Siapa cepat, dia saya naiki. Saya sempat telepon ke orang loket Putra Pelangi di terminal Aur Kuning. Ternyata PPP gak jalan hari itu, akhirnya saya dinaikin Sempati Star. Hmmmm,,,,, penasaran saya dapat armada yang kaya gimana.

Sekitar jam 2 siang lewat, Sempati Star 1626 Jetbus HD datang. Saya langsung naik. Wah 1626 Jetbus HD lagi. Mantul. Masalah datang, ternyata SS gak masuk Pekanbaru, tapi nanti belok di Bangkinang lewat Petapahan dan masuk Lintas Timur di Kandis. Wah mas alahhhh. Akhirnya saya putuskan turun di Bangkinang dan nantinya lanjut travel yang gak jelas masih ada apa engga jam 7-8 malam nanti di Bangkinang. Ongkos yang saya harus bayar tadinya 120.000, karena sampe Bangkinang aja, jadi 70.000. Sepertinya ini harga loket,, bukan harga asli syarkawi. Entahlah.

Mengenai bus ini. Bodi masih cukup kokoh walau sudah jelek interiornya. Jumlah kursi gak tau berapa pasti, tapi 8 baris. Sayang leg room sempit karena kursi yang jumbo. Ada plus minus sih. Plusnya, kursi nyaman dan lebar, mantap. Minusnya yaaa leg room sempit. Dan ini gak ada bantal, lebih parah dari PPP kemaren. Yahh walaupun PPP gak semua kursi ada bantal. Saya kira mah ini SS 1626 masih pakai kursi yang mirip kaya di PPP 1626 ukurannya, ternyata sama kaya armada SS lain pakai Aldilla tebal.

Sekitar baru masuk Ashar (jam 15:30 lewat), bus masuk rumah makan di kabuparen Lima Puluh. Rumah makan ini juga jadi persinggahan PPP dan NPM. Saya di sini menunaikan kewajiban dan makan. Makan pakai nasi soto seharga 15.000. Rasa? Standar amat lah, yang penting lapar hilang.

Jalur Padang – Bukit Tinggi – Lima Puluh – Kampar merupakan jalur yang indah untuk dilihar dan dinikmati. Ada lembah-lebah dengan tebing berwarna hitam, bukit-bukit, persawahan, Kelok 9 yang fenomenal, Ulu Kasok (di Riau), dan beberapa jalan berada di pinggir sungai. Kerenlah pokoknya. Di jalur begini mah jangan tidur, apalagi kalo baru pertama kali. Jalurnya juga cukup ekstrim, mirip kaya jalur yang saya lewati di perjalanan sebelumnya di touring ini.

Sebelum masuk Bangkinang, mampir dulu di Masjid, memberi kesempatan untuk penumpang buat Sholat Maghrib berjamaah. Goks! Baru kali ini saya naik bus seumur hidup, kru mau berhenti pas waktu Maghrib. Biasanya mah bakal dijamak. Sebelum masuk Bangkinang juga kru kasih tau kalo bus akan masuk dan aatu lewat Pekanbaru, jadi saya aman lah perjalanan ini. Saya juga nambang ongkok 50.000. Sip lah.

Sekitar jam 21:06 saya turun bus, turun sebelum simpang jalan Melati – Garuda Sakti. Saya kira bus ini akan lewat jalan Soebrantas dan Tabek Gadang, eh ternyata engga. Saya kira juga bakal masuk jalan Melati dan masuk jalan Naga Sakti melewati Stadion Utama Riau, eh engga juga. Akhirnya turun di simpang Melati aja lah.

Waktu tempuh 7 jam kurang. Normal lah buat bus. Saya aja kalo naik travel sekitar 6 jam (BKT-PKU). Itu travel loh yang jalannya ngebut dan mosak-masik. Tapi ini kan bus, gak bisa mosak-masik semudah mobil travel.

Usai sudah perjalanan saya menuju Bumi Raflessia sekaligus Ranah Minang, bahkan sampai ada hal tak terduga sampai menambah hari perjalanan. Sungguh perjalanan luar biasa dengan pemandangan jalan yang luar biasa. Ini adalah rute yang indah, kalo dilewati saat hari terang.

Terima kasih telah menikmati catatan perjalanan / touring kali ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya.

Kira-kira berikutnya naik apa ya??? Apakan LE 151 lagi hahahaha? Simak saja beberapa bulan ke depan.


DETAIL BUS

Bus: Putra Pelangi (PT Putra Pelangi Perkasa)
Nomer plat bus: BL 7524 AA
Kelas: Executive
Jurusan: Padang – Pekanbaru – Medan
Tarif: 130.000
Nomer kursi: 16 (4D)
Jumlah kursi: 32 + 3
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Mercedes Benz OH 1626
Bodi: Jetbus HD (karoseri Adi Putro)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, rec.seat, leg rest bantal, selimut, sekat belakang / smoking area
Waktu tempuh: 3 jam dan 48 menit.


PENILAIAN

Kayanya gak perlu ada penilaian lah ya, cuma trip jarak dekat kok. Pokoknya standar aja lah.



Kamis, 14 Maret 2019

Touring di Jalur Ekstrim Nan Eksotis | Menuju Bumi Rafflesia

Tolong hentikan fokus anda pada artikel ini sementara :)

Bagi yang ingin mendapatkan diskon dari redBus silakan masukkan kode refferal redb527qj atau ke http://r.redbus.com/redb527qj-1q6 untuk mendapatkan diskon 80.000 saat mendownload di Android apps mendaftar di redBus. Sekian, Terima Kasih.


Assalamualaikum, selamat datang kembali lagi di blog saya yang di mana kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya menuju “Bumi Rafflesia” dengan rute pergi dan pulang yang cukup berbeda.

Latar belakang perjalanan ini cuma satu, bukan karena kangen naik bus atau belom pernah ke Bengkulu, tapi karena voucher dari RedBus. Saya dapat voucher senilai 120.000 dari RedBus yang dikirim melalui email yang terdaftar di Google. Voucher didapat jika sudah menjadi Local Guide. Lumayan khannn, 120 ribu, belom lagi potongan RedBus Wallet. Tadinya sih agak malas jalan, tapi akhirnya pikir lagi, lumayan juga nih potongannya. Selain bisa touring ngirit, bisa buat bahan di Blog sama YouTube. Kenapa saya pilih menggunakan vouchernya untuk naik bus ke Bengkulu? Simple, saya sudah bosan naik bus Pekanbaru – Medan dan belum pernah ke Bengkulu serta belum pernah naik SAN. Sip, pas lah.

Vouchernya dipakai maksimal tanggal 13 Februari. Nah berhubung bulan kedua di tahun 2019 ini APBP (Anggaran Pendapatan dan Belanja Pribadi) hahaha sedang krisis dan ada kemungkinan akan defisit di akhir bulan, makanya saya putuskan untuk jalan di awal Maret aja. Tanggal 12 Februari saya pesan tiket untuk Pekanbaru – Bengkulu untuk tanggal 5 Maret. Touring kali ini saya inginnya tektok aja PKU-BKL PP pada awalnya, tapi pada akhirnya berubah rencana bahkan sampai saat touring sedang berjalan.
Tiket PKU-BKL sudah aman, saatnya pesan tiket BKL-PKU. Nah, masalah muncul, sekitar 1-2 minggu setelah saya beli tiket PKU-BKL, PO SAN hilang dari RedBus sampai hari saya touring. Wah, kacau! Sempat terbesit untuk tidak jadi touring, tapiii,,,,,show must on. Akhirnya saya pasrah. Tiket dari Bengkulu tidak bisa pesan online dan hot seat lenyap. Hilang sudah satu bahan video untuk diunggah ke YouTube.

Touring etape kedua akhirnya saya lakukan menuju Padang saja. Jadi, tiba di Bengkulu, istirahat beberapa jam, lalu gas ke Padang naik tronton yang jadi primadona. Dari Padang, lanjut bus plat BL menuju Pekanbaru dan WAJIB MB 1626, kemungkinan sih naik Putra Pelangi. Jadi, saya gak jadi menginap di Bengkulu dan balik ke Pekanbaru dari Bengkulu. Tadinya saya mau begitu dan kenapa nginap? Karena takut gak ngejar bus balik ke Pekanbaru. Di RedBus aja waktu tempuh PKU-BKL 19 jam, atau taro lah sampe di Bengkulu jam 10-11, sementara bus BKL-PKU jalan jam 10. Kalo pun turun-naiknya di Curup atau Lubuk Linggau sih males amat, kalo gitu mah gak jadi ke Bengkulu (kota).

Oh iya, tiket saya ambil di Loket SAN Pekanbaru sekitar semingguan sebelum hari keberangkatan. Mengenai armada incaran, saya mengincar bodi tak bertopi dengan sasis Scania dengan transmisi Comfortshift. Yak, sudah bosan naik dan mendengar raungan mesin 12,7 liter dari Scania bertransmisi Opticruise. Kali ini pengen banget naik yang Comfortshift, entah itu K310 atau K360, pengen ngerasain aja beda dan sensasinya. Dapet K360 ya oke-oke aja, dapet K310 ya mantap, kapan lagi naik Scania dengan tipe yang beda. Dapet Volvo juga gak apa-apa deng, pengen buktiin mitos suspensinya Volvo yang katanya paling nyaman.

Saya juga sempet pengennya dapet O500RS 1836 dengan jumlah seat 34 yang muncul di IG-nya SAN dan dapet petunjuk kalo ini akan jadi line Bengkulu, walaupun gak ada petunjuk jadi line Bengkulu – Pekanbaru. Tapi akhirnya harapan ini kandas, karena sampai saya jalan, unit 1836 dari Brasil masih plat putih. Duhh sayang banget tuh, udah paling baru, 34 seat + leg rest pula.

Selasa, 5 Maret 2019

Siang hari di hari Selasa, mungkin sekitar jam setengah 2, saya lagi asyik makan junk food di Kolonel Sanders. Lagi enak makan, dapat telepon dari SAN Pekanbaru, katanya kumpul jam 3 di terminal BRPS. Saya yang lagi menikmati makan dengan syahdu pun menjadi gak nikmat makannya karena ngejar waktu jam 3 di BRPS. Saya sih udah tau kalo sekarang semua PO wajib menaikkan penumpang di terminal BRPS setelah Dishub mulai “turun gunung” beberapa hari sebelum saya berangkat. Info ini saya dapat dari grup WA. Yaaa,,,, bagus lah, jadi terminal kembali hidup.

Akhirnya saya percepat makan dan bergegas menuju halte bus TMP. Sekitar jam 3 kurang, saya baru naik TMP koridor 06 (Pandau – BRPS). Perjalanan cukup lancar dan hanya berhenti satu kali di halte Tabek Gadang. Selepas Tabek Gadang, penumpang hanya saya saja dan langsung ke terminal tanpa ada penumpang yang naik lagi.
15:17 akhirnya tiba di BRPS. Ternyata SAN yang menuju Bengkulu masih parkir dan belum masuk peron. Huft. Kalo tau jalan jam 4 juga, ngapain disuruh kumpul jam 3. Nah, armada yang saya akan naiki kali ini sesuai incaran, yaitu Scania K310 bodi SR-1. Mantul.
15:23 SAN Scania K310 SR-1 dengan nomer polisi BD 7225 AN “Gaza 12” masuk peron.
Gak lama masuk peron, saya langsung masuk ke dalam dan menuju singgasana saya di kursi terdepan. Voila! Hot seat mentok! Hot seat kiri mentok, sementara yang kanan lebih lega. Saya juga heran, kenapa Scania K310 bodi SR-1 ini ada kotak ECU di depan kursi 1 dan 2 ya kaya MB 1525/1526/1626 dan Hino RK. Padahal saya gak pernah nemu box ECU K360/K410 di dalam bus. Sangat disayangkan memang PO-PO yang “pelit” memberikan ruang lebih untuk leg room. Oke lah, rapopo. Untungnya saya duduk di kursi nomer 2, jadi masih bisa selonjorin kaki di lorong.
16:00 pas jam 4 SAN K310 mulai menaikkan jarum di panel instrumen.
Saya kira mah cuma rute antar pulau nya SAN aja yang pakai 4 kru (2 pengemudi, 2 asisten), eh ternyata rute kaya gini pakai 4 kru juga toh.
16:04 berhenti sebentar di loket SAN depan gerbang Stadion Utama Riau. Ternyata masih ada penumpang yang naik di loket, mungkin telat datang kali ya, dan ada yang sholat Ashar juga sih.
Saya kira bus menuju Bengkulu atau yang melewati Taluk Kuantan akan lewat Kubang, eh ternyata lewat jalan Soekarno Hatta juga toh. Jatuhnya muter sih. Sepanjang jalan sampai masuk Kampar, banyak naikin penumpang bertiket tapi naiknya di pinggir jalan yang dekat ke rumah mereka. Hmmmm tau gitu saya tadi naiknya di depan tokonya Kolonel Sanders aja.
17:05 Perhentian Raja. Goks namanya, Perhentian Raja. Nama daerah (kecamatan/kelurahan, lupa) terkece yang pernah saya temuin.
Di jalur ini banyak jalan lurusnya, tapi banyak juga jalan yang rusak. Kacau lah. Akhirnya saya langsung merasakan keganasan Scania K310 bertenaga 310 DK (daya kuda / horse power) dengan mesin 9000cc. Scania K310 dengan jumlah orang di dalam bus sekitar 40 ini cukup mudah menyalip kendaraan di depan berkat tenaganya walaupun tidak sebesar tenaga Scania K360 yang juga suka mengisi jalur ini.
Perpindahan transmisi manual di K310 Comfortshift ini cukup unik. Tuas transmisi bisa dipindah terlebih dahulu tanpa merubah angka percepatan / gigi. Percepatan baru berubah (naik/turun) saat pedal kopling diinjak. Cara seperti biasa kaya di mobil atau bus MB atau Hino juga pasti bisa. Melihat perpindahan transmisi manual yang anti-mainstream tersebut, sekaligus membuat saya membuktikan tweet @Bismaniaorg saat naik Harapan Jaya K380 tergarang dengan bodi Scorpion King (asli sangar/kece abis) pada Mei 2014 lalu (masih inget aja njir hahaha).
18:02 Lipat Kain
Scania ini cukup mumpuni melewati jalur eksotis nan ekstrim ini. Jalannya banyak yang tidak lebar atau sempit sekaligus turunan/tanjakan sekaligus berliku. Hah, perpaduan yang mantap, tidak banyak ruas jalan yang punya perpaduan jalan kaya gitu. Mantapnya, kiri kanan ini banyak hutannya, hutan sawit tapi hahahaha.
Sepanjang jalan dari Pekanbaru sampai sini, cukup banyak bertemu bus yang berlawanan arah. Semuanya bus berplat BK, seperti Medan Jaya, PMH, Makmur, dll. Mayoritas bus yang lewat juga kelas non-AC. Memang orang yang naik bus di rute Riau-Sumut ini masih banyak yang gak suka pakai AC. Jadi jangan heran kalo liat MB 1526, 1626, bahkan OC500RF 2542 dengan bodi bagus tapi tidak pakai AC.
19:01 Polsek Singingi Hilir
20:01 masuk Taluk Kuantan
Ada satu ruas jalan di pinggiran Taluk, kaya Ring Roadnya gitu lah, yang jalannya kacau. Sudah tidak ada penerangan, ehhh jalan Cuma bisa dipake sebelah. Payah lah Kuansing.
20:24 keluar Taluk Kuantan
20:47 Lubuk Jambi.
Bisa dibilang Lubuk Jambi ini daerah padat dan ramai terakhir sebelum masuk Sumbar, terutama di Kiliran Jao. Tidak lama lepas Lubuk Jambi, jalan cenderung berliku, sempit, naik turun, gelap, dan kiri kanannya hutan. Nah, di jalur ekstrim kaya gini nih biasanya jackpot atau penumpang yang muntah mulai muncul. Pantas pas mau jalan, kru membagikan plastik buat penumpang, persiapan jackpot.
Saya sempat mendengar percakapan kru kalo di sekitaran sini, di kabupaten Kuantan Singingi ini, mereka pernah mengalami stuck parah. Kemacetan total berjam-jam karena jalan terputus, jadi sangat telat sampai Pekanbaru. Untungnya sekarang maslah tersebut sudah teratasi.
21:17 masuk provinsi Sumatera Barat.
21:54 Simpang Kiliran Jao. Simpang 3 ini memisahkan jalan menuju Sawahlunto sampai Solok dan seterusnya, Dharmasraya menuju Muaro Bungo dan seterusnya, dan juga jalan yang saya lewati, yaitu Kuantan Singingi dan seterusnya menuju Rengat atau Pekanbaru.
22:02 melewati RM Palapa, rumah makan persinggahannya ANS dan Lorena (tidak aktif).
22:18 Sungai Dareh. Sedang ada pembangunan jembatan kedua yang bertujuan untuk memperlancar arus kendaraan pada saat ramai, seperti Lebaran. Kalo saat saya lewat sih, lancar, tapi kondisi aspalnya rusak, tetap harus lambat.
22:31 – 23:03 akhirnya, setelah 3,5 tahun lebih, saya kembali makan di RM Umega. Yak, terakhir ke Umega waktu naik NPM V05 saat masih berbodi Scorpion King generasi pertama.
Turun bus, langsung masuk ruang makan dan pesan nasi goreng. Malas makan nasi padang terus. Rasa nasi gorengnya lumayan, suiran telornya cukup banyak. Hanya saja ayamnya aja kurang gizi, masa dikasih ayam yang hampir gak ada daging hahahaha. Lepas makan, menunaikan kewajiban.
23:19 kres dengan SAN bodi SR-1 tujuan Pekanbaru. Scania K360 kayanya. Agak gimana gitu liat K360 jalan BKL-PKU. Tapi yaaa ngapain lah dipikirin, kan emang pengennya naik K310.

Rabu, 6 Maret 2019

00:35 Terminal Muaro Bungo
Setelah rumah makan ini saya banyak memejamkan mata. Padahal jalan sampai Lubuk Linggau banyak jalan lurus dan sepi, jadi bisa gaspol. Hal yang susah dirasakan di Lintas Timur.
00:53 kres dua unit SAN yang membawa rombongan. Ada 2542 dan SR-1 K360.
01:38 Bangko
01:45 melewati Terminal Pulau Tujuh, Bangko
02:25 kres Pandawa 87 Avante & HDD. Hmmm,,,,wait,,,,, Pandawa? Ke sini? Ngapain? Setelah saya tau saat cek IG, ternyata ini bawa rombongan (atlet bela diri kayanya) dari Jawa Timur. Mantul, auto mati rasa tuh kaki.
02:31 melewati Terminal Sarolangun. Di Sarolangun kalo ga salah, cukup gila juga ini driver tengah. Perut dibuat melayang gegara jalan naik lalu turun tapi kecepatan tidak dikurangi. Goks, sensasi luar biasa memang.
Nah, show time. Di jalan lurus ini, Scania K310 dipacu sampai top speed 110 kpj. Tidak bisa lebih dari itu mengingat suka bersilangan dengan kendaraan dari arah berlawanan dan belokan atau tidak tajam belokannya. Tapiiii goks lah. Dannnn ini juga memunculkan kemungkinan kalo sampai Bengkulu gak akan terlalu siang.
04:01 – 04:33 loket SAN Lubuk Linggau. Mantab, jam 4 sampai di Linggau. REKOR!!! 5 jam doang dari Umega ke Linggau. Iya sih, wajar, kan lewatnya pas tengah malam, jadi ya lancar. Kecuali kalo kaya pas naik NPM atau Lorena yang lewat sini pas hari terang di mana jalanan lebih ramai, terutama di kota.
Di loket ini jual sarapan pagi, ada lontong sama gorengan kalo ga salah dan tidak lupa kopi serta teh. Lumayan buat yang mau sarapan, tapi mungkin lebih tepatnya sahur kali ya hahaha. Saya kira mah bakal masuk RM Simpang Raya, taunya engga.
Selepas Lubuk Linggau atau masuk provinsi Bengkulu, saya lebih banyak memejamkan mata. Gak tau kenapa pas jam-jam segini mata berat amat buat melek. Tidur aja lah, jalannya berliku di sini, jadi lumayan bisa terhindar dari kemungkinan mabuk.
05:43 Polsek Sindang Kelingi
06:00 Rejang Lebong
Di sini, Curup dan Kepahiang, kabut cukup tebal. Ternyata daerah ini berada di dataran yang cukup tinggi, pantas berkabut. Dan kota ini memang indah dan enak dipandang saat pagi hari. Dan anggapan serta pikiran buruk saya tentang Curup yang seram akan aksi kriminal kok malah hilang ya pas lihat suasana kota atau jalanan yang dilewati bus ini.
07:55 Polsek Karang Tinggi
08:08 Polsek Talang Empat
08:26 akhirnya finish di loket atau kantor pusat SAN di Rawa Makmur atau jalan MT Haryono, kota Bengkulu.

Akhirnya, saya menapakkan kaki juga di Bencoolen. Di loket ini ternyata lagi terparkir armada paling fresh dari SAN, yaitu Mercedes Benz O500RS 1836 berbodi Legacy SR-2 XHD Prime. Cukup spesial karena armada ini akan berada di kelas Executive yang kursinya dilengkapi leg rest, sepertinya ini 34 seat. Kemungkinan akan mengisi line Bengkulu – Pekanbaru mungkin. Kalo Padang kan udah ada 2542, Jakarta via Barat sekarang isinya Scania, termasuk K360 S-Liner yang akan jalan jam 9 pagi ini.

Saya sih, walaupun bukan penumpang reguler atau langganan SAN Bengkulu – Pekanbaru, setuju kalo 1836 dengan 34 seat ini jadi armada BKL-PKU. Kalo bisa ini jadi trip berbeda, maksudnya BKL-PKU ada 2 kelas dan 2 trip gitu. Trip pertama ya 1836 dengan 34 seat ini dan trip kedua dengan Scania atau lainnya dengan 38 seat ke atas. Lah pas saya jalan ini aja penumpang penuh kok. Apalagi SAN memang yang paling rekomen di jalur Bengkulu.

Setibanya di pool, saya menuju tempat pembelian tiket untuk membeli tiket menuju Padang siang nanti. Tiket saya dapatkan dengan harga 235.000 dengan nomer kursi 23 atau 7C. Yak, susah memang untuk dapat hot seat atau kursi agak depanan pas go show begini. Tapi kayanya cucok lah posisinya, pas di samping pintu tengah. Jadi, gak pake lama buat keluar-masuk bus.

Silakan tonton video trip reportnya di https://youtu.be/G_pAfvxfNbU


DETAIL BUS

Bus: Siliwangi Antar Nusa (PT SAN Putra Sejahtera)
Nomer plat bus: BD 7225 AN
Kelas: Executive
Jurusan: Pekanbaru – Bengkulu
Tarif: 80.000 (setelah potongan di RedBus, aslinya 250.000)
Nomer kursi: 2 (1B)
Jumlah kursi: ±40
Merk kursi: Aldilla
Sasis: Scania K310iB Comfort Shift
Bodi: All New Legacy SR-1 (karoseri Laksana)
Fasilitas: AC, TV, audio, toilet, rec.seat, bantal, selimut, colokan listrik.
Waktu tempuh: 16 jam dan 26 menit.


PENILAIAN

+ Kru ramah
+ Joss suoss. Mantap sensasinya. Gak nyesal.
+ Pembelian tiket mudah dan tidak ada masalah

- Leg room untuk hot seat kiri sempit abis